rss
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites

Monday, February 21, 2011

BCA Revisi Laba Bersih 2010 Jadi Rp 8,3 Triliun

Manajemen PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) merevisi laporan publikasi bulanannya ke Bank Indonesia. Kesalahan terletak pada angka laba bersih 2010 sebesar Rp 7,3 triliun, padahal semestinya Rp 8,3 triliun.
Dengan perolehan laba bersih Rp 8,3 triliun, laba bersih BCA tercatat naik 22,05% dibandingkan pencapaian 2009 sebesar Rp 6,8 triliun.

Semula dalam laporan yang dipublikasikan BI pagi tadi, laba BCA tercantum sebesar Rp 7,3 triliun. Namun sore ini, BI sudah mengoreksi laba BCA menjadi Rp 8,3 triliun, setelah manajemen BCA melakukan koreksi. Untuk pos-pos pendapatan lainnya tidak ada perubahan.

Laba bersih ini didorong oleh pendapatan bunga bersih sepanjang 2010 yang mencapai Rp 13,48 triliun. Hasil pengurangan pendapatan bunga sebesar Rp 20,55 triliun dengan beban bunga Rp 7,07 triliun.

Selain itu, laba bersih BCA juga terbantu dari pendapatan operasional BCA di luar bunga yang cukup tinggi sepanjang 2010 yakni Rp 8,25 triliun. Ini didapat antara lain dari keuntungan jualan surat berharga Rp 1,7 triliun, dan dividen, keuntungan dari penyertaan dengan equity method, komisi/provisi/fee dan administrasi Rp 4,5 triliun.

Di sisi lain, BCA juga membukukan beban operasional di luar bunga sebesar Rp 11,42 triliun, dengan Rp 4,2 triliun di antaranya untuk tenaga kerja.

Astra Int'l to spend $1.3-$1.4 bln for capex in 2011

Indonesia's largest automotive distributor PT Astra International will spend $1.3-$1.4 billion for capital expenditure in 2011, up from $900 million last year, said President Director Prijono Sugiarto on Monday.

He said the firm expects sales growth will be 5-10 percent this year, with car sales at 800,000 units in 2011.

It aims to expand in palm oil, coal and infrastructure, he added.Source: Reuters

BCA Q4 2010 net profit slides 29 pct

* BCA's FY 2010 net profit at 7.3 trln rph-cbank
* BCA's FY 2010 net interest income at 13.48 trln rph
* BCA's Q4 2010 net profit down 29 pct to 1.23 trln rph

PT Bank Central Asia, Indonesia's biggest lender by market value, saw 2010 fourth quarter net profit slide 29 percent as net interest income dropped and competition for consumer loans grew. 

Indonesia's banking sector is expected to profit from loan growth of more than 20 percent this year in Southeast Asia's biggest economy, but disappointing fourth quarter results by some lenders underscore investor concerns that a rally in banking stocks has been overdone. 

BCA, controlled by one of the nation's wealthiest business empires Djarum Group, earned 1.23 trillion rupiah ($138.9 million) in the fourth quarter, versus 1.72 trillion in the period a year earlier, based on a Reuters calculation from a full year figure. 

"The result is disappointing," said Ikhsan Binarto, an analyst at Indopremier Securities in Jakarta. "But I think BCA will gain momentum this year as the central bank is starting to increase the interest rate." 

BCA said last year it expected loan growth of about 20 percent in 2011. 

The bank's full year profit was up 7.4 percent to 7.3 trillion rupiah, according to an unaudited financial report on the central bank's website on Monday. This missed expectations by 22 analysts polled by Thomson Reuters I/B/E/S for full-year 2010 net profit of 8.13 trillion rupiah. 

The bank's full year net interest income was down 10 percent to 13.48 trillion rupiah.
Indonesia's economy beat expectations in the fourth quarter to grow 6.9 percent from a year ago, the fastest pace in six years, though investors took profits in January from last year's 46 percent rally in the benchmark stock index on worries over building inflation and high valuations. 

BCA shares were up 1.6 percent by 0650 GMT on Monday, but have slipped 2 percent this year. 

BCA shares fell 4.5 percent in the fourth quarter, outperforming a near 10 percent drop for the biggest state lender Bank Mandiri in the same period, but lagging an index rally. 

Mandiri posted a 14 percent slump in fourth quarter 2010 net profit, as higher provisioning may have squeezed earnings, according to Reuters calculations based on government figures. ($1 = 8857.5 Rupiah). Source: Reuters

BCA 2010 net profit up 7.4 pct, misses forecast

PT Bank Central Asia , Indonesia's biggest lender by market value, saw 2010 net profit up 7.4 percent, according to an unaudited financial report on the central bank's website on Monday.

BCA, controlled by one of the nation's wealthiest business empires, Djarum Group, earned 7.3 trillion rupiah ($824 million)in 2010. That compared with a net profit of 6.8 trillion rupiah in the year-ago period.

However, the profit missed expectations by 22 analysts polled by Thomson Reuters I/B/E/S for full-year 2010 net profit of 8.13 trillion rupiah.

BCA said last year it expected loan growth of about 20 percent in 2011.

BCA shares fell 4.5 percent in the fourth quarter, outperforming a near 10 percent drop for the biggest state lender Bank Mandiri in the same period, but lagging a 5.8 percent gain in the benchmark Jakarta index . ($1 = 8857.5 Rupiah). Source: Reuters

Indosiar Segera Merger dengan SCTV

Pemilik stasiun Indosiar, yakni Grup Salim akhirnya memutuskan untuk menggabungkan usaha PT Indosiar Karya Media Tbk (IDKM) dengan  PT Surya Citra Media Tbk (SCTV) yang merupakan anak usaha dari PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK).

Pengumuman rencana itu disampaikan oleh Direktur Utama Indosiar Handoko dalam keterbukaannya informasinya kepada Bursa Efek Indonesia, Senin (21/2). Menurut Handoko, rencana merger Indosiar dengan SCTV telah diputuskan dan disetujui oleh dewan komisaris IDKM pada 18 Februari 2011.

"Dewan Komisaris perseroan pada rapat dewan komisaris Jumat 18 Februari 2011 sebagaimana tertuang dalam berita acara rapat dewan komisaris No.01/IKM-BOC/II/2011 mendukung rencana merger tersebut sepanjang dilakukan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku," tutur Handoko.

Namun, Handoko belum memaparkan bagaimana skema merger tersebut, apakah dengan melakukan tukar saham atau saham IDKM dibeli oleh SCTV atau EMTK. Sebelumnya, beredar berita bahwa pemilik TV5 Filipina ingin mengakuisisi Indosiar. TV5 sebetulnya juga dimiliki oleh Grup Salim. Indosiar juga sempat diminati oleh Chairul Tanjung, pemilik Trans TV dan Trans Tujuh. Namun minat Chairul Tanjung itu terganjal oleh ketidaksepakatan harga dan keengganan pemilik Indosiar untuk menjual sahamnya. 

Ace Hardware Buka Gerai Terbesar di Alam Sutera

Pusat penyediaan perlengkapan rumah tangga dan gaya hidup, Ace Hardware, membuka gerai terbesar di Indonesia seluas 15.000 m2 di Alam Sutera, Tangerang, dengan investasi sekitar Rp 100 miliar.

"Untuk pembukaan gerai baru itu investasi kami sekitar Rp 100 miliar, kami harapkan penjualannya juga minimal sebesar itu supaya cepat kembali, jangan merugi. Selama ini semua gerai Ace selalu untung," kata Komisaris PT ace Hardware Indonesia Tbk (ACES) Tjiptono Darmadji melalui siaran pers di Jakarta, Minggu.

Gerai terbesar yang dibuka pada Jumat (18/2) itu menyediakan 75 ribu jenis produk perlengkapan rumah tangga. Berbeda dengan gerai-gerai yang sudah ada, jarak antar rak dibuat lebih lebar.

Tjiptono menargetkan penjualan gerai Ace Hardware terbesar itu mencapai 5% dari total penjualan 46 gerai di Indonesia, dengan target penjualan sebesar Rp 2 triliun tahun ini. Pada 2010, penjualan Ace Hardware diperkirakan menyentuh angka Rp 1,67 triliun.

Ia optimistis gerai baru di Alam Sutera itu bisa menyumbang penjualan hingga Rp 200 miliar. "Ace di Artha Gading (Jakarta Utara) saja bisa mendapat penjualan Rp10 miliar per bulan, minimal di sini (gerai di Alam Sutera) Rp 200 miliar," katanya.

Tjiptono mengatakan pihaknya juga akan menambah gerai baru hingga mencapai 100 toko dalam 8 - 10 tahun ke depan. Jumlah itu sama dengan tambahan 54 gerai dari total 46 gerai saat ini.

Pada 2011 PT Ace Hardware Indonesia Tbk, lanjut dia, berencana membuka enam gerai baru dengan total luas area sebesar 29.000 m2, di Jakarta, Surabaya, Solo, Manado dan Makassar. "Salah satu tokok tersebut adalah gerai Ace Hardware terbesar di Alam Sutera," katanya.

Lebih jauh Tjiptono mengatakan ekspansi gerai yang dilakukan Ace Hardware juga sejalan dengan rencana pengembangan gerai ritel furniture di bawah PT Home Center Indonesia yang merupakan bagian dari PT Kawan Lama Sejahtera, sebagai pemegang saham terbesar Ace Hardware.

Pihaknya menargetkan penambahan enam gerai baru untuk ritel furniture dengan merek Informa itu dilakukan sepanjang tahun ini. "Luasan gerai Informa biasanya dua kali lipat dari Ace. Kira-kira total luas gerai baru (Informa) sekitar 50.000m2 untuk tahun ini," kata Tjiptono.

Rekomendasi HD Capital, 21 Februari 2011

Berikut rekomendasi HD Capital untuk perdagangan Senin, 21 Februari 2011. Rekomendasi beli untuk saham Telekomunikasi Indonesia (TLKM), Indofood Sukses Makmur (INDF), PT Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA), Adaro Energy (ADRO).

BUY:  TLKM, INDF, PTBA, ADRO,
  • Penutupan IHSG di atas level psikologis 3.500 confirm bahwa down-trend channel sudah break dan arah selanjutnya adalah mengetes resistance berikutnya di 3.550-3.600
  • Beberapa emiten sector consumer dengan valuasi menarik di bawah PER 15x, dan batubara dimana analis optimistis akan terjadi earnings upgrade patut dilirik.
  • IHSG close (18-02) 3.501.50 (+67.12/+1.95%) (Val.Rp.4.2T)
  • Support: 3.440-3.370-3.310, Resistance: 3.550-3.650

Stock picks:

1.    Telekomunikasi Indonesia (TLKM): (BUY) (Target: Rp 7.800) (close 18/02 Rp 7.450)
  • Valuasi PER 2011F 10x/PBV 2.5x dan EBITDA margin di atas 55% (tertinggi di sektornya dengan posisi kedua dipegang oleh Excelcomindo) membuat saham yang sudah lama terjebak dalam pola konsolidasi menarik untuk diakumulasi dengan skenario antisipasi breakout ke Rp 7.800.
  • Entry: (1) Rp 7.450, Entry (2) Rp 7.350, Cut loss point: Rp 7.200

3.   Indofood (INDF) (BUY): (Target: Rp 4.900)(Close 14/01 Rp 4.725)
  • Kenaikan harga komoditas gandum sepanjang 2010 tidak berdampak signifikan ke pertumbuhan laba seperti ditakutkan banyak orang
  • Potensi kenaikan harga mie instan sebesar 5-10% (Rp.25-50) di tahun ini belum priced in
  • Kenaikan sebesar 0.5% atau 1% pada harga jual mie berdampak pada kenaikan pendapatan perusahaan hingga 4 -8%
  • Skenario ini membuat profit 2011 dapat naik 20% dengan kenaikan jual harga mie Rp 25 dan 80% untuk kenaikan Rp 50.
  • Entry: (1) Rp 4.700, Entry (2) 4.600, Cut loss point: Rp 4.450

3.   ADRO Energy (ADRO) (BUY): (Target: Rp 2.600) (Close 18/02 Rp 2.425)
  • Keberhasilan kembali ditutup di atas level Rp 2.400 (price gap lama) menandakan akan ada pergerakan untuk mencoba mengetes down-trend-line lama di Rp 2.550 sehingga dapat terjadi perubahan tren kearah positif untuk jangka pendek.
  • Adjustment ke ASP (harga rata2 penjualan batubara) yang baru di awal 2011 dapat menaikkan proyeksi laba analis sehingga menurunkan valuasi PER/PBV 2011F yang masih tinggi (di atas 15x)
  • Entry: (1) Rp 2.425, Entry: (2) Rp 2.350, Cut loss point: Rp 2.275

4.    Perusahaan Bukit Asam (PTBA): (BUY) (Target: Rp 21.400) (Close 18/02 Rp 19.650)
  • Beberapa katalis seperti proyek rel kereta api dua jalur yang diperkirakan rampung sebagian di 2012 sehingga produksi bisa naik 2 kali lipat, dan kenaikan harga jual batubara akibat kenaikan ASP (average selling price) masih berjalan untuk mengembalikan emiten ini di atas level psikologis Rp 20.000.
  • Entry: (1) Rp 19.600, Entry (2) Rp 19.300, Cut loss point: Rp 18.700


Dibuat oleh:
Yuganur Wijanarko
Senior Research HD Capital. (Yuganur@hdx.co.id)

Saturday, February 19, 2011

Indofood Jajaki Salim Ivomas Pratama IPO

PT Indofood Sukses Makmur (INDF) tengah menjajaki untuk meng-IPO-kan anak usahanya kembali, yakni PT Salim Ivomas Pratama (SIMP). INDF tercatat memiliki 60,4% saham Salim Ivomas, perusahaan yang bergerak di bidang agribisnis.

Sebelumnya, anak usaha INDF, yakni Indofood Consumer Branding Product (ICBP), produsen mie instan, bumbu makanan, dan makanan ringan telah IPO.

Direktur sekaligus Sekretaris Perusahaan INDF Werianty Setiawan dalam keterbukaan informasinya kepada Bursa Efek Indonesia, mengatakan, bila rencana penawaran umum terlaksana, SIMP akan tetap menjadi anak usaha perseroan. 

Rencana penawaran umum saham tergantung kepada, antara lain, persetujuan dari pihak-pihak berwenang yang terkait, persetujuan para pemegang saham bila disyaratkan, dan kondisi pasar. "Tidak ada kepastian apakah rencana IPO SIMP akan dilaksanakan. Oleh karena itu, pada saat ini perseroan belum dapat memberikan informasi terperinci sehubungan dengan rencana penawaran umum saham," jelas dia.

Menurut Wellianty, perseroan akan menyampaikan informasi lebih lanjut atas perkembangan yang penting mengenai hal ini pada saatnya nanti.

Harum Energy Targetkan Produksi Naik 41,8%


PT Harum Energy Tbk (HRUM) sebuah perusahaan yang bergerak di bidang usaha pertambangan batu bara dan logistik, menargetkan kenaikan produksi hingga 41,8% menjadi 10,5 juta ton dari estimasi tahun lalu sebesar 7,4 juta ton.

Corporate Secretary HRUM Alexandra Mira, di Jakarta, Jumat (18/2), mengatakan, kenaikan ini seiring ekpektasi mulai berproduksinya anak usaha perseroan, PT Tambang Batubara Harum. "Target kami tahun 2011, antara lain peningkatan jumlah produksi, peningkatan efisiensi produksi batubara dan peningkatan utilisasi infrastruktur yang sudah tersedia," kata dia.

Untuk mencapai target itu, ia mengatakan, perseroan menganggarkan dana belanja modal (capital expenditure /capex) sebesar US$ 30 juta untuk memperlancar jalan angkut batubara, penyelesaian infrastruktur pengolahan batubara, dan penambahan armada pengangkut batubara.

Dikatakan, anggaran dana capex perusahaan itu berasal dari dana internal dan ditambah dari dana penawaran saham umum perdana (initial public offering/IPO) perseroan tahun lalu.

Seperti diketahui, dana yang dihimpun dari penawaran saham baru itu sebesar Rp 1,040 triliun. Hingga akhir Desember 2010, dana sisa IPO mencapai Rp 490,5 miliar.

Friday, February 18, 2011

UPDATE 1-Indonesia's January tin exports gain 8 pct yr/yr

* World's top exporter cashes in on record tin prices
* London tin may hit $50,000/T in 2011 - analyst

Indonesia's refined tin exports rose 8.3 percent in January from the same month in 2010 as exporters rushed to take advantage of record high global tin prices, the trade ministry said on Thursday. 

Falling supply in the last year from Indonesia, the world's top exporter, has driven benchmark London tin prices to record prices, and they reached a new high on Tuesday.
Indonesia shipped 7,334.65 tonnes of refined tin in January, compared with 6,774.57 tonnes a year earlier, trade ministry data showed. 

"Exports were higher compare to January 2010 because exporters rushed to ship the metal because of record prices," said Junaedi, head of mining exports at the trade ministry. 

Benchmark tin on the London Metal Exchange traded at $32,000 a tonne at 0829 GMT, well within reach of Tuesday's record high of $32,799 a tonne. 

Indonesia, which supplies nearly 30 percent of the world's tin, produced an estimated 105,000 tonnes in 2010. 

Last month, a senior mining official said Southeast Asia's largest economy will limit annual output to a maximum of 100,000 tonnes if record high prices set off a scramble for the metal. 

"It could be that they are maintaining production at a fairly steady state, and they said earlier they don't want to exceed the 100,000 tonne level," said Credit Agricole analyst Robin Bhar. "These exports could well be coming from metal held in inventory that wasn't exported last year. 

"It's quite a big jump ... Does this really change the dynamics of the markets? Probably not -- Indonesia is not seeing huge hikes in output, and neither is China." 

Earlier this week, Indonesia's state-owned PT Timah , the world's largest integrated tin miner, estimated its refined tin production this year at between 37,000 and 40,000 tonnes, up to eight percent down on last year. 

Tin consultants ITRI last month estimated 2010 global tin consumption at 360,300 tonnes, up 12.5 percent. 

Demand for the metal, used in electronics, plating and lead-free solders, is seen rising in the coming years, while analysts have for months forecast that Indonesian output will fail to keep pace due to a lack of investment in mining. 

In addition, a crackdown on illegal mining since 2006, tighter export regulations, as well as declining onshore reserves and rainy weather, have all hindered production in Indonesia.
"The thing with tin demand, unlike copper demand, you can't easily substitute," added Bhar. "Our forecasts is for around about $28,000-$29,000 (a tonne) average." 

"In terms of trading, we could trade higher towards $40,000-$45,000 -- who knows, we may even see $50,000." Source: Reuters

Russia's Solway confirms $3 bln nickel smelter investment in Indonesia

Russia's Solway Group on Thursday confirmed plans to build an Indonesian nickel smelter with the capacity to produce 50,000 tonnes of the metal a year. 

"We expect to start production in 2014," said Vasily Tsarev, consulting partner for Solway in Indonesia, adding that capacity could be expanded to 80,000 tonnes. 

Hatta Rajasa, Indonesia's chief economic minister said on Monday that the Russian firm planned to invest $3 billion to build the smelter on Halmahera island in eastern Indonesia, a sign of growing interest by investors in the country's mineral processing industry. 

The firm will feed the plant with nickel ore from its concession on the same island, which has confirmed resources of 50 million metric tonnes ore, said Tsarev 

"But resources can range between 110-115 million tonnes when we do further exploration," he said, adding the firm is looking to acquire nickel mines on Sulawesi island. 

Indonesia currently produces ferro-nickel from three smelters operated by Aneka Tambang, and nickel-in-matte from smelters operated by PT Inco Tbk , a unit of Brazil's Vale . 

French's Eramet , the world's sixth-largest nickel producer, has a nickel project on Halmahera in a joint venture with Indonesian state miner PT Aneka Tambang Tbk .
Aside from the nickel smelter, privately owned Solway plans to build a 400 MW coal-fired power plant which will be used to power the smelter, said Tsarev. 

The firm will burn low-quality coal with heating value 5,000-5,500 kcal/kg for the power plan which will be supplied by its coal concession in West Papua, he said. 

Indonesia, the world's top exporter of tin and thermal coal, is keen to increase revenue from the mining sector. Under a new mining and coal law, miners must by 2014 carry out a minimum of processing before exporting, including on nickel. 

Indonesia's mining sector attracted 53 trillion rupiah or $6 billion in bank financing up to September 2010, versus the 14 trillion rupiah that banks loaned to the industry in 2006, central bank figures show, despite uncertainties over the country's new mining law. 

Foreign direct investment as a whole is growing into Southeast Asia's biggest economy, as investors eye its mineral wealth, booming domestic consumption and increased stability, despite concerns over rampant corruption, red tape and inadequate infrastructure. Source: Reuters

Bumi expects 2013 coal output over 110 mln T

PT Bumi Resources (BUMI), Asia's largest thermal coal exporter, expects to produce more than 110 million tonnes in 2013, or 64 percent higher than this year's forecast output, a company director said on Thursday.


"Expansion projects to achieve the 2013 target are already under execution," Dileep Srivastava, a Bumi director, told Reuters. "The strategic principle we are adopting is to build for over capacity across our entire coal supply chain."

Bumi will become a unit of Bumi Plc, to be listed in London after a $3 billion deal with Nathaniel Rothschild's Vallar Plc in November. Source: Reuters

Copper Rebounds From Two-Week Low as U.S. Growth Signals Increasing Demand

Copper rebounded from a two-week low as improving U.S. economic data signaled that the recovery will continue to strengthen and lift metals demand. 

Manufacturing in the Philadelphia region expanded in February at the fastest pace in seven years, and an index of U.S. leading indicators rose in January for a seventh straight month, separate reports showed today. The metal has jumped 38 percent in the past year as miners struggled to keep pace with increasing global consumption. 

“Copper has good fundamentals, and the uptrend in prices is still intact,” said Rich Ilczyszyn, a senior strategist at Lind-Waldock, a broker in Chicago. 

Copper futures for May delivery rose 1.45 cents, or 0.3 percent, to close at $4.497 a pound at 1:24 p.m. on the Comex in New York. Earlier, the price touched $4.4275, the lowest for a most-active contract since Jan. 31. 

Futures touched a record $4.6575 on Feb. 15. The metal will make new highs within a month, Ilczyszyn said. 

The global copper market’s surplus narrowed to 20,000 metric tons last year from 410,000 tons in 2009, the World Bureau of Metal Statistics said yesterday. The average output of the world’s 10 largest publicly traded mining companies fell 4 percent in 2010 from a year earlier as ore grades declined, RBS Global Banking and Markets said in a report last week. 

On the London Metal Exchange, copper for delivery in three months dropped $37, or 0.4 percent, to $9,805 a ton ($4.45 a pound). 

Tin fell 2.6 percent to $31,650 a ton on the LME, the biggest decline since Nov. 22. Lead and nickel also dropped. Aluminum and zinc gained. Source: Bloomberg

Indonesian Tin Output May Slump, Executive Forecasts

Tin output from Indonesia, the world’s largest exporter, may drop for a second year as flooding caused by a La Nina weather event cuts the supply of ore, according to an industry executive from the top-producing region. 

Refined-tin output may total 60,000 to 70,000 metric tons this year, Johan Murod, a director at PT Bangka Belitung Timah Sejahtera, a group of eight smelters, said in an interview. That compares with a Jan. 6 government forecast for output of 90,000 tons this year and last year’s production of 78,965 tons. 

The forecast plunge in output may exacerbate a global shortfall in the metal used in packaging and as solder, further boosting prices that surged to a record earlier this week. Standard Bank Plc’s Leon Westgate said last month that tin has the biggest supply-demand imbalance of all base metals, with “significant deficits” forecast for 2011 and 2012. 

“The weather anomaly has caused heavy rains since the middle of last year and there’s no sign it will stop anytime soon,” Murod said yesterday in Pangkal Pinang, Bangka Belitung province. The rains flooded mines, with miners able to work only two or three days a week instead of the usual six, he said. “Sometimes they cannot work at all.” 

Tin was the best performer of the six main base metals on the London Metal Exchange last year, jumping 59 percent, as supplies from China, Indonesia and Africa fell. The three-month contract peaked at $32,799 a ton on Feb. 15 and was unchanged at $32,500 at 3:03 p.m. in Singapore, reversing an earlier drop. Malaysia Smelting Corp. has said the metal may jump to $40,000.

‘Quite Substantial’

An output forecast that’s 30,000 tons “lower than earlier government estimates does seem to be quite substantial,” said Xin Yi Chen, a Singapore-based analyst at Barclays Capital. “To the extent that Indonesian production does reduce by 30,000 tons from what has been forecast, it is clear that the price signal will have to rise further to ration demand.” 

Murod’s comments add to signs that the La Nina, which has also caused heavy rains in Australia, is hurting commodity output from Southeast Asia’s biggest economy. The rains have been blamed for reduced production of coal, palm oil and rubber, driving prices higher, with rubber at a record in Tokyo. 

“No one can precisely predict the weather, it’s just something that’s out of our reach,” Murod said, forecasting that prices may trade between $32,000 and $35,000 per ton this year. A new law that restricts small-scale miners to working only river banks had also reduced the supply of ore to 30 private smelters in Bangka Belitung, Murod said.

Global Deficit

There was a 14,000-ton global deficit last year, the biggest since 2004, Standard Bank’s Westgate wrote in a note last month that correctly forecast a jump in prices to more than $30,000. Output from the small producers in Indonesia has been hit by the 2009 law that requires miners to obtain permits, as well as by crackdowns on illegal output, the report said. 

Refined-tin output from Bangka Belitung Sejahtera may slump to 12,000 tons in 2011 from about 20,000 tons last year because of limited ore supply from small-scale miners, Murod said. 

Output from PT Timah, Indonesia’s largest producer, may drop for a fourth year in 2011 to between 37,000 tons and 40,000 tons as bad weather disrupts mining, Corporate Secretary Abrun Abubakar said last month. The company said on Feb. 7 it produced 40,413 tons last year from 45,086 tons in 2009. 

Output at PT Koba Tin fell to 6,900 tons last year from 7,337 tons in 2009, Wachid Usman, president director of state- owned Timah, said Feb. 7. Timah owns a 25 percent stake in Koba Tin and Malaysia Smelting holds the rest. 

Tin may rally to as much as $40,000 per ton as global supply may lag behind demand until 2013, Malaysia Smelting Group Chief Executive Officer Mohd. Ajib Anuar said last month. Demand was climbing, new mines may take longer than expected to start up and ore quality may drop, Anuar said.Source: Bloomberg

Volume Ekspor Timah Batangan Januari Melonjak

Ekspor timah batangan selama bulan Januari 2011 mencapai 7.334,65 ton dengan nilai US$ 185,27 juta. Volumenya lebih rendah namun nilainya lebih tinggi jika dibandingkan Desember 2010.

"Karena harga sedang tinggi," kata Kepala Sub Direktorat Ekspor Barang Tambang Kementerian Perdagangan Djunaedi di Jakarta, Kamis (17/2).

Menurut data Kementerian Perdagangan, ekspor timah batangan selama Desember 2010 sebanyak 7.722,01 ton dengan nilai US$ 187,75 juta. Sementara bila dibandingkan dengan periode Januari 2010 yang sebanyak 6.774,57 ton dengan nilai US$ 102,90 juta, ekspor timah batangan selama Januari 2011 lebih tinggi dalam nilai dan volume.

Menurut Djunaedi, ekspor timah batangan selama Januari 2011 dilakukan oleh 34 eksportir terdaftar dengan negara tujuan Singapura, Malaysia, Jepang, Korea, AS, Belanda, Thailand, Turki, Taiwan, India, Australia, dan Filipina.

Ekspor timah batangan paling banyak dilakukan ke Singapura (5.688,81 ton), disusul Malaysia (714,99 ton) dan Jepang (412,09 ton). Sedangkan negara yang paling sedikit mengimpor timah batangan dari Indonesia tercatat Filipina (15,25 ton), Australia (20,53 ton) dan India (24,30 ton).

Lebih lanjut Djunaedi menjelaskan, pemerintah sampai sekarang masih membahas penataan kembali aturan perdagangan timah melalui revisi Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 4 tahun 2007 tentang ekspor timah batangan.

Revisi peraturan menteri perdagangan itu dilakukan dengan mengacu pada undang-undang nomor 4 tahun 2009 tentang pertambangan mineral dan batubara (Minerba). "Itu ditujukan untuk mencegah perdagangan, ekspor dan pertambangan timah secara ilegal," katanya.

Usul yang mengemuka dalam pembahasan revisi aturan ekspor timah, menurut Djunaedi, antara lain perlunya pengaturan perdagangan timah antar provinsi dan pembuatan laporan surveyor dalam bongkar muat barang tambang tersebut.

Rekomendasi Beberapa Sekuritas, 18 Februari 2011


Berikut adalah rekomendasi dari dua sekuritas untuk perdagangan Jumat, 18 Februari 2011.
 
1. E-Trading Securities
Pada perdagangan Kamis (17/2), IHSG masih bergerak sideways dan ditutup naik 17 poin (0,51%) ke level 3.434. Asing kemarin melakukan net buying Rp 411 miliar dengan sektor yang paling banyak dimasuki adalah otomotif dan perbankan.  Secara teknikal,  indeks masih berada dalam fase konsolidasi. Sedangkan pada perdagangan hari ini, indeks akan bergerak di kisaran 3.346-3.489. Cermati ASII, BBTN dan INTP.

2. Erdhika Sekuritas
Di tengah penguatan indeks kemarin, tiga sektor melemah yakni, perkebunan, konsumsi dan keuangan masing-masing 1,56%, 0,93% dan 0,17%. Hari ini indeks diperkirakan bergerak pada kisaran 3.419-3.456. INTP, SMGR, MNCN, JSMR menjadi saham-saham pilihan kami.




Rekomendasi HD Capital, 18 Februari 2011

Untuk Jumat, 18 Februari 2011, HD Capital merekomendasikan Krakatau Steel (KRAS), United Tractor (UNTR), London Sumatera (LSIP), dan Garuda Indonesia (GIAA) untuk dibeli.
BUY: (KRAS, UNTR, LSIP, GIAA)
  • Penutupan IHSG di atas down-trend-line 3.430 selain memberikan sinyal buy ke daily stochastic dan MACD, membuka ruang lebih keatas dan merubah arah short term trend dari turun ke naik dengan target atas pertama breakout channel di 3.550-3.600.
  • IHSG close (17-02) 3.435.640(+19.309/+0.53%) (Val.Rp.2.9T)
  • Support: 3.430-3.380-3.250, Resistance: 3,475-3,550-3,620
 
Stock picks:
1.      United Tractors (UNTR): (BUY) (target: Rp 24.200) (close 17/02 Rp 23.100)
  • Beberapa komponen untuk menaikkan proyeksi laba pada 2011 hingga 33% seperti penjualan alat berat ke sektor konstruksi dan mining serta kontribusi dari unit batubara Pama, serta sentimen positif dari kenaikan harga batubara dan minyak yang melebihi rata-rata 2010 lalu belum sepenuhnya tecermin dalam harga saham.
  • Entry (1) Rp 22.500, Entry (2) Rp 21.700, Cut loss point: Rp 20.900
 
2.   Krakatau Steel (KRAS) (BUY): (Target: Rp 1.100) (Close 17/02 Rp 1.050)
  • Pelaku pasar mulai antisipasi para produsen baja yang diperkirakan akan menaikkan harga jual baja seiring dengan kenaikan harga jual rata-rata batubara (ASP).
  • Hal ini diperkirakan dapat menaikan operating profit margin KRAS dimana kenaikan harga jual akan offset cost produksi.
  • Entry (1) Rp 1.040, Entry (2) Rp 1.020, Cut loss point: Rp 1000
 
3.   London Sumatra (LSIP) (BUY): (Target: Rp 11.300) (Close 17/01 Rp 10.600)
  • Beberapa katalis positif seperti optimisme proyeksi kenaikan harga jual CPO 2011 yang naik dari RM 3,500 ke RM 4,000 akibat cuaca buruk dan produksi minyak kedelai yang turun, land bank untuk ekspansi 5 tahun kedepan, kontribusi dari karet, serta valuasi PER 2011F 14x yang kompetitif belum dicerna oleh harga saham yang sempat terkoreksi ke level oversold (jenuh jual) ini.
  • Rekomen akumulasi untuk technical rebound
  • Entry: (1) Rp 10.600, Entry (2) 10.300, Cut loss point: Rp 10.150
 
4.   Garuda Indonesia (GIAA) (BUY) (Target: Rp 650) (close 17/01 Rp 570)
  • Bila mengacu pada harga median (tengah) pasar gelap yang teciptakan sebelum listing dari tertinggi Rp 800 hingga terendah Rp 500, maka nilai wajar Garuda menurut mekanisme pasar seharusnya di Rp 650 sehingga ada kesempatan untuk melakukan arbitrase di sini
  • Entry: (1) Rp 570, Entry (2) Rp 550, Cut-loss point: Rp 540
 
 
Dibuat oleh:
Yuganur Wijanarko
Senior Research HD Capital (Yuganur@hdx.co.id)

Thursday, February 17, 2011

Laba Bersih CIMB Niaga 2010 Naik 62%

PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) berhasil membukukan perolehan laba bersih konsolidasi per Desember 2010 sebesar Rp 2,55 triliun, naik 62 persen dibanding periode yang sama tahun 2009 sebesar Rp 1,57 triliun.

"Hal ini menghasilkan earning per share (EPS) sebesar Rp 106,46 lebih besar dari angka tahun sebelumnya yang sebesar Rp 65,52," kata Presiden Direktur CIMB Niaga Arwin Rasyid di Jakarta, Kamis (17/2).

Menurut dia, naiknya pendapatan bunga bersih sebesar 16% dan turunnya biaya pencadangan sebesar 28% pada 2010, ikut mendongkrak perolehan laba bersih CIMB Niaga. Selain itu, efisiensi yang dilakukan juga turut menurunkan cost to income ratio dari 50,54% menjadi 48,20% pada 2010.

Total aset Bank CIMB Niaga tercatat sebesar Rp 143,65 triliun, naik 34% dibanding periode yang sama 2010 sebesar Rp 107,10 triliun. "Ini memantapkan posisi Bank CIMB Niaga sebagai bank terbesar kelima di Indonesia dari sisi aset," katanya.

CIMB Niaga juga menghimpun dana pihak ketiga sebesar Rp 117,83 triliun, naik 37% dari periode yang sama tahun lalu Rp 86,25 triliun. Deposito berjangka meningkat sebesar Rp 19,62 triliun (42%) dan giro plus tabungan meningkat sebesar Rp 11,96 triliun (30%).

Meningkatnya dana pihak ketiga diimbangi dengan naiknya penyaluran kredit. Hingga 31 Desembe 2010 CIMB Niaga mampu memperbesar pertumbuhan kredit sebesar Rp 21,50 triliun menjadi Rp 104,89 triliun. "Pertumbuhan kreedit ini kami barengi dengan meningkatnya kualitas aset, dengan NPL gross turun dari 3,06% menjadi 2,53%, sementara LDR tercatat sebesar sebesar 88,04%," kata Arwin.

Laba Bersih Bank Danamon Tahun 2010 Melonjak 88%

PT Bank Danamon Indonesia Tbk (Danamon) hari ini mengumumkan laba bersih setelah pajak (NPAT) konsolidasian sepanjang 2010 sebesar Rp 2,88 triliun, naik 88% dari Rp 1,53 miliar tahun sebelumnya. Lonjakan perolehan laba bersih ini didukung oleh pendapatan non bunga, selain dari pertumbuhan kredit di semua segmen nasabah khususnya usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

“Kondisi ekonomi makro Indonesia sepanjang tahun 2010 kondusif bagi pertumbuhan kredit kami di semua lini usaha,” kata Henry Ho, direktur utama Danamon. Pada akhir Desember 2010, total kredit Danamon mencapai Rp 82,65 triliun, tumbuh 31% dari Rp 63,27 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Kredit bagi nasabah di segmen usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), mencatat pertumbuhan sebesar 24% secara setahunan, yakni mencapai Rp 26,56 triliun dan mencakup 32% dari total kredit Danamon pada akhir 2010.

Kredit korporasi dan komersial Danamon mencatatkan peningkatan sebesar 21% menjadi Rp 16,27 triliun dari Rp 13,39 triliun pada 2009, didukung oleh bisnis Trade Finance yang tumbuh 74% menjadi Rp 3,14 triliun dari Rp 1,81 triliun pada tahun sebelumnya. 

Pembiayaan alat-alat berat melalui unit Asset-Based Finance (ABF) juga mencatatkan kinerja yang baik, tumbuh 49% dari Rp 1,05 triliun pada akhir 2009 menjadi Rp 1,57 triliun.
“Pertumbuhan di seluruh lini usaha kami tahun lalu juga disertai kualitas aset yang terjaga,” kata Vera Eve Lim, chief financial officer dan direktur Danamon. 

Rasio Kredit Bermasalah atau NPL (gross) Danamon berada di posisi 3,0% pada akhir Desember 2010, turun dari 4,5% pada 2009. Sektor kendaraan bermotor di Indonesia mencatatkan pertumbuhan yang signifikan pada 2010, dengan penjualan sepeda motor dan mobil naik masing-masing sebesar 26% dan 57%

Seiring pertumbuhan industri tersebut, jumlah unit sepeda motor dan mobil yang dibiayai oleh Adira Finance naik masing-masing sebesar 54% dan 86%. Sampai dengan akhir tahun 2010, Adira Finance mencatatkan total piutang yang dikelola sebesar Rp 30,67 triliun, yang sebagian besar berasal dari pembiayaan sepeda motor. Komponen ini mencakup 66,6% dari total pembiayaan Adira Finance pada 2010.

Anak perusahaan Danamon di bisnis asuransi umum, Adira Insurance, mencatatkan pertumbuhan yang signifikan. Gross Premium Adira Insurance naik sebesar 34,3% secara setahunan menjadi Rp 1,08 triliun dari Rp 808 miliar pada akhir 2009.

Sepanjang tahun 2010, pendanaan Danamon juga terus menunjukkan peningkatan. “Dalam satu tahun terakhir, pendanaan pihak ketiga kami tumbuh signifikan sebesar 18% atau mencapai Rp 80,92 triliun pada akhir Desember 2010,” jelas Vera. “Lebih lanjut, kami berhasil meningkatkan komposisi giro dan tabungan (CASA) yang berarti meningkatkan basis dana murah kami,” lanjutnya. 

Giro tumbuh 48% sementara tabungan naik 39% secara setahunan, masing-masing mencapai Rp 10,97 triliun dan Rp 21,43 triliun. Secara keseluruhan, CASA mencapai Rp 32,41 triliun  dari Rp 22,76 triliun pada akhir Desember 2009, meningkat 42% secara setahunan dan menyumbangkan 40% dari total dana pihak ketiga Danamon pada akhir Desember 2010.

“Tahun lalu, Danamon dan anak perusahaannya Adira Finance telah berhasil menyelesaikan penerbitan obligasi dengan total nilai sebesar Rp 4,8 triliun, yang ditujukan untuk meragamkan profil pendanaan serta mendukung pertumbuhan kredit dan pembiayaan kedepannya,” kata Vera. 

Pada akhir Desember 2010, rasio kredit terhadap total pendanaan Danamon berada di posisi 86,2%, menunjukkan neraca yang likuid, sementara rasio kredit terhadap total dana pihak ketiga (LDR) mencapai 93,8%.

“Selain pertumbuhan sebesar 5% pada pendapatan bunga bersih yang mencapai Rp 9,91 triliun dari Rp 9,46 triliun pada akhir tahun sebelumnya, kinerja keuangan Danamon 2010 didukung oleh pendapatan non bunga, antara lain dari credit related fees termasuk transaction services, trade finance, asuransi serta keuntungan dari penjualan surat-surat berharga,” kata Vera.

Return on Average Asset (ROAA) Danamon tercatat sebesar 2,8% untuk tahun 2010, sementara Return on Average Equity (ROAE) mencapai 18,5%. Pada akhir Desember 2010, Rasio Kecukupan Modal (CAR) Danamon berada di posisi 16% dengan memperhitungkan risiko operasional.

Bank Jatim Persiapkan IPO Oktober 2011 Rp 1 Triliun

Bank Jatim menargetkan dapat melakukan Initial Public Offering (IPO) atau penawaran saham perdana di lantai bursa paling lambat Oktober 2011. 

"Pada April 2011 kami akan melakukan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) salah satu agendanya adalah mengubah modal dasar. Sesuai ketentuan Bapepam-LK, IPO dapat dilakukan paling lambat 180 hari setelah itu. Kita targetkan bisa melantai Oktober 2011," kata Direktur Utama Bank Jatim Mulyanto, di Jakarta, Kamis, dalam acara Musyawarah Kerja Nasional XI.

Ia mengatakan, jika target waktu itu terlewat maka pihaknya harus memulai proses IPO dari awal lagi. Menurut rencana, pihaknya akan mengusulkan perubahan modal dasar menjadi Rp 5 triliun-Rp 6 triliun. "Cadangan yang terkumpul sekitar lebih dari Rp1 triliun, sampai sekarang masih dalam perhitungan," katanya.

Jadi, ia menambahkan, total nilai saham eksisting diperkirakan sebesar Rp 2 triliun yang baru akan diusulkan dalam RUPS. Mulyanto memperkirakan, pihaknya akan melepas sekitar 25 persen dari jumlah tersebut karena pemegang saham lama tetap akan menjadi pemegang saham mayoritas. "Nilai 25 persen itu ekuivalen dengan Rp500 miliar-Rp1 triliun," katanya.

Mulyanto menegaskan melakukan IPO memerlukan perhitungan yang sangat ketat. IPO dianggap salah satu cara yang efektif untuk menambah modal di samping suntikan modal langsung dan menerbitkan emisi obligasi subdebt.