rss
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites

Friday, September 3, 2010

Tangani Rights Issue, Bahana Borong Saham BNI

Ditunjuk menjadi lead underwriter pelaksanaan rights issue PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) senilai Rp 10 triliun, Bahana Securities hari ini memborong 30.523 lot saham BBNI di harga Rp 3.440.

Sedangkan broker kedua, yakni Nusadana Capital Indonesia hanya membeli 8.629 lot, sehingga terlihat perbedaannya yang mencolok. Akibat aksi beli ini, harga saham BBNI naik Rp 125 menjadi Rp 3.500.

1 DX BAHANA SECURITIES 162 30,523 3,440.20 105 7,751 3,443.39 22,772 38,274
2 DR NUSADANA CAPITAL INDONESIA 72 8,629 3,449.24 10 747 3,437.99 7,882 9,376
3 DB DEUTSCHE SECURITIES INDONESIA 60 11,169 3,446.76 33 5,500 3,443.18 5,669 16,669
4 PF DANASAKTI SECURITIES 22 2,086 3,450.00 1 1 3,475.00 2,085 2,08
55 KZ CLSA INDONESIA 1 3,962 3,429.00 24 9,388 3,431.82 -5,426 13,350
56 RB NIKKO SECURITIES INDONESIA - - - 16 9,040 3,458.30 -9,040 9,040

Tunjuk Bahana

Sementara itu, Kementerian BUMN mulai menyeleksi penjamin emisi atau underwriter untuk melaksanakan rights issue BBNI. Saat ini sudah ada total 6 perusahaan sekuritas yang masuk untuk diseleksi, 4 asing dan 2 milik negara.

"Tim pengarah sudah pilih 6 underwriter. Nanti akan diseleksi lagi oleh Menteri (BUMN Mustafa Abubakar) jadi tidak mungkin semuanya," ujar Staf Khusus Menteri BUMN Ekoputro Hadijayanto di kantornya, Jumat (3/9).

Ia mengatakan, 4 dari calon penjamin emisi tersebut merupakan perusahaan asing yang beroperasi di dalam negeri. Dua sisanya merupakan perusahaan sekuritas pelat merah.

Eko menambahkan, nantinya, underwriter pilihan Menteri BUMN ini akan menyeleksi agen penjual di luar negeri atau international selling agent. "Nanti lead underwriter-nya tetap lokal. Setelah itu baru mereka seleksi selling agents," jelasnya.

Pada kesempatan yang sama, Deputi Privatisasi Kementerian BUMN Mahmudin Yasin mengatakan, salah satu sekuritas yang sudah dipilih oleh Menteri BUMN adalah Bahana Securities.

"Yang lokal Bahana. Bahana yang akan tunjuk selling agent asing mungkin dalam 2 sampai 3 hari sebelum lebaran," katanya.

Dalam rights issue kali ini, BNI menargetkan bisa meraup dana sekitar hingga Rp 10 triliun. Aksi korporasi itu diharapkan bisa digelar pada semester II ini.

Jumlah saham yang akan diterbitkan sekitar 13%. Saat ini pemerintah menguasai 76% kepemilikan saham di bank pelat merah itu. Dengan menerbitkan saham baru sebanyak 13% ditambah greenshoe 3% yang telah dilaksanakan, BNI sudah bisa menikmati insentif pajak.

Melihat besarya target perolehan dana rights issue sebesar Rp 10 triliun, kelihatannya pemerintah akan menggenjot porsi investor asing, mengingat penyerapan investor lokal kurang memiliki kemampuan untuk nilai sebesar itu.

"Saya sudah cek beberapa sekuritas asing dan lokal karena khawatirkan jumlah dana yang gede banget. Kalau mengharapkan lokal sulit, tapi kalau investor luar
cukup tersedia," ujarnya.

Ia optimistis, perusahaan pelat merah itu bisa meraup target dana tersebut. Selain kondisi pasar yang sangat bagus, juga investor menunggu aksi korporasi
yang dilakukan oleh bank yang sudah jarang melakukan aksi korporasi skala besar.

Selain BNI, bank milik pemerintah lainnya yang juga akan menggelar rights issue adalah PT Bank Mandiri Tbk. Menurut Yasin, yang paling siap untuk rights issue
adalah BNI, jadi Bank Mandiri harus menunggu sedikit lebih lama.

"Kebetulan tim BNI yang duluan, tapi Mandiri kita paralelkan. Kita akan lakukan penjajakan atau pencarian investor luar. Kita yakin dana dari investor luar ada," ujarnya.

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan isi komentar soal artikel-artikel blog ini.