rss
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites

Wednesday, January 12, 2011

Rekomendasi Beberapa Sekuritas, 12 Januari 2011


Berikkut rekomendasi dari empat sekuritas ternama untuk perdagangan Rabu (12 Januari 2011).
 
1. E-Trading Securities
Setelah sempat mengalami rebound pada sesi pertama, IHSG mengalami tekanan jual pada sesi kedua. Asing tercatat melakukan net selling Rp 1,3 triliun. Akibatnya, indeks terpangkas 23 poin (-0,67%) menjadi 3.455,13. Secara teknikal, penurunan indeks sudah terbatas (level resistance). Hari ini indeks akan berada di kisaran 3.400-3.530. Saham-saham yang perlu diperhatikan antara lain BDMN, BBRI, dan LSIP.

2. Kresna Sekurindo
Tekanan jual asing masih membuat IHSG kembali melemah kemarin. Level 3.530 masih menjadi kunci bagi pergerakan IHSG. Penetrasi ke level tersebut membuka peluang bagi indeks untuk kembali menguat. Namun, untuk hari ini, indeks diperkirakan masih konsolidasi di kisaran 3.400-3.550 dengan BBRI dan TLKM sebagai saham pilihan.

3. Erdhika Sekuritas
IHSG bergerak mixed pada perdagangan kemarin dan ditutup melemah. Seluruh sektor mengalami pelemahan kecuali sektor perdagangan yang menguat 0,55%. Secara teknikal, pergerakan indeks hari ini akan konsolidasi di kisaran 3.402-3.592. Saham-saham rekomendasi kami adalah SMGR, BDMN, MPPA.

4. Sucorinvest Central Gani
Berlanjutnya aksi profit taking asing atas saham-saham di hampir semua sektor terutama komoditas, keuangan, properti, barang konsumsi, dan lapis kedua merontokkan IHSG kemarin. Hal ini seiring meningkatnya kekhawatiran kenaikan suku bunga acuan dan pelemahan rupiah terhadap dolar AS. Hari ini indeks ditaksir melemah pada kisaran 3.406-3.550.














Tuesday, January 11, 2011

Garuda Lakukan Paparan Publik IPO Besok

PT Garuda Indonesia menjadwalkan melakukan public expose (paparan publik) penawaran saham kepada publik (IPO) pada Rabu (12/1). "Besok kami akan menggelar public expose," kata Direktur Utama Garuda Emirsyah Satar, di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Selasa (11/1).

Menurut Emirsyah, setelah melakukan paparan publik, pihaknya siap roadshow (muhibah) IPO ke sejumlah negara. "Pekan ini kami akan roadshow, ke Singapura, Hong Kong, Amerika Serikat (Boston, New York) dan London," katanya.

Menurutnya, roadshow untuk menjaring minat investor terutama di pusat-pusat pasar dunia, terhadap saham Garuda. Adapun paparan publik dilakukan terkait dengan indikasi penetapan harga saham, jumlah target dana yang akan diperoleh, termasuk rencana penggunaan dana IPO.

Menurut catatan, Garuda akan menjadi BUMN pertama yang "go public" pada 2011. Pemerintah menargetkan melepas saham sebesar 30%, dengan target perolehan dana berkisar Rp 4 triliun.

Dari jumlah saham yang akan dilepas itu, 10% di antaranya adalah saham Bank Mandiri. Dalam IPO tersebut, perseroan telah menetapkan penjamin emisi (underwriter) yaitu PT Danareksa Sekuritas, PT Bahana Securities, dan PT Mandiri Sekuritas. Sedangkan underwriter asing ditetapkan UBS dan Citibank.

Dalam rencana IPO tersebut, perseroan menggunakan laporan keuangan periode September 2010. Hingga kuartal III 2010, perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp 194 miliar.

Serahkan ke Bapepam
Sementara itu, secara bersamaan, Peraturan Pemerintah tentang Penawaran Saham Perdana PT Garuda Indonesia segera diserahkan kepada Badan Pengawas Pesar Modal dan Lembaga Keuangan hari ini juga.

"Dokumen Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) sudah ada di meja Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sudah selesai (ditandatangani), dicek untuk selanjutnya diserahkan kepada Bapepam-LK hari ini," kata Deputi Menteri BUMN Sumaryanto Widayatin di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Selasa.

PP tersebut merupakan dasar pelaksanaan IPO yang dijadwalkan terealisasi pada awal 2011.
Sejalan dengan itu, Sumaryanto menuturkan, jumlah saham Garuda yang akan dilepas kepada investor mencapai 30%. "Sebesar 10 persen di antaranya adalah saham milik PT Bank Mandiri," katanya.

Menurut catatan, jumlah saham yang akan diperoleh perusahaan penerbangan "plat merah" itu akan berkisar Rp 4 triliun. Meski begitu, Sumaryanto tidak bersedia menyebutkan indikasi harga per lembar saham Garuda tersebut. "Belum bisa disebutkan harga per sahamnya. Tunggu saja," katanya.

Ia hanya menjelaskan bahwa dalam pekan ini manajemen dan underwriter Garuda akan melakukan roadshow (muhibah bisnis) ke luar negeri. "Roadshow dilakukan 13-15 Januari 2010 ke Singapura, Hongkong, Amerika Serikat (Boston, New York), dan London," ujarnya.

Setelah menjaring calon investor, selanjutnya dapat ditetapkan harga IPO. "Pricing akan ditentukan kemudian. Tapi sejauh ini, hasil analisa menunjukkan bahwa harga saham Garuda cukup bagus karena sesuai dengan prospek bisnis perseroan ke depan," tegas Sumaryanto.

Semen Baturaja to sell 30 pct stake via IPO-official

PT Semen Baturaja, an Indonesian state-owned cement maker, plans to sell a stake of about 30 percent via initial public offering in the first half this year to finance capital expenditure, said Pandu Djajanto, the deputy minister for privatization at the state enterprises ministry on Monday. Source: Reuters

Indonesia Tin Exports Fall for First Time in 3 Months

Refined tin shipments from Indonesia, the world’s largest exporter, declined last month for the first time Since October as bad weather disrupted production, the Ministry of Trade said. 

Overseas sales dropped 14 percent to 7,722 metric tons last month from 8,986 tons in November, Djunaedi, head of mining exports at the ministry said. Exports were 8,508 tons in December 2009. 

Southeast Asia’s biggest economy exported 92,487 tons of tin last year, a 7 percent decline from 99,287 tons in 2009, Djunaedi said by telephone from Jakarta today. 

Falling supplies may help support the price of the metal used in soldering and packaging, which has fallen 4.2 percent from a record high of $27,350 a ton on Nov. 9. Tin for three- month delivery on the London Metal Exchange slid 0.9 percent to $26,210 a ton at 4:24 p.m. Jakarta time. 

Indonesia shipped the metal to nine countries in December including to Singapore, Japan and the Netherland. Exports to Singapore were 6,401 tons, or 82 percent of total, the trade ministry data showed. 

Tin output in the country was estimated to have fallen 25 percent to 78,965 tons last year, the Energy and Mineral Resources Ministry said Dec. 31. Production may pick up to 90,000 tons this year as a recovery in the global economy boosts demand for the metal, Bambang Setiawan, director general of coal and minerals at the ministry, said at the time. Source: Bloomberg

Rekomendasi Beberapa Sekuritas, 11 Januari 2011


Berikut rekomendasi dari empat sekuritas ternama untuk perdagangan Selasa, 11 Januari 2011.
 
1. E-Trading Securities
Dalam tiga hari terakhir IHSG telah turun 305 poin atau 8% dikarenakan tekanan jual asing Rp 3,3 triliun. Aksi jual asing diperkirakan karena ketakutan terhadap ekspektasi inflasi yang akan mendorong kenaikan BI rate atau kenaikan GWM. Namun, melihat fundamental Indonesia yang baik, kami optimistis melihat penurunan ini. Oleh karena itu, akumulasi beli mulai dapat dilakukan oleh para investor. Hari ini IHSG diperkirakan berada pada kisaran 3.410–3.536 dengan saham-saham yang perlu diperhatikan ASII, PTBA dan BBCA.

2. Sinarmas Sekuritas  
IHSG pada perdagangan hari ini diperkirakan akan mixed dan berpeluang untuk menguat. Setelah bursa IHSG dihantam selama tiga hari berturut-turut, ada kemungkinan untuk teknikal rebound, terutama pada saham blue chips yang sudah oversold. Diperkirakan indeks akan bergerak pada kisaran 3.408-3.525. Saham-saham yang dapat diperhatikan JSMR, ASII, BJBR, dan MYOR. 

3. Kresna Sekurindo
Tekanan jual kembali mendorong IHSG sehingga gagal bertahan di 3.530. Imbasnya, IHSG berpotensi melanjutkan koreksi dari pola double top. IHSG hari ini diperkirakan bergerak di kisaran 3.380-3.530 dengan TLKM  dan MEDC sebagai saham pilihan.

4. Erdhika Sekuritas
IHSG melemah 152,9 poin (-4.21%) pada perdagangan kemari di mana seluruh sektor terkoreksi. Sektor keuangan masih mendominasi pelemahan terbesar, yaitu 5,94%. Secara technical, indeks masih cenderung melemah pada kisaran 3.408-3590.








Rekomendasi HD Capital, 11 Januari 2011

Untuk perdagangan Selasa, 11 Januari 2011, HD Capital merekomendasikan empat saham pilihannya untuk dibeli, yakni Astra International (ASII), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Indo Tambangraya Megah (ITMG), dan Bank Mandiri (BMRI).
BUY: (ASII, BBRI, ITMG, BMRI)
  • Koreksi yang dalam di IHSG melebihi 100-Point akibat ketakutan harga pangan naik dalam negeri akan menyebabkan inflasi Januari hingga 0.7% membuat banyak saham big cap menjadi menarik untuk di akumulasi dengan strategy aggressive buy.
  • Solusi pemerintah untuk mengatasi gejolak pangan dengan menghapus bea tarif masuk pangan impor dapat offset ketakutan pasar untuk lanjutan inflasi lagi di Februari
  • IHSG close (10-01) 3.478.549(-152.904/-4.21%) (Val.Rp.7.7T)
  • Support: 3.701-3.640, Resistance: 3.778-3.850-3.900
 
Stock picks:
1.    Astra International (ASII): (BUY) (Target: Rp 52.900) (close 10/01 Rp 47.500)
  • Secara teknikal adanya bullish hammer, keadaan oversold (jenuh jual), volume peak besar dan gap di atas (Rp 49.000) mengundang scenario teknikal rebound.
  • Valuasi PER 12x 2011F murah apalagi anda mendapatkan 3 perusahaan sekaligus dengan valuasi lebih murah daripada membeli AALI dan UNTR secara terpisah (44% dari kontiribusi bottom line ASII dari kedua perusahaan tersebut)
  • Entry: (1) Rp 47.250, Entry (2) Rp 45.500, Cut loss point: Rp 44.400
 
2.   Bank BRI (BBRI) (BUY): (Target: Rp 9.950) (Close 10/01 Rp 9.300)
  • Secara historical biasanya saham yang sudah split akan menjadi likuid dan tren reverse naik atau mengalami technical rebound, apalagi BBRI sudah turun cukup dalam sementara pemerintah masih optimistis pertumbuhan kredit 22% masih tercapai tahun ini.
  • Entry (1) Rp 9.250, Entry (2) Rp 9.100, Cut loss point: Rp 8.900
 
3.   Indo Tambang Raya (ITMG) (BUY): (Target: Rp 55.200) (Close 10/01 Rp 52.000)
  • Rencana pembangunan pembangkit listrik untuk mensuplai kebutuhan energy conveyor belt pengangkutan batubara dapat mendukung skenario proyeksi volume yang cukup agresif sehinggga emiten ini seharusnya diperdagangkan diatas valuasi sekarang (at premium PER/PBV).
  • Entry: (1) Rp 51.600, Entry (2) 49.900, Cut loss point: Rp 47.400
 
4.   Bank Mandiri (BMRI) (BUY) (Target: Rp 6.350) (close 10/01 Rp 6.000)
  • Penurunan yang cukup tajam telah membawa valuasi PER/PBV 2011F 13.5x/2.5x Bank pemerintah dengan ROE/NPM (22% dan 20%) tertinggi setelah BBRI menarik kembali untuk akumulasi.
  • Entry: (1) Rp 5.900, Entry (2) Rp 5.750, Cut-loss point: Rp 5.600
 
 
Dibuat oleh: 
Yuganur Wijanarko
Senior Research HD Capital. (Yuganur@hdx.co.id)

Monday, January 10, 2011

Australian Coking Coal Rises 6.9% as Flooding Disrupts Supplies

Coking coal from Australia, the world’s biggest exporter of the variety, jumped 6.9 percent last week as flooding disrupted supplies from the state of Queensland. 

Australian coking coal rose to $265 a metric ton on average last week from $248, according to Petersfield, England-based researcher IHS McCloskey. Contract prices reached a record $300 in 2008. They may return to that level, Colin Hamilton, a London-based analyst at Macquarie Group Ltd., said by phone today. 

Queensland, the main Australian coal shipper, is experiencing its worst floods in 50 years, affecting an area the size of France and Germany combined. The region is losing A$480 million ($475 million) a week in coal exports, said Mark Pervan, head of commodity research at Australia & New Zealand Banking Group Ltd. in Melbourne. 

“Spot prices could certainly move to $300 and go up over the next couple of weeks as cargoes are canceled,” Hamilton said. “Even though things are not necessarily getting worse, the effect is ongoing.” 

About 160 million tons of annual coal production has been halted under so-called force majeure contract clauses, equating to 41 percent of world export coking-coal supply and 8 percent for thermal coal, according to Pervan. Coking coal is used to make steel, while thermal coal is burned to generate power. 

Force majeure is a legal clause allowing companies to miss contracted deliveries. Australia is the world’s biggest coal exporter including both coking and thermal varieties. Outbound shipments were 259 million tons in 2009, according to data compiled on the World Coal Association’s website, followed by Indonesia’s 230 million tons. 

The price of thermal coal from the Richards Bay terminal in South Africa, the continent’s largest facility for handling the fuel, fell 2.6 percent to an average $126.39 a ton last week, according to McCloskey. Source: Reuters

Target Price Perusahaan Gas Negara Set IDR 5,500 by JP Morgan

PT Perusahaan Gas Negara (PGAS), Indonesia’s biggest distributor of the fuel was raised to “overweight” from “underweight” with a share-price estimate of 5,500 rupiah by Stevanus Juanda, an analyst at JPMorgan Chase & Co.

Laba Bersih MNC Per November 2010 Naik 72%

PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) berhasil mencetak kenaikan laba bersih sebesar 72% dari Rp 375 miliar menjadi Rp 646 miliar per November 2010.

Demikian penjelasan CEO of MNC Group Hary Tanoesoedibjo dalam siaran persnya kepada okezone, di Jakarta, Senin (10/1).

Adapun pada November 2010 (Januari ke November 2010) perseroan mencatat pendapatan konsolidasi sebesar Rp 4,37 triliun atau naik 36% dibandingkan dengan kinerja tahun lalu sebesar Rp 3,21 triliun.

"Pendorong utama peningkatan tersebut adalah dari kenaikan pendapatan iklan yang signifikan sebesar 41% dan dari content dan value added services yang tumbuh sebesar 10%," jelasnya.

Dengan sedikit peningkatan pada beban usaha, MNC mencatat laba usaha dengan pertumbuhan yang tinggi sebesar 85% dari Rp 571 miliar menjadi Rp 1,05 triliun pada November 2010. Sedangkan untuk EBITDA meningkat sebesar 67% dari Rp 727 miliar menjadi Rp 1,21 triliun. Sedangkan EBITDA marjin meningkat dari 23% menjadi 28%.

"Keseluruhan angka-angka ini memberikan indikasi yang sangat baik atas kinerja akhir tahun yang sangat memuaskan," katanya. Source: Okezone

Penjualan Mobil 2011 Ditargetkan 780-800 Ribu Unit

Penjualan mobil 2011 ditargetkan mencapai 780-800 ribu, naik dari estimasi 2010 sebesar 764.000.

Presiden Direktur PT Toyota Astra Motor Johnny Darmawan di Jakarta, Senin (10/1), mengatakan, perekonomian nasional yang menurut sejumlah ekonom membaik selama 2011 memperbesar peluang peningkatan pasar produk otomotif.

"Saat pertumbuhan ekonomi meningkat, penjualan otomotif naik. Itu yang terjadi dalam dua tahun terakhir di mana penjualan otomotif mencapai angka tertinggi. Peningkatan daya beli masyarakat menentukan pertumbuhan pasar otomotif," kata dia.

Prospek ekonomi tahun ini, menurut dia, kondusif bagi penjualan mobil selama tidak ada kebijakan yang mengejutkan pasar.

Sementara Direktur Pemasaran PT Toyota Astra Motor Joko Trisanyoto menambahkan, tantangan bagi pasar otomotif tahun ini antara lain kenaikan tarif Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBN-KB) progresif, regulasi pajak, dan kebijakan pengurangan subsidi bahan bakar minyak.

Namun dia optimistis pasar otomotif nasional bisa tetap tumbuh meski harus berhadapan dengan tantangan-tantangan tersebut. "Secara normal pasar tetap tumbuh meski tidak sebesar pertumbuhan dari 2009 ke 2010. Tahun ini mungkin lebih mendatar," kata dia.

Selama 2010, kata Joko, penjualan otomotif skala besar (wholesales) naik 57% menjadi sekitar 764.000 unit. Sedangkan pada tingkat retail, penjualan naik 52% menjadi 745.000 unit.

Dalam hal ini, menurut dia, segmen kendaraan multiguna (MPV) masih menjadi kontributor terbesar dalam penjualan pada skala besar maupun retail. "Dan pasar segmen komersial mengalami perkembangan paling besar, dari 26% menjadi 29%," kata dia.

Toyota sendiri, menurut dia, selama 2010 mencetak rekor penjualan dengan perkiraan mencapai 280.680 unit pada skala besar dan penjualan tingkat retail sebanyak 280.711 unit.
"Tahun ini kami menargetkan tetap menjadi pemimpin pasar dengan memegang pangsa pasar minimal 36%," kata Joko. Source: Kantor Berita Antara

Indonesia Coal Benchmark Price Gains for Fourth Month

Indonesia increased the reference price for coal sales for the fourth straight month, raising it by 8.7 percent in January, the Ministry of Energy and Mineral Resources said. 

The benchmark for coal with a gross energy value of 6,322 kilocalories a kilogram was set at $112.4 a metric ton this month from $103.41 a ton in December, the Directorate General of Coal and Minerals at the energy ministry said in a statement on its website. 

Below is a list of price references and markers, used to calculate prices for other coal types of similar quality from eight leading coal brands in Southeast Asia’s biggest economy, as compiled by the energy ministry. Grades are in kilocalories a kilogram, while prices are in U.S. dollars a ton. 

Indonesia is the world’s largest exporter of the fuel after Australia.
===============================================================
                                Jan.     Dec.     Nov.     Oct.     Sept.
===============================================================
Price Reference     112.40   103.41    95.51    92.68     90.05
Month-on-Month (%)    8.69     8.27     3.05     2.92     -5.07
===============================================================

Price Markers
===============================================================
    Coal Brand          Quality                Prices
                               Jan.        Dec.     Nov.     Oct.
===============================================================
Gunung Bayan 1       7,000      121.15   111.41   102.86    99.79
Prima Coal             6,700      117.54   108.43   100.42    97.55
Pinang 6150            6,200     105.89    97.70    90.50    87.92
Indominco IM_East    5,700    91.45    84.18    77.79    75.50
Melawan Coal         5,400    85.08    78.61    72.93    70.89
Envirocoal           5,000    77.74    72.02    67.00    65.20
Jorong J-1           4,400    62.73    58.10    54.04    52.58
Ecocoal              4,200    56.64    52.52    48.91    47.61
===============================================================
Note: - Percentage changes calculated by Bloomberg News - The price reference is an average of the Indonesia Coal Index, Platts-1, Newcastle Export Index and the globalCOAL NEWC Index from the previous month. - The average of price reference for the last three months is used to set prices for a one-year contract for the following year. - For sales in barge, the reference price is excluding cost of barging and transshipment into vessel. Source: Bloomberg

Matahari Says Will Retain, Expand Hypermart Business After Merrill Review

PT Matahari Putra Prima, Indonesia’s biggest retailer by market value, said it will “retain, and further intensify and expand its Hypermart Food Retail business as a wholly-owned business division of the company.” 

Matahari, in an e-mailed press release today, said a review by Bank of America Corp.’s Merrill Lynch unit recommended Matahari “bring in a global partner into MPP to expand its hypermart food business and divest of non-core, non-food retailing assets.” Source: Bloomberg

Matahari says to retain hypermart as wholly-owned unit

Indonesian retailer Matahari Putra Prima said on Monday it will retain its hypermarket business as a wholly owned entity but will look for a global partner to expand the business.

The decision to retain the unit comes after two rounds of bidding for Matahari's hypermart business, which some sources said was aimed at raising $1 billion.

Following a strategic review by Merrill Lynch, Matahari also said that it plans to sell non-core, non-food retailing assets.Source: Reuters

Rekomendasi HD Capital, 10 Januari 2011

Untuk perdagangan Senin, 10 Januari 2011, HD Capital merekomendasikan empat saham pilihannya untuk dibeli, yakni Adaro Energy (ADRO), Astra International (ASII), Telekomunikasi Indonesia (TLKM), dan BUmi  Resources (BUMI).

BUY: (ADRO, ASII,TLKM, BUMI)
  • Koreksi lebih dari 100-point Jumat lalu membuat banyak emiten berkapitalisasi besar menarik untuk diakumulasi.
  • IHSG close (07-01) 3.631.22 (-104.80/-2.81%) (Val.Rp.4.6T)
  • Support: 3.630-3.530, Resistance: 3.770-3.850

Stock picks:

1.    Adaro Energy (ADRO): (BUY) (Target: Rp 2.950) (close 07/01 Rp 2.700)
  • Koreksi akibat keadaan jenuh beli pasca mencetak new high kemarin sudah cukup mereda, potensi adjustment selling price (ASP) harga batubara dari $67 ke $76/ton untuk 3-bulan kedepan akan berdampak positif untuk earnings 2011 sehingga rekomen akumulasi kembali.
  • Ketakutan produksi batubara Q4 2011 tidak akan mencapai target sudah terefleksikan dalam koreksi harga
  • Entry: (1) Rp 2.650, Entry (2) Rp 2.575, Cut loss point: Rp 2.475

2.   Astra International (ASII) (BUY): (Target: Rp 53.700) (Close 07/01 Rp 49.000)
  • Terlihat ada pola double bottom di daily chart dengan konfirmasi volume besar dan keadaan jenuh jual (oversold) sehingga potensi downside terbatas dengan scenario technical rebound mengetes down-trend-line baru pertama di Rp 53.700.
  • Valuasi ASII murah, dengan target fundamental harga Rp 80.000 untuk 12-bulan ke depan masih diperdagangkan di PER 15x, dengan asumsi kenaikan penjualan otomotif 2011 hanya 11% yang cukup konservatif.
  • Entry (1) Rp 48.800, (2) Rp 47.800, Cut loss point: Rp 46.900


3.   Telekomunikasi (TLKM) (BUY): (Target: Rp 7.800) (Close 07/01 Rp 7.350)
  • Saham core holding IDX ini menjadi menarik pasca koreksi dari trading range Rp 8.000-7.500 ke target breakdown di Rp 7.300, rekomen akumulasi dalam kondisi jenuh jual ini (oversold) dengan potensi technical rebound ke Rp 7.550-7.800-8.000.
  • Entry: (1) Rp 7.300, Entry: (2) Rp 7.150, Cut loss point: Rp 7.000

4.    Bumi Resources (BUMI): (BUY) (Target: Rp 3.350) (Close 07/01 Rp 3.125)
  • Beberapa sentimen positif dari sensitivitas earnings terhadap harga batubara (diperkirakan bila harga batubara diatas $115/ton yang membuat laba BUMI dapat membaik 20%), beberapa corporate action untuk mengurangi utang yang sudah terlaksana maupun dalam rencana memberikan advantage besar versus emiten karena bila biaya beban utang berkurang maka laba akan terdongkrak tanpa mengandalkan pendapatan dari segi penjualan batubara dapat menarik kembali BUMI ke upper end trading range atas di Rp 3.400.
  • Entry: (1) Rp 3.100, Entry (2) Rp 2.950, Cut loss point: Rp 2.850



Dibuat oleh:  
Yuganur Wijanarko
Senior Research HD Capital. (Yuganur@hdx.co.id)

Sunday, January 9, 2011

Bank BJB Cetak Laba Rp 1,32 Triliun

BANDUNG - Bank Jabar Banten (BJB) membukukan laba sebelum pajak pada 2010 sebesar Rp 1,32 triliun atau meningkat 34% dibandingkan dengan laba tahun 2009.

"Indikasi laba sebelum pajak per Desember 2010 sebesar Rp 1,32 triliun, meningkat 34 persen dibandingkan dengan laba 2009 sebesar Rp 985 miliar," kata Direktur Konsumer Bank Jabar Banten Tatang Sumarna saat penyerahan undian Petik Hadiah Tabungan, Sabtu.

Sementara itu, kinerja keuangan Bank BJB konsolidasi per akhir Desember 2010 memiliki indikasi total aset Rp 43,5 triliun atau meningkat sekitar 35% dari tahun 2009 sebesar Rp 32,41 triliun.

Selain itu, perolehan dana pihak ketiga (DPK) pada 2010 sebesar Rp 31,96 triliun, meningkat 35% dari DPK tahun sebelumnya Rp 23,72 triliun. Peningkatan DPK juga diikuti dengan peningkatan kredit menjadi Rp 23,78 triliun atau meningkat 21% dari tahun 2009 sebesar Rp 19,63 triliun.

"Saat ini kinerja tahun 2010 masih proses audit, angka itu masih indikasi. Yang jelas peningkatan aset sebesar 35 persen melebihi target tahun 2010 sebesar 20 persen," katanya.

Hal itu terwujud, kata Tatang berkat dukungan dan kepercayaan dari stakeholder, selain berbagai terobosan dalam upaya menggapai visi menjadi 10 bank terbesar dan sehat di tanah air.

Bank BJB pada 2011 telah menyiapkan serangkaian strategi bisnis dan pengembangan jaringan. Sedangkan awal 2010 ini, BJB akan meluncurkan obligasi seri ke-7 senilai Rp 2 triliun untuk memperkuat ekspansi kredit pada 2011.

"Obligasi akan digulirkan akhir Januari 2011, semuanya untuk meningkatkan ekspansi penyaluran kredit BJB. Saat ini sudah memasuki persiapan akhir, semuanya berjalan lancar dan optimistis akhir Januari bisa direalisasikan," katanya.

Terkait penyaluran kredit Bank BJB pada 2011, menurut dia akan meningkatkan penyaluran kredit mikro untuk mendukung sektor UMKM khususnya di wilayah Jawa Barat dan Banten.

Persentase penyaluran kredit mikro bagi UMKM akan mendapat prioritas untuk mendukung pertumbuhan sektor riil serta memfasilitasi sektor tersebut, salah satunya mengefektifkan pendampingan bagi UMKM dan membantu agar bankable.

"Kredit mikro marupakan potensi pasar yang besar, kita garap lebih maksimal pada 2011 mendatang. Disamping melakukan eskpansi dengan membuka kantor cabang di luar Jawa Barat seperti Makasar, Jakarta, Pekanbaru serta yang lainnya," kata Tatang.

Sedangkan terkait pengundian program Petik Hadiah Tabungan tahap keenam, Bank BJB menyerahkan sebanyak 13 mobil Toyota Avanza, 46 sepeda motor dan puluhan televisi kepada nasabah pemenang program itu dari wilayah Jakarta, Karawang, Bekasi, Purwakarta, Cikarang, Rawamangun, Kebayoran Baru, Surabaya, Semarang, Manggadua, Medan dan Batam.

"Penyerahan hadiah untuk cabang itu disatukan di Jakarta," katanya.

Program Petik Hadiah, kata Tatang merupakan program tahunan sebagai apresiasi Bank BJB terhadap nasabah khususnya nasabah tabungan perorangan yang terdiri Tandamata, Tandamata Gold, Tandamata Dolar, Simpeda serta Deposan Perorangan baik rupiah maupun valas.

Saturday, January 8, 2011

5 Saham yang Dibeli Asing 7 Januari 2011

Pada perdagangan akhir pekan ini, Jumat 7 Januari 2011, asing banyak melakukan net buying lima saham, yakni Bhakti Investama (BHIT), Berau Energy (BRAU), Berlian Laju Tanker (BLTA), Global Mediacomm (BMTR), dan Bumi Resources (BUMI), dilihat dari volume saham yang dibeli.


Sedangkan dari segi nilai, asing paling besar membeli saham BUMI, Harum Energy (HRUM), Berau Coal (BRAU), BMTR, dan Berlian Laju Tanker (BLTA).


Berikut detailnya:

A. Dari Segi Volume
1. BHIT 161.143 lot
2. BRAU 172.376 lot
3. BLTA 141.005 lot
4. BMTR 82.769
5. BUMI 55.724 lot


B. Dari segi nilai (net buying)
1. BUMI Rp 88,2 miliar
2. HRUM Rp 59,8 miliar
3. BRAU Rp 46,6 miliar
4. BMTR Rp 27,6 miliar
5. BLTA Rp 27,3 miliar


5 Saham yang Dijual Asing 7 Januari 2011

Pada Jumat, investor asing banyak melakukan aksi jual terhadap saham Borneo Lumbung Energy (BORN), Lippo Karawaci (LPKR), Adaro Energy (ADRO), Bank Negara Indonesia (BBNI), dan Perusahaan Gas Negara (PGAS), dilihat dari segi volume saham.

Sedangkan dari segi nilai, net selling oleh asing paling besar terjadi pada Astra International (ASII), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Telekomunikasi Indonesia (TLKM), Bank Mandiri (BMRI), dan Bank Negara Indonesia (BBNI).

Berikut rincian detailnya:


A. Dari segi volume saham
1. BORN 68.927 lot
2. LPKR 40.990 lot
3. ADRO 35.979 lot
4. BBNI 31.307 lot
5. PGAS 27.152 lot


B. Dari segi nilai (net selling)
1. ASII Rp 289,8 miliar
2. BBRI Rp 79,8 miliar
3. TLKM Rp 75,5 miliar
4. BMRI Rp 71,1 miliar
5. BBNI Rp 56,9 miliar



Indonesia says to scrap import duties on staple foods

Indonesia will scrap import duties on wheat, soybeans and livestock feed, the country's chief economic minister said on Friday, in a measure to try to improve domestic food supplies and head off possible protests over rising costs.

"The policy will be effective starting next week," said Hatta Rajasa at a press briefing after the cabinet met this week to discuss food price stability, adding it had not decided yet whether to scrap duties on sugar.

Indonesia, Southeast Asia's largest economy, is reliant on imports of sugar, soybeans and wheat, and sometimes imports rice and corn. Food price protests were seen a factor in the ousting of Indonesia's long-term autocrat Suharto in 1998.

Rising food costs helped drive annual December inflation to a 20-month high near 7 percent, putting food supply at the top of policymakers' agendas.

The United Nations' food agency (FAO) said on Wednesday that food prices hit a record high last month, exceeding 2008 levels when riots broke out in various countries.

The government expects food price pressures to subside when the local harvest season starts in February, though it has promised to maintain supplies and has increased rice distribution.

Indonesia plans to import 450,000 tonnes of white sugar for household consumption to bridge an anticipated shortfall in local production, though failed to secure 60,000 tonnes in a tender last month because prices were too high.

Prolonged wet weather last year reduced production of the country's key agriculture commodities and forced it to import to meet the shortfall.Source: Reuters

Indonesia studies building new airport for Jakarta

Indonesia's government is considering building another airport near Jakarta as the capital's main flight hub will not be able to accommodate future passenger growth in Southeast Asia's biggest economy, an official said on Friday.

The government is also looking at boosting the capacity of the Soekarno-Hatta international airport, now serving about 35 million passengers a year, said Herry Bakti, director general for air transport at the transport ministry.

He said passenger growth each year is around 15-20 percent. Inadequate infrastructure in the country is seen as both a deterrent to foreign direct investors and an investment opportunity, with Japan already funding transport projects.

"We plan for multiple airports in the Jakarta metropolitan area," Bakti told Reuters, adding a study on the issue will be completed by the end of this year.

The government has asked the Japan International Cooperation Agency JICA.L to conduct a visibility study exploring the main airport's expansion and to develop new facilities, the Jakarta Globe newspaper on Friday quoted I Ketut Feri Utamayasa, spokesman for airport management firm PT Angkasa Pura II, as saying.

Indonesia and Japan signed a deal last month in which Japan will fund transport infrastructure projects worth 2 trillion yen around Jakarta, while other Asian nations and private equity firms are eyeing infrastructure.

Bakti said the government is considering commercialising two existing airports in Jakarta, the Halim military airport and a police airport, or creating a new one in industrial areas further outside the capital, in Banten to the west on Java island or Karawang to the east. Source: Reuters

Friday, January 7, 2011

Interventures Capital Kuasai 3,58% Saham BUMI lewat Sinarmas

Akhirnya teka-teki siapa investor global yang memborong saham Bumi Resources melalui broker Sinarmas Sekuritas pertengahan Agustus 2010 terjawab. Dalam keterbukaan informasinya per 30 Desember 2010, biro administrasi efek Ficomindo Buana Registrar menginformasikan bahwa Interventures Capital Pte Ltd telah memiliki 3,58% saham BUMI atau setara dengan 742.864.097 saham.

Pada pertengahan Agustus lalu, investor asing melalui broker Sinarmas sangat gencar memborong saham BUMI setelah harganya turun dari Rp 2.300 menjadi Rp 1.400-1.600. Investor asing tersebut melalui Sinarmas Sekuritas terus-menerus membeli saham BUMI di kisaran harga tersebut.

Interventures sebetulnya tidak asing bagi pemilik BUMI, yakni Bakrie Brothers. Berdasarkan penelusuran, Bakrie Brothers pada Maret 2009 pernah berhubungan dengan Interventures. Ketika itu, Bakrie Brothers menyatakan telah menjalin kesepakatan restrukturisasi utang senilai Rp 1,4 triliun dengan Interventures dan Skybird Ventures Ltd.

Dalam kesepakatan itu, utang senilai Rp 1,4 triliun tersebut akan diperpanjang masa jatuh temponya dari semula 5 Juli 2009 menjadi 12 Maret 2011 atau 33 bulan setelah perjanjian. Nah, sejauh ini belum ada kejelasan apakah saham BUMI sebanyak 3,58% yang dimiliki Interventures tersebut terkait dengan restrukturisasi utang ini. (klik berita soal Interventures di sini).

Selain Interventures, pemegang saham BUMI lainnya adalah Credit Suisse AG Singapore Branch sebanyak 1.048.468.439 atau 5,05%. Credit Suisse International juga tercatat memiliki 667.964.027 saham BUMI atau setara dengan 3,22% yang disimpan di bank kustodian Standard Chartered Bank Jakarta.

Glencore International AG memiliki 968.442.000 atau setara 4,66%. Raiffeisen Bank International memiliki 760.777.778 saham atau 3,66%.

Menariknya, dalam laporan biro administrasi efek tersebut, kepemilikan saham BUMI oleh Bakrie Brothers justru tidak ada. Semestinya, Bakrie Brothers mempunyai sekitar 16% saham BUMI untuk ditukar dengan saham Vallar Plc. Dari kesepakatan tukar guling saham BUMI dengan saham Vallar, Bakrie Grup harus menyerahkan 25%, terdiri atas 16% saham BUMI yang dimiliki oleh BNBR dan sisanya saham BUMI milik grup.