Berikut ini riset mengenai PT Excelcomindo Pratama Tbk (EXCL) oleh JP Morgan.
XL by JP MORGAN
Thursday, July 29, 2010
Jasa Marga Diburu CIMB-GK Securities
Jasa Marga kembali diburu oleh CIMB-GK Securities dan menjadikan broker ini sebagai pemborong terbanyak JSMR. Broker ini membeli 12.092 lot saham JSMR di harga Rp 2.596 dan jual hanya 178 lot di harga Rp 2.594.
Urutan kedua adalah UBS Securities sebanyak 8.836 lot di harga Rp 2.588 tanpa menjual sama sekali. Deutsche Securities juga membeli 3.179 lot saham JSMR di harga Rp 2.575 tanpa menjual sama sekali.
Sedangkan JP Morgan menjadi broker yang paling banyak menjual saham ini. BK, menjual 5.000 lot di harga Rp 2.586. Dengan hanya menjual lima ribu lot saja, JP Morgan tercatat sebagai broker terjual terbanyak menandakan belum ada gelagat investor menjual secara gede-gedean.
Bahkan berdasarkan pengamatan, asing sama sekali belum menjual saham ini. Asing masih tercatat membeli terus saham ini.
Harga JSMR naik Rp 50 menjadi Rp 2.600.
Urutan kedua adalah UBS Securities sebanyak 8.836 lot di harga Rp 2.588 tanpa menjual sama sekali. Deutsche Securities juga membeli 3.179 lot saham JSMR di harga Rp 2.575 tanpa menjual sama sekali.
Sedangkan JP Morgan menjadi broker yang paling banyak menjual saham ini. BK, menjual 5.000 lot di harga Rp 2.586. Dengan hanya menjual lima ribu lot saja, JP Morgan tercatat sebagai broker terjual terbanyak menandakan belum ada gelagat investor menjual secara gede-gedean.
Bahkan berdasarkan pengamatan, asing sama sekali belum menjual saham ini. Asing masih tercatat membeli terus saham ini.
Harga JSMR naik Rp 50 menjadi Rp 2.600.
Saham-Saham Terkait Lebaran Naik Semua Hari Ini
Luar Biasa. Itu ungkapan yang tepat ditujukan kepada saham-saham konsumsi hari ini, seperti PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT Japfa Comfeed Tbk (JPFA), dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN).
Ketiga saham ini naik luar biasa. Lihat saja JPFA yang naik 20,24% atau Rp 425 menjadi Rp 2.525. CPIN juga naik Rp 525 atau 11,35% menjadi Rp 5.150. Terakhir, INDF naik Rp 225 atau 5% menjadi Rp 4.725.
Lonjakan harga ini, selain karena ekspektasi laporan keuangan semester I-2010, yang luar biasa, juga terkait dengan konsumsi masyarakat Indonesia yang masih besar.
Bahkan, saya pernah menulis pada tanggal 20 Juli 2010 dengan judul artikel "Cermati Saham Konsumsi". (Klik Disini). Bahkan, dua hari lalu, penulis juga menurunkan artikel berjudul "Amazing Movement for JPFA". (Klik Disini).
Sekarang ketiga emiten ini sudah naik tinggi. Oleh karena itu, bagi investor yang ingin mengoleksi saham-saham ini disarankan untuk terus mencermati. Siapa tahu bisa menangguk keuntungan pada kuartal tiga nanti.
Pada laporan keuangan kuartal III-2010, emiten diharuskan publikasi pada Oktober 2010. Nah, selama kuartal tiga terdapat momentum Lebaran. Biasanya, masyarakat banyak memborong ayam (menguntungkan JPFA dan CPIN). INDF juga diuntungkan karena masyarakat sering mengonsumsi Indomie saat Sahur, penjualan minyak goreng (untuk masak-masak) dan gula (bikin kue) juga akan meningkat, sehingga menguntungkan INDF.
Emiten lain yang bakal diuntungkan adalah BUDI yang memproduksi tepung ketan dan tepung beras dengan merek Rose Brand. BUDI juga memproduksi minyak goreng.
Jasa Marga (JSMR) juga akan diuntungkan pada kuartal tiga nanti karena kegiatan mudik masyarakat. Jalan-jalan tol seperti Cikampek, Cipularang, hingga Trans Jawa, akan diserbu oleh ratusan ribu mobil yang mau mudik ke kampungnya masing-masing.
Oleh karena itu, cermati saham-saham konsumsi ini. Jika harganya turun, koleksi kembali.
Khusus perdagangan Kamis ini, CPIN banyak diborong oleh Danareksa, sebanyak 8.774 lot di harga Rp 4.999 dan menjual 512 lot (Rp 5.020). Urutan kedua ditempati oleh Deutsche Securities sebanyak 2.124 lot (Rp 5.070) tanpa menjual sama sekali. Nusadana Capital Indonesia memborong 6.784 lot (Rp 5.014) dan jual 6.030 (Rp 4.951).
JPFA diborong oleh Danareksa sebanyak 14.206 lot (Rp 2.325) dan jual hanya 989 lot (Rp 2.361). Nusadana Capital memborong 26.949 lot (Rp 2.372) dan jual 16.673 lot (Rp 2.323).
E-trading Securities juga membeli 6.013 lot saham JPFA di harga Rp 2.377 dan jual 3.069 lot (Rp 2.364). CIMB-GK Securities beli 3.973 lot (Rp 2.433) dan jual 1.143 lot (Rp 2.357). Terakhir, Mega Capital beli 3.792 lot (Rp 2.317) dan jual 1.148 lot (Rp 2.314).
INDF dibeli paling banyak oleH JP Morgan sebanyak 3.957 lot (Rp 4.583) dengan hanya jual 74 lot (Rp 4.725). Nusadana Capital beli 4.079 lot (Rp 4.642) dan jual 466 lot (Rp 4.650). CLSA Indonesia beli 4.255 lot (Rp 4.499) dan jual 1.289 lot (Rp 4.290). Phillip Securities beli 3.130 lot (Rp 4.581) dan jual 278 lot (Rp 4.632). Terakhir, Deutsche Securities beli 2.733 lot INDF di harga Rp 4.612 dengan hanya menjual 74 lot (Rp 4.660).
Laba AUTO Melonjak 81%
PT Astra Otoparts Tbk (AUTO) mencatat lonjakan laba bersih sebesar 81,26% pada semester I-2010 menjadi Rp 568,57 miliar, dari Rp 313,67 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Kenaikan laba bersih ini terjadi berkat oleh meningkatnya pendapatan perseroan pada semester I-2010 yang mencapai 25,72%.
Pendapatan bersih salah satu anak usaha PT Astra Internasional Tbk ini tercatat Rp 3,05 triliun pada semester I-2010, naik 25,72% dari posisi yang sama tahun lalu sebesar Rp 2,42 triliun. Laba kotor perseroan pun akhirnya ikut terdongkrak 35,58%, dari Rp 405,57 miliar pada semester I-2009 menjadi Rp 549,89 miliar pada semester I-2010.
Laba usaha juga naik 42,37%. Laba operasi selama semester I-2010 tercatat Rp 265,83 miliar, naik dibandingkan pada posisi tahun lalu yang hanya Rp 186,71 miliar.
Setelah terpangkas oleh hak minoritas atas pemegang saham, maka perolehan laba bersih AUTO menjadi Rp 568,57 miliar. Laba bersih mengalami kenaikan sebesar 81,26%, dibandingkan periode yang sama tahun lalu, Rp 313,67 miliar.
Laba per saham pun tercatat sebesar Rp 737 per lembar, atau naik dari posisi yang sama tahun lalu Rp 407 per lembar.
Modal perseroan sampai akhir Juni 2010 tercatat Rp 3,41 triliun atau meningkat dibandingkan tahun lalu, Rp 2,83 triliun. Aset perseroan pun mencapai Rp 4,97 triliun di semester I-2010. Posisi aset pada periode yang sama tahun 2009, tercatat Rp 4,19 triliun.
Indonesian Stock Valuation Premium to More Than Double, Credit Suisse Says
Indonesia’s valuation premium to global emerging markets may more than double from current levels even after gains that drove the nation’s benchmark index to a record high, Credit Suisse Group AG said.
The Jakarta Composite Index has surged 27 percent in dollar terms this year as the central bank kept interest rates low and economic growth accelerated, making Indonesia the best performer among the 21 countries that make up the MSCI Emerging Markets Index. The gauge yesterday climbed 0.5 percent, closing at a record high for a second day.
The gains mean Indonesia is now trading at an 18 percent premium to global emerging markets, based on a model comparing price to book value against return on equity, Credit Suisse analysts led by Sakthi Siva wrote in a report today.
That compares with a record premium of 22 percent reached in August 2008 and previous highs of 38 percent and 36 percent, respectively, for India and China, according to the report.
“While we tend not to favor overvalued markets, we are 2 percent overweight Indonesia,” said Siva, the top-ranked strategist in Institutional Investor’s 2010 Asian poll.
“There appears to be potential for Indonesia to rerate to 30 percent to 40 percent premiums if we use India and MSCI China as a guide.”
Indonesia’s return on equity reached a low of 18.2 percent amid the global financial crisis of 2008 and 2009, according to Siva.
That compares “favorably” with the 10 percent average for global emerging markets and tops all four of the largest developing nations of Brazil, Russia, India and China, the brokerage said.
Economic Growth
Indonesia’s economy may have expanded 5.8 percent in the first half of this year and may grow 6 percent in the second half, the Finance Ministry said in a statement presented during a parliament hearing in Jakarta on July 26.
Southeast Asia’s largest economy expanded 5.7 percent in the first quarter this year from a year earlier, the fastest pace since 2008.
Domestic credit to the private sector in Indonesia is 26 percent of the nation’s gross domestic product, compared with 80 percent for developing nations worldwide, the analyst wrote.
“While proponents of the structural growth story for Indonesia tend to focus on the large young population, rapidly rising per capita GDP and domestically-led growth, we are more attracted by Indonesia’s structurally high ROE and low credit penetration,” Siva said. Source: Bloomberg
Bukopin Cetak Laba Rp 226 Miliar
PT Bank Bukopin Tbk (BBKP) yang akan diakuisisi oleh Jamsostek pada semester I-2010 membukukan laba bersih Rp 226 miliar, naik 13% dari semester I-2009 sebesar Rp 200 miliar.
Kenaikan laba ini membuat laba per saham perseroan turut terdongkrak dari 35,13 menjadi 37,72. Kontribusi laba masih berasal dari pendapatan bunga bersih BBKP yang naik 23,89% menjadi Rp 835 miliar.
Hingga Juni 2010, kredit perseroan mencapai Rp 29,55 triliun, naik 5,42% dari tahun lalu. Sedangkan aset perusahaan pada periode yang sama mencapai Rp 41,58 triliun atau naik 11,65% dari posisi Juni 2009 sebesar Rp 37,24 triliun.
Kenaikan laba ini membuat laba per saham perseroan turut terdongkrak dari 35,13 menjadi 37,72. Kontribusi laba masih berasal dari pendapatan bunga bersih BBKP yang naik 23,89% menjadi Rp 835 miliar.
| Kinerja Bank Bukopin (BBKP) dalam Rp triliun | |||
| Jun-09 | Jun-10 | % | |
| Kredit | 28,03 | 29,55 | 5,42 |
| Aset | 37,24 | 41,58 | 11,65 |
| Pendapatan bunga bersih | 0,674 | 0,835 | 23,89 |
| Laba operasional | 0,294 | 0,303 | 3,06 |
| Laba bersih | 0,200 | 0,226 | 13,00 |
| Laba per saham | 35.13 | 37.72 | |
Hingga Juni 2010, kredit perseroan mencapai Rp 29,55 triliun, naik 5,42% dari tahun lalu. Sedangkan aset perusahaan pada periode yang sama mencapai Rp 41,58 triliun atau naik 11,65% dari posisi Juni 2009 sebesar Rp 37,24 triliun.
Laba Inovisi Naik 90%
PT Inovisi Infracom Tbk (INVS) pada semester I-2010 berhasil mencatatkan laba bersih (belum diaudit) sebesar Rp 13,1 miliar atau naik 90% dibanding realisasi semester I-2009 sebesar Rp 1,33 miliar.
Kenaikan laba bersih tditopang oleh penjualan perseroan selama semester I yang mencapai Rp 62,14 miliar atau naik 66% dibandingkan periode yang sama 2009.
Dalam siaran persnya, di Jakarta, Rabu (28/7), manajemen Inovisi menyatakan, kenaikan penjualan dan laba bersih perseroan mencerminkan investasi kelompok usaha Inovisi untuk ekspansi usaha di luar negeri membuahkan hasil. Faktor positif tersebut membuahkan keuntungan bersih setelah pajak untuk enam bulan pertama 2010 sebesar Rp 19,49 miliar, atau meningkat 408% dibandingkan Rp 3,83 miliar pada akhir semester pertama tahun lalu.
Inovisi telah berhasil melaksanakan penawaran umum saham terbatas terbatas I disertai penerbitan waran seri 1 pada Mei 2010. Jumlah dana yang diperoleh sebesar Rp 97,75 miliar telah digunakan untuk mengakuisisi 100% saham perusahaan Code Wireless Pte Ltd.
Grup perusahaan yang diakuisisi ini terdiri atas tiga perusahaan, yaitu Code Wireless Pte Ltd, Abamon Technology Sdn Bhd, dan Smart Checker Ltd.
Kemarin, saham INVS menguat 175 poin ke level Rp 2.975. Volume saham yang ditransaksikan 333 ribu senilai Rp 950,62 juta.
Rekomendasi HD Capital Kamis (29/7)
Berikut rekomendasi HD Capital untuk Kamis, 29 Juli 2010.
BUY: (TLKM, DOID, BKSL, PTBA)
- Walaupun indeks dapat terkoreksi akibat turunnya regional, penguatan rupiah ke di bawah 9.000 menjelang optimisme pasar terhadap data inflasi & GDP Senin depan memberikan sentimen positif untuk terus melakukan akumulasi di IHSG.
- IHSG close (28-07) 3.062.520(+20.850/+0.69%) (Vol Rp 3.0 triliun)
- Support: 3.040-3.010-2.960, Resistance: 3.070-3.100
Stock picks:
1. Telkom (TLKM): (BUY) (Target: Rp 8.400) (close 28/07 Rp 8.250)
- Ekspektasi pasar terhadap peningkatan kerja Telkomsel di 2H-2010 pasca hasil Q2-2010 pengembangan bisnis broadband, serta spin-off beberapa menara telekomunikasi dapat mendorong investor terus akumulasi counter telco dengan valuasi PBV termurah di Asia sesudah BTEL.
- Exit: (1) Rp 8.150, Exit (2) Rp 8.050, Cut-loss point: Rp 7.950
2. Delta Dunia (DOID) (BUY): (Target: Rp 1.140) (Close 28/07 Rp 1.050)
- Kinerja membaik: peningkatan produksi batubara pasca pembelian alat baru dari Komatsu dan Caterpillar di Q2 2010 naik 2,5% versus Q1
- Walaupun kelihatannya jenuh beli, namun naiknya indikator ADX mendekati level 20 menunjukan bahwa mulai ada perubahan kondisi tren dari sideways ke trending positif sehingga rekomen akumulasi.
- Entry (1) Rp 1.030, (2) Rp 995, Cut loss point: Rp 960
3. Bukit Sentul (BKSL) (BUY): (Target: Rp 124) (Close 28/07 Rp 114)
- Sektor properti paling diuntungkan dari re-valuasi harga aset di Indonesia akibat penguatan rupiah sehingga akumulasi BKSL yang terdiskon 40% dari high April lalu, & 70% dari harga saham kompetitor Alam Sutera (ASRI).
- Potensi penguatan harga batubara & rupiah membuka peluang untuk re-rating valuasi reserve batubara yang dimiliki.
- Entry: (1) Rp 113, Entry: (2) 110, Cut loss point: Rp 108
4. Bukit Asam (PTBA): (BUY) (Target: Rp 17.500) (close 28/07 Rp 17.000)
- Terus rekomen akumulasi dengan target price baru karena pasar mulai pricing in revaluasi harga cadangan batubara bila harga minyak memang bisa menembus US$80/barel.
- Pasar optimis harga dan output ekspor batubara akan meningkat di 2H 2010.
- Entry: (1) Rp 16.900, Exit (2) Rp 16.700, Cut-loss point: Rp 16.300
Dibuat oleh Yuganur Wijanarko
Senior Research HD Capital. (Yuganur@hdx.co.id)
Rekomendasi Beberapa Sekuritas, 29 Juli 2010
Berikut rekomendasi beberapa sekuritas untuk hari ini, Kamis 29 Juli 2010.
1. Trimegah Securities
Terbentuknya candle pada Rabu (28/7) yang memiliki harga pembukaan IHSG yang tak berbeda jauh dengan harga penutupan sehari sebelumnya (27/7), membuat para pelaku pasar masih optimistis dengan penguatan IHSG akan berlanjut. Pergerakan indeks hari ini ada di kisaran 3.050-3077. Saham pilihan JSMR dan SMCB.
2. e-Trading Securities
IHSG ditutup menguat 15 poin (0,51%) setelah sempat menguat hingga 30 poin lebih dan mengenai level resistance 3.064 kemarin, dengan ditopang saham sektor antara lain semen, infrastruktur, dan telekomunikasi.
Broker asing net buy Rp 250 miliar. Sementara itu, RSI dan stochastic masih overbought, sehingga ada ancaman profit taking. Hari ini, IHSG akan mendapat sentimen dari data durable good AS dan bergerak pada kisaran 3.015–3.090. Saham yang dapat diperhatikan ADHI, TLKM, dan AKRA.
3. Erdikha Sekuritas
IHSG ditutup menguat 15,80 poin menjadi 3.057,48 kemarin, dengan ditopang penguatan saham sektor properti, infrastruktur, dan ragam industri. Secara teknikal, indeks diperkirakan mixed dengan kecenderungan positif terbatas hari ini pada kisaran 3.012-3.080. Pergerakan saham properti masih layak diperhatikan.
4. Sinarmas Sekuritas
Jika terjadi golden cross pada indikator stochastic, itu sebagai isyarat bahwa rally kenaikan indeks kembali akan berlanjut hari ini. Sebaliknya, apabila gagal membentuk pola golden cross, IHSG akan tertahan. Indeks akan bergerak antara 3.034-3.080. Saham pilihan SMGR, SMCB, dan INDF.
Wednesday, July 28, 2010
Jamsostek Selesaikan Due Diligent Bukopin Pekan Depan
PT Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) segera menuntaskan uji tuntas (due diligent) akuisisi 20% saham PT Bank Bukopin Tbk (BBKP) pekan depan.
Demikian penjelasan Direktur Utama Jamsostek Hotbonar Sinaga, di Jakarta, Rabu (28/7). Dalam aksi korporasi itu, Jamsostek berencana menjadi pembeli siaga (standby buyer) dari penerbitan saham baru (rights issue) Bukopin.
"Bukopin kemarin sudah melakukan presentasi. Mereka menggambarkan rencana bisnis perusahaan secara umum saja, supaya kami mengetahui visi dan misi dari perusahaan," ujar Hotbonar.
Dia menambahkan, saat ini perusahaan masih menunggu hasil due diligence yang dilakukan PT Mandiri Sekuritas. Namun, Jamsostek masih tetap mengalokasikan anggaran sebesar Rp 500 miliar untuk bisa memiliki saham Bukopin.
"Bukopin kemarin sudah melakukan presentasi. Mereka menggambarkan rencana bisnis perusahaan secara umum saja, supaya kami mengetahui visi dan misi dari perusahaan," ujar Hotbonar.
Dia menambahkan, saat ini perusahaan masih menunggu hasil due diligence yang dilakukan PT Mandiri Sekuritas. Namun, Jamsostek masih tetap mengalokasikan anggaran sebesar Rp 500 miliar untuk bisa memiliki saham Bukopin.
Rencana ke Depan
Setelah menguasai Bukopin, Jamsostek berencana memberikan kartu diskons kepada peserta Jamsostek untuk membeli kebutuhan bahan pokok seperti gula, beras, dan minyak goreng. Potongan harga diberikan jika rencana perusahaan menjadi pemegang saham PT Bank Bukopin Tbk terealisasi.
Potongan harga sebesar 25% dapat diperoleh jika peserta asuransi Jamsostek membeli ketiga bahan pokok tersebut di sejumlah outlet atau koperasi yang menjadi mitra Swamitra.
"Kami akan meminta Bukopin menyesuaikan operasionalnya ke depan agar sesuai dengan strategi bisnis Jamsostek," kata Hotbonar Sinaga, di kantor Kementerian BUMN.
Menurut Hotbonar, rencana potongan harga bisa dijalankan karena selama ini saham Bukopin dimiliki oleh Koperasi Pegawai Bulog Seluruh Indonesia. Bulog merupakan perusahaan pemerintah yang bertugas mengelola kebutuhan masyarakat seperti beras dan minyak goreng.
Saat ini, saham Bukopin dimiliki oleh Koperasi Pegawai Bulog Seluruh Indonesia sebesar 42,71%, Koperasi Perkayuan Apkindo (6,7%), pemerintah (17,23%), Yabistra Bulog (12,19%), dan publik 20,99%.
Potongan harga beras, minyak goreng, dan gula bisa dilakukan karena pemotongan jalur distribusi ketiga bahan pokok. "Jadi, nanti barang kebutuhan pokok itu langsung didistribusikan ke Swamitra," katanya.
Hotbonar menegaskan, rencana Jamsostek memiliki saham Bukopin tidak sepenuhnya untuk tujuan mencari dividen. Aksi korporasi itu ditempuh sebagai upaya Jamsostek memberikan tambahan manfaat dan kesejahteraan kepada peserta asuransinya.
Potongan harga sebesar 25% dapat diperoleh jika peserta asuransi Jamsostek membeli ketiga bahan pokok tersebut di sejumlah outlet atau koperasi yang menjadi mitra Swamitra.
"Kami akan meminta Bukopin menyesuaikan operasionalnya ke depan agar sesuai dengan strategi bisnis Jamsostek," kata Hotbonar Sinaga, di kantor Kementerian BUMN.
Menurut Hotbonar, rencana potongan harga bisa dijalankan karena selama ini saham Bukopin dimiliki oleh Koperasi Pegawai Bulog Seluruh Indonesia. Bulog merupakan perusahaan pemerintah yang bertugas mengelola kebutuhan masyarakat seperti beras dan minyak goreng.
Saat ini, saham Bukopin dimiliki oleh Koperasi Pegawai Bulog Seluruh Indonesia sebesar 42,71%, Koperasi Perkayuan Apkindo (6,7%), pemerintah (17,23%), Yabistra Bulog (12,19%), dan publik 20,99%.
Potongan harga beras, minyak goreng, dan gula bisa dilakukan karena pemotongan jalur distribusi ketiga bahan pokok. "Jadi, nanti barang kebutuhan pokok itu langsung didistribusikan ke Swamitra," katanya.
Hotbonar menegaskan, rencana Jamsostek memiliki saham Bukopin tidak sepenuhnya untuk tujuan mencari dividen. Aksi korporasi itu ditempuh sebagai upaya Jamsostek memberikan tambahan manfaat dan kesejahteraan kepada peserta asuransinya.
Laba Bersih AALI Semester I-2010 Turun 17%
Laba bersih PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) sepanjang semester I-2010 turun sebesar 17,32% dari Rp 769,849 miliar pada semester I-2009 menjadi Rp 636,451 miliar. Kenaikan harga pokok penjualan sebesar Rp 132,6 miliar menjadi penyebab turunnya laba.
Dalam laporan keuangan publikasinya disebutkan bahwa penjualan bersih AALI juga ikut turun tipis 0,56% menjadi Rp 3,52 triliun hingga akhir Juni 2010. Pada periode yang sama tahun lalu, perseroan membukukan penjualan bersih Rp 3,54 triliun.
Harga pokok penjualan perseroan naik tipis menjadi Rp 2,29 triliun dari Rp 2,16 triliun pada semester I-2009. Hal ini menyebabkan laba kotor menjadi Rp 1,23 triliun atau turun 11,03% dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 1,38 triliun.
Beban usaha AALI yang sebesar Rp 272,36 miliar, menjadikan laba usaha mencapai Rp 953,94 miliar. Laba usaha pun ikut turun 17,05% dari periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp 1,15 triliun.
Usai terpangkas beban lain-lain Rp 35,13 miliar, perseroan membukukan laba sebelum pajak Rp 918,79 miliar atau menurun dari semester I-2009 yang mencapai Rp 1,16 triliun.
Laba sebelum hak minoritas turun 17,11% menjadi Rp 636,45 miliar pada semester I-2010. Laba bersih pun menjadi Rp 636,45 miliar, atau turun 17,32%. Laba bersih per saham pun menjadi Rp 404,16 per lembar, turun dari semester I-2009 yang mencapai Rp 488,87 per lembar.
Dalam laporan keuangan publikasinya disebutkan bahwa penjualan bersih AALI juga ikut turun tipis 0,56% menjadi Rp 3,52 triliun hingga akhir Juni 2010. Pada periode yang sama tahun lalu, perseroan membukukan penjualan bersih Rp 3,54 triliun.
Harga pokok penjualan perseroan naik tipis menjadi Rp 2,29 triliun dari Rp 2,16 triliun pada semester I-2009. Hal ini menyebabkan laba kotor menjadi Rp 1,23 triliun atau turun 11,03% dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 1,38 triliun.
Beban usaha AALI yang sebesar Rp 272,36 miliar, menjadikan laba usaha mencapai Rp 953,94 miliar. Laba usaha pun ikut turun 17,05% dari periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp 1,15 triliun.
Usai terpangkas beban lain-lain Rp 35,13 miliar, perseroan membukukan laba sebelum pajak Rp 918,79 miliar atau menurun dari semester I-2009 yang mencapai Rp 1,16 triliun.
Laba sebelum hak minoritas turun 17,11% menjadi Rp 636,45 miliar pada semester I-2010. Laba bersih pun menjadi Rp 636,45 miliar, atau turun 17,32%. Laba bersih per saham pun menjadi Rp 404,16 per lembar, turun dari semester I-2009 yang mencapai Rp 488,87 per lembar.
Laba Bersih PTPP Meroket 122%
PT Pembangunan Perumahan Tbk (PTPP) mencatat laba bersih sebesar Rp 25,22 miliar hingga semester I-2010 atau meroket 121,61% dibanding posisi tahun lalu yang hanya Rp 11,38 miliar. Kenaikan laba ini didorong naiknya pendapatan akibat keuntungan atas beberapa proyek perseroan.
Demikian disampaikan Direktur Utama PTPP Musyanif, dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Rabu (28/7).
Pendapatan perseroan hingga akhir Juni 2010 mencapai Rp 2,1 triliun. Ini termasuk proyek yang carry over pada 2009. Kontribusi pendapatan terbesar PTPP masih disumbang dari sektor gedung sebesar 70%, sisanya pembangunan jalan tol, pelabuhan, jembatan, dan lain-lain.
Laba kotor BUMN karya ini mencapai Rp 142,14 miliar. Marjin laba ini naik dari 9% pada semester I-2009 menjadi 10,5% setahun kemudian. Laba usaha perseroan naik menjadi Rp 89,03 miliar, dengan marjin meningkat mencapai 6,6% hingga semester-I-2010.
Usai terpangkas beban pajak dan hak minoritas, laba bersih PTPP mencapai Rp 25,22 miliar, naik 121,61% dibanding posisi tahun lalu yang sebesar Rp 11,38 miliar.
Target order book sepanjang tahun ini adalah Rp 16,2 triliun. "Sebanyak Rp 13,6 triliun merupakan kontrak baru dan Rp 2,59 triliun merupakan carry over 2009," jelasnya.
Perseroan juga bersiap berinvestasi di bidang infrastruktur, terutama pembangkit listrik serta dermaga.
Demikian disampaikan Direktur Utama PTPP Musyanif, dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Rabu (28/7).
Pendapatan perseroan hingga akhir Juni 2010 mencapai Rp 2,1 triliun. Ini termasuk proyek yang carry over pada 2009. Kontribusi pendapatan terbesar PTPP masih disumbang dari sektor gedung sebesar 70%, sisanya pembangunan jalan tol, pelabuhan, jembatan, dan lain-lain.
Laba kotor BUMN karya ini mencapai Rp 142,14 miliar. Marjin laba ini naik dari 9% pada semester I-2009 menjadi 10,5% setahun kemudian. Laba usaha perseroan naik menjadi Rp 89,03 miliar, dengan marjin meningkat mencapai 6,6% hingga semester-I-2010.
Usai terpangkas beban pajak dan hak minoritas, laba bersih PTPP mencapai Rp 25,22 miliar, naik 121,61% dibanding posisi tahun lalu yang sebesar Rp 11,38 miliar.
Target order book sepanjang tahun ini adalah Rp 16,2 triliun. "Sebanyak Rp 13,6 triliun merupakan kontrak baru dan Rp 2,59 triliun merupakan carry over 2009," jelasnya.
Perseroan juga bersiap berinvestasi di bidang infrastruktur, terutama pembangkit listrik serta dermaga.
Riset PTBA oleh JP Morgan
Hasil riset tentang PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) oleh JP Morgan, terbit 28 Juli 2010.
Hasil Riset Soal Bank Mandiri oleh JP Morgan
Hasil riset mengenai PT Bank Mandiri Tbk yang dilakukan JP Morgan dan dipublikasikan hari ini, 28 Juli 2010.
Riset PT Bank Mandiri Tbk oleh JP Morgan
Riset PT Bank Mandiri Tbk oleh JP Morgan
Riset PTBA oleh Danareksa
Riset tentang PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk oleh Danareksa Research, terbit hari ini, 28 Juli 2010.
PTBA oleh Danareksa
PTBA oleh Danareksa
Deutsche Securities Berbalik Arah Beli SMCB
Broker Deutsche Securities pada perdagangan sesi dua hari ini berbalik arah memburu saham PT Holcim Indonesia Tbk (SMCB), setelah pada pagi harinya melepas saham ini.
Langkah ini membuat Deutsche Securities membukukan net buying 1.762 lot, setelah membeli 9.012 lot (Rp 2.367) dan menjual 7.250 lot (Rp 2.338).
Broker yang paling banyak mengoleksi SMCB adalah Kim Eng Sekuritas sebanyak 6.855 lot di harga rp 2.354 dengan hanya menjual 1.230 lot (Rp 2.373). Bahana Securities memborong 3.080 di harga Rp 2.369 tanpa menjual sama sekali.
Langkah yang sama juga dilakukan oleh Credit Suisse tanpa menjual SMCB sama sekali namun membeli sebanyak 2.893 lot di harga Rp 2.335. Lautandhan Securindo juga membeli 3.078 lot di harga Rp 2.358 dengan hanya menjual 208 lot (Rp 2.381).
SMCB ditutup naik Rp 75 ke harga Rp 2.375 setelah pada sesi pagi cukup lama bertahan di harga Rp 2.325.
Langkah ini membuat Deutsche Securities membukukan net buying 1.762 lot, setelah membeli 9.012 lot (Rp 2.367) dan menjual 7.250 lot (Rp 2.338).
Broker yang paling banyak mengoleksi SMCB adalah Kim Eng Sekuritas sebanyak 6.855 lot di harga rp 2.354 dengan hanya menjual 1.230 lot (Rp 2.373). Bahana Securities memborong 3.080 di harga Rp 2.369 tanpa menjual sama sekali.
Langkah yang sama juga dilakukan oleh Credit Suisse tanpa menjual SMCB sama sekali namun membeli sebanyak 2.893 lot di harga Rp 2.335. Lautandhan Securindo juga membeli 3.078 lot di harga Rp 2.358 dengan hanya menjual 208 lot (Rp 2.381).
SMCB ditutup naik Rp 75 ke harga Rp 2.375 setelah pada sesi pagi cukup lama bertahan di harga Rp 2.325.
Demand Buying Still Happen for BJBR
Saham PT Bank Jabar Banten Tbk (BJBR) masih menarik perhatian sejumlah broker besar untuk membeli. CLSA Indonesia tercatat sebagai broker yang paling banyak memborong, yakni 15.150 lot di harga rata-rata Rp 1.245 tanpa menjual sama sekali.
Langkah CLSA juga diikuti oleh UBS Securities dengan memborong 40.016 (Rp 1.241) dan menjual 32.746 lot (Rp 1.242), sehingga membukukan net buying 7.270 lot.
Hortus Danavest memborong 6.657 lot di harga Rp 1.249 tanpa menjual sama sekali. Henan Putihrai membeli 7.710 di harga rata-rata Rp 1.230 dan menjual 1.149 lot di harga Rp 1.239.
CIMB-GK Securities kini membeli 9.322 lot di harga Rp 1.245 dan menjual 2.863 lot di harga Rp 1.232. JP Morgan Securities Indonesia juga membeli 4.939 lot di harga Rp 1.243 dengan hanya menjual 939 lot (Rp 1.217).
Akibat munculnya kembali animo beli terhadap BJBR, harga saham ini naik Rp 30 ke Rp 1.250. Sehari sebelumnya, saham ini dibuka di harga Rp 1.200 kemudian menyentuh Rp 1.270 namun ditutup di harga Rp 1.220.
Langkah CLSA juga diikuti oleh UBS Securities dengan memborong 40.016 (Rp 1.241) dan menjual 32.746 lot (Rp 1.242), sehingga membukukan net buying 7.270 lot.
Hortus Danavest memborong 6.657 lot di harga Rp 1.249 tanpa menjual sama sekali. Henan Putihrai membeli 7.710 di harga rata-rata Rp 1.230 dan menjual 1.149 lot di harga Rp 1.239.
CIMB-GK Securities kini membeli 9.322 lot di harga Rp 1.245 dan menjual 2.863 lot di harga Rp 1.232. JP Morgan Securities Indonesia juga membeli 4.939 lot di harga Rp 1.243 dengan hanya menjual 939 lot (Rp 1.217).
Akibat munculnya kembali animo beli terhadap BJBR, harga saham ini naik Rp 30 ke Rp 1.250. Sehari sebelumnya, saham ini dibuka di harga Rp 1.200 kemudian menyentuh Rp 1.270 namun ditutup di harga Rp 1.220.
Suprasurya Danawan Still Buying PTPP
Broker PT Suprasurya Danawan Sekuritas dengan kode perdagangan WW masih memborong 17.272 lot saham PTPP hari ini. Broker ini membeli di harga rata-rata Rp 789 dan hanya menjual 2.000 lot di harga Rp 780.
Broker lainnya, yakni Prime Capital Securities membeli 13.948 lot di harga Rp 792 dengan menjual 6.948 lot di harga Rp 788. Terakhir, PT Aldiracita Corpotama membeli 5.300 lot di harga Rp 795 tanpa menjual sama sekali.
Saham PTPP naik Rp 10 ke Rp 790.
Broker lainnya, yakni Prime Capital Securities membeli 13.948 lot di harga Rp 792 dengan menjual 6.948 lot di harga Rp 788. Terakhir, PT Aldiracita Corpotama membeli 5.300 lot di harga Rp 795 tanpa menjual sama sekali.
Saham PTPP naik Rp 10 ke Rp 790.
Jasa Marga Still Actractive for Foreigners
Saham PT Jasa Marga Tbk masih menarik animo asing untuk membeli. Sepanjang perdagangan Rabu, 28 Juli 2010, tidak ada aktivitas asing menjual saham ini. Dominasi penjualan lebih banyak dilakukan oleh lokal. (Lihat ulasan sebelumnya, klik di sini).
Hingga pukul 16.00 WIB, tercatat ada empat broker yang paling aktif memperdagangkan Jasa Marga. Di peringkat pertama, CIMB-GK Securities sebanyak 30.839 lot di harga Rp 2.496 (rata-rata) dan menjual 5.834 lot (Rp 2.472).
Deutsche Securities juga membeli 25.207 lot di harga Rp 2.495 dengan hanya menjual 641 lot di harga Rp 2.575. Credit Suisse Securities juga memborong 23.944 lot di harga Rp 2.487 tanpa menjual sama sekali.
Terakhir, CLSA Indonesia membukukan pembelian 9.000 lot di harga Rp 2.427 dengan hanya menjual 1.900 lot di harga Rp 2.536. harga JSMR naik Rp 250 atau 10,87% ke Rp 2.550.
Hingga pukul 16.00 WIB, tercatat ada empat broker yang paling aktif memperdagangkan Jasa Marga. Di peringkat pertama, CIMB-GK Securities sebanyak 30.839 lot di harga Rp 2.496 (rata-rata) dan menjual 5.834 lot (Rp 2.472).
Deutsche Securities juga membeli 25.207 lot di harga Rp 2.495 dengan hanya menjual 641 lot di harga Rp 2.575. Credit Suisse Securities juga memborong 23.944 lot di harga Rp 2.487 tanpa menjual sama sekali.
Terakhir, CLSA Indonesia membukukan pembelian 9.000 lot di harga Rp 2.427 dengan hanya menjual 1.900 lot di harga Rp 2.536. harga JSMR naik Rp 250 atau 10,87% ke Rp 2.550.
Asing Buru Saham Jasa Marga
Pada perdagangan Rabu, 28 Juli 2010, hingga sesi I, asing terus memburu saham Jasa Marga (JSMR) tanpa menjual sama sekali. Investor lokal justru menjadi pemain yang menjual saham ini.
Investor asing memburu saham ini melalui empat broker yakni Deutsche Securities Indonesia, CIMB-GK Securities Indonesia, Credit Suisse Securities Indonesia, dan CLSA Indonesia.
Deutsche memborong 12.758 lot saham JSMR dengan harga rata-rata Rp 2.444 tanpa menjual saham sekali. Di urutan kedua ditempati CIMB-GK Securities yang memborong 16.826 lot di harga Rp 2.456 dengan hanya menjual 4.220 (Rp 2.451). Credit Suisse ikut memboorong 10.840 lot di harga Rp 2.425 tanpa menjual sama sekali. Langkah yang sama juga dilakukan oleh CLSA Indonesia sebanyak 9.000 lot di harga Rp 2.427 tanpa menjual sama sekali.
Harga saham JSMR hingga jam 12.00 ini ditutup naik Rp 225 atau naik 9,78% menjadi Rp 2.525 meski sempat menyentuh Rp 2.550.
Investor asing memburu saham ini melalui empat broker yakni Deutsche Securities Indonesia, CIMB-GK Securities Indonesia, Credit Suisse Securities Indonesia, dan CLSA Indonesia.
Deutsche memborong 12.758 lot saham JSMR dengan harga rata-rata Rp 2.444 tanpa menjual saham sekali. Di urutan kedua ditempati CIMB-GK Securities yang memborong 16.826 lot di harga Rp 2.456 dengan hanya menjual 4.220 (Rp 2.451). Credit Suisse ikut memboorong 10.840 lot di harga Rp 2.425 tanpa menjual sama sekali. Langkah yang sama juga dilakukan oleh CLSA Indonesia sebanyak 9.000 lot di harga Rp 2.427 tanpa menjual sama sekali.
Harga saham JSMR hingga jam 12.00 ini ditutup naik Rp 225 atau naik 9,78% menjadi Rp 2.525 meski sempat menyentuh Rp 2.550.
Tin Gains to Highest Level Since Lehman Failure in 2008 as Stockpiles Drop
Tin, the best performing industrial metal this year, climbed to the highest level since the collapse of Lehman Brothers Holdings Inc. in September 2008 as shrinking inventories signaled steady demand.
The metal for three-month delivery advanced as much as 2.1 percent to $19,800 a metric ton on the London Metal Exchange, and traded at $19,500 at 1 p.m. in Shanghai. That’s the highest intraday price since Sept. 3, 2008, before Lehman’s failure triggered a credit-market seizure and global recession.
LME inventories of the metal used in packaging, solder and cans have shrunk 43 percent this year to 15,370 tons, the lowest level since June 2009. A rally in equity markets, declines in the dollar and optimism that the economic recovery remains intact helped an index of London-traded metals to post the biggest weekly gain since February last week.
“The contractions in stockpiles underline improving demand against supply,” Ran Jun, an analyst at researcher Beijing Antaike Information Development Co., said today. Demand for tin products and electronics has recovered a lot from western countries this year, Ran said.
Exports of tin from Indonesia, the world’s largest producer, dropped 16 percent this year through May compared with the same period last year, Barclays Capital said on July 13.
Outbound shipments fell 25.7 percent in June from a year ago, according to Indonesia’s trade ministry.
Supply Deficit
“Tin may reach a supply deficit this year because production from Indonesia, which supplies around 30 percent of world demand, isn’t as much as last year,” Metty Fauziah Wardhani, a mining analyst at PT Danareksa Sekuritas, said in an interview today.
“From the demand side there is an increase because production of electronics, which account for about 60 percent of demand, is rising,” he said.
Tin’s rally has boosted the shares of producers. Yunnan Tin Co., China’s largest producer, has jumped 22 percent this month while the benchmark CSI 300 Index has risen 9.3 percent.
PT Timah, Indonesia’s largest producer, touched a high of 2,475 rupiah today and yesterday, the highest price since May 5.
“Timah’s performance will be helped because of the improvement in tin price,” said Wardhani. “Timah’s share price may climb to 3,000 rupiah by year end.”
Tin futures in London have gained 15 percent this year, while nickel, the second-best performer, has advanced 12 percent, according to Bloomberg data. The three-month copper contract has lost 3.8 percent. Source: Bloomberg
Laba Per Saham AKRA Rp 38,3
PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) membukukan kenaikan laba bersih 27,47% pada semester I-2010 dibandingkan dengan posisi semester I-2009.
Dalam publikasi laporan keuangannya, laba bersih AKR mencapai Rp 140,79 miliar atau Rp 38,30 per saham pada semester I-2010 dibandingkan dengan posisi yang sama tahun lalu Rp 110,45 miliar atau Rp 35,34 per saham.
Kenaikan laba bersih AKR disumbang oleh laba selisih kurs Rp 36,06 miliar dan penghasilan lain-lain bersih senilai Rp 9,64 miliar. Pada 6 bulan pertama tahun lalu, AKR masih membukukan rugi selisih kurs Rp 8,67 miliar.
Meski begitu, laba usaha AKR menurun 22,06% dari Rp 263,82 miliar pada semester I-2009 menjadi Rp 205,61 miliar pada semester I-2010.
Dalam setahun terakhir, pendapatan emiten itu naik 32,49% dari Rp 3,94 triliun menjadi Rp 5,22 triliun.
Dalam publikasi laporan keuangannya, laba bersih AKR mencapai Rp 140,79 miliar atau Rp 38,30 per saham pada semester I-2010 dibandingkan dengan posisi yang sama tahun lalu Rp 110,45 miliar atau Rp 35,34 per saham.
Kenaikan laba bersih AKR disumbang oleh laba selisih kurs Rp 36,06 miliar dan penghasilan lain-lain bersih senilai Rp 9,64 miliar. Pada 6 bulan pertama tahun lalu, AKR masih membukukan rugi selisih kurs Rp 8,67 miliar.
Meski begitu, laba usaha AKR menurun 22,06% dari Rp 263,82 miliar pada semester I-2009 menjadi Rp 205,61 miliar pada semester I-2010.
Dalam setahun terakhir, pendapatan emiten itu naik 32,49% dari Rp 3,94 triliun menjadi Rp 5,22 triliun.
Laba SOBI Turun 46%
PT Sorini Agro Asia Corporindo Tbk (SOBI) mencatatkan penurunan laba bersih selama semester I-2010 sebesar 46% menjadi Rp 45,1 miliar, jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp 83,5 miliar.
Meski demikian, perseroan mencatatkan kenaikan penjualan dalam setahun terakhir sebesar 15,7% dari Rp 740,5 miliar menjadi Rp 856,7 miliar. Usaha perusahaan juga terus bertumbuh dengan total volume penjualan naik 23,4%.
"Fokus kami di pasar Indonesia telah terbukti sebagai strategi yang akurat dengan semester I-2010 penjualan domestik mencapai Rp 484 miliar atau naik 41,6% secara y-o-y," ujar President Director SOBI Haryanto Adikoesoemo, dalam keterangan tertulisnya kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), di Jakarta, Rabu (28/7).
Angka penjualan domestik tumbuh 41,6% (yoy) menjadi Rp 484 miliar berbanding Rp 342 miliar. Hal ini dikarenakan penetrasi yang lebih tinggi dari produk Starch dan Starch Sweetener di pasar domestik sejalan dengan permintaan yang kuat dari segmen consumer product.
Penjualan Sorini yang menggunakan nilai tukar USD mengalami kenaikan signifikan, sedangkan penjualan ekspor dalam mata uang rupiah menunjukkan nilai yang lebih rendah pada semester I-2010 dibandingkan periode yang sama tahun lalu, meski sebenarnya naik 12,7% dalam USD.
Angka penjualan dalam nilai rupiah memperlihatkan kenaikan hanya 15,7%, rendah jika dibandingkan dengan kenaikan sebesar 39,4% dengan penjualan dalam USD. Hal ini juga telah mempengaruhi marjin keuntungan semester I-2010.
Nilai tukar rupiah terus menguat terhadap mata uang asing termasuk USD pada kuartal I-2010. Rata-rata nilai tukar rupiah terhadap USD pada 30 Juni 2010 adalah sebesar Rp 9.189, sedangkan pada 30 Juni 2009 nilai tukarnya mencapai Rp 11.075, penguatan sebesar 17%.
Laba Resource Alam Indonesia Melonjak 169%
PT Resource Alam Indonesia Tbk mencetak lonjakan laba bersih 168,97% pada semester I-2010 karena pertumbuhan penjualan bersih.
Dalam publikasi laporan keuangannya disebutkan emiten itu membukukan laba bersih Rp 69,59 miliar atau Rp 70 per saham pada semester I-2010 dibandingkan dengan laba bersih pada periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 25,96 miliar atau Rp 26 per saham.
Laba usaha Resource Alam dalam setahun terakhir juga melejit 169,11% dari Rp 36,77 miliar menjadi Rp 98,95 miliar.
Penjualan bersih perusahaan mampu tumbuh 85,26% dari Rp 223,23 miliar menjadi Rp 413,55 miliar.
Harga BBTN Terlalu Mahal???
PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) mencatatkan kinerja cemerlang di semester I 2010. Per Juni 2010, laba bersih BBTN mencapai Rp 390,61 miliar. Angka ini melonjak 97,11% dibandingkan dengan perolehan laba bersih di periode yang sama 2009, yang sebesar Rp 198,16 miliar.
Kinerja cemerlang itu berkat ekspansi kredit BTN yang tumbuh 29,61% menjadi Rp 46,41 triliun. Meski gencar menyalurkan kredit, BBTN mampu menjaga kualitas kreditnya. "NPL (tingkat kredit macet) nett BTN per 30 Juni 2010, 3,4%," ujar Iqbal Latanro, Direktur Utama BBTN.
BBTN juga mencatat margin bunga bersih atau nett interest margin (NIM) sebesar 5,81%. Dibanding tahun lalu yang sebesar 4,04%, margin ini lebih tinggi.
BBTN juga berhasil menekan biaya menjadi 59,09% dari pendapatannya. Angka ini turun jauh dibandingkan semester I tahun lalu yang mencapai 70,4%. "Ini artinya kami berhasil melakukan efisiensi biaya operasional," kata Iqbal.
Di sisi pemasukan, bank yang fokus menggarap kredit pemilikan rumah (KPR) ini berhasil mengantongi dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp 39,99 triliun. Itu berarti tumbuh 16,69% jika dibandingkan DPK per Juni 2009, yang sebesar Rp 34,28 triliun.
Bank pelat merah yang baru saja mencatatkan sahamnya di BEI ini menargetkan pertumbuhan kredit 30% di 2010. Para analis yakin, target ini akan gampang tercapai.
Pendapat Analis
Analis Kim Eng Securities Rahmi Marina tak meragukan kinerja BBTN hingga akhir tahun ini. Salah satu alasannya, BBTN mematok bunga KPR 2%-3% di atas rata-rata pasar KPR saat ini. "Hal ini membuat NIM BBTN tetap di atas 5% hingga akhir tahun," ucapnya.
Ia juga melihat, BBTN masih akan fokus menyalurkan sekitar 90% kreditnya ke sektor perumahan. "BBTN masih dalam tahap belajar untuk menyalurkan kredit pada segmen non-KPR," jelas Rahmi.
Namun, Rahmi mengingatkan, biasanya peningkatan kredit akan diikuti potensi kenaikan kredit macet. "NPL BBTN bisa mencapai 4,05% hingga 4,98%," ramalnya. Toh, ia memprediksi, laba bersih BBTN tahun ini bisa mencapai Rp 866 miliar.
Tak berbeda jauh, Analis Bahana Securities Teguh P. Hartanto memperkirakan, laba bersih BBTN bisa mencapai Rp 812 miliar. Namun ia menilai kinerja semester I BBTN, yang baru dilansir, tidak terlalu mempengaruhi pergerakan harga sahamnya. "Secara teknikal belum terlihat upside potential, harganya sudah terlalu mahal," jelas Teguh, kemarin (27/7).
Sementara itu, Isnaputra Iskandar, Analis OSK Nusadana Securities Indonesia, memperkirakan, pendapatan BBTN tahun ini bakal mencapai Rp 2,81 triliun. Adapun laba bersihnya, ia taksir mencapai Rp 683 miliar.
Meskipun seluruh analis meyakini kinerja BBTN di semester II bakal meningkat, mereka menilai harga saham BBTN sudah kelewat mahal. Jadi, Isnaputra merekomendasikan jual. "Target harga Rp 1.000," katanya.
Rahmi dan Teguh juga menilai sama. Rahmi memberi target harga Rp 1.260 per saham, dan Teguh mematok target harga Rp 1.900 per saham. Ia mengakui harga BBTN saat ini sudah di atas targetnya. "Akan saya revisi, tetapi untuk sementara masih saya rekomendasikan hold," sarannya.
Kemarin, harga saham BBTN berakhir di posisi Rp 1.940 per saham. Sumber: Kontan
Rekomendasi HD Capital Rabu 28 Juli 2010
HD Capital hari ini merekomendasikan untuk menjual Jasa Marga dan membeli saham INCO, ADRO, dan PTBA.
Rekomendasi ambil take profit di counter yang sudah mencapai new high & pasca-rally keluarnya kinerja semester I-2010. Namun beberapa sektor yang masih terdiskon 15% dari high April lalu seperti batubara & mining menarik untuk di akumulasi.
- IHSG close (27-07) 3.041.783(+15.896/+0.51%) (Vol Rp 3,8 triliun)
- Support: 3.025-2.960-2.880, Resistance: 3.070-3.100
Stock picks:
1. Jasa Marga (JSMR): (SELL) (Target koreksi: Rp 2.150) (close 27/07 Rp 2.300)
- Rekomen sell on strength karena rally ke new high yang didorong kinerja laba 1H 2010 (naik 63% versus periode sama tahun sebelumnya -in-line dengan expektasi) sudah mulai tercermin dalam harga.
- Exit: (1) Rp 2.375, Exit (2) Rp.2.425, Reverse posisi: Rp 2.475
2. International Nickel (INCO) (BUY): (Target: Rp 4.400) (Close 27/07 Rp 4.100)
- Sektor mining masih menyimpan potensi untuk adjustement ke IHSG yang mencetak new high di atas 3.000.
- IHSG sudah mencapai new high, namun INCO masih terdiskon 20% dari high Rp 5.500 di bulan April lalu.
- Sentimen positif dari proyeksi kenaikan permintaan nikel untuk 2010 (3%) dan 2011 (4%) yang dapat meningkatkan proyeksi kinerja laba kedepan dapa memicu investor untuk akumulasi pasca-profit taking kemarin untuk melanjutkan short-term up-trend menutup price gap di Rp.4.350-4.400
- Secara teknikal mulai terlihat perubahan ke tren positif pasca pencetakan new high di Rp 4.250 sehingga bila terjadi pullback rekomen akumulasi.
- Entry (1) Rp 4.100, (2) Rp 3.950 Cut loss point: Rp 3.800
3. Adaro Energy (ADRO) (BUY): (Target: Rp 2.175) (Close 27/07 Rp 2.050)
- Salah satu dari counter saham dengan market cap besar (Rp 65 triliun) yang masih terdiskon 15% dari high dua bulan lalu (April) membuatnya menarik untuk investor asing.
- Potensi penguatan harga batubara & rupiah membuka peluang untuk re-rating valuasi reserve batubara yang dimiliki.
- Entry: (1) Rp 2.050, Entry: (2) 2.000, Cut loss point: Rp 1.960
4. Bukit Asam (PTBA): (BUY) (Target: Rp 17.300) (close 27/07 Rp 16.800)
- Melanjutkan rekomendasi kemarin, kelihatannya sentimen negatif dari buruknya kinerja 1H 2010 & delay di proyek rel kereta sudah sepenuhnya terdiskon dalam koreksi sehingga potensi rebound ke resistance down-trend-line di Rp 17.300 dapat terjadi.
- Secara teknikal penutupan di atas Rp 16.700 menandakan oversold condition rally sedang terjadi pasca stochastic buy dari oversold area.
- Entry: (1) Rp 16.700, Exit (2) Rp 16.300, Cut-loss point: Rp 15.900
Analis ini dibuat oleh Yuganur Wijanarko
Senior Research HD Capital. (Yuganur@hdx.co.id)
Rekomendasi Beberapa Sekuritas, 28 Juli 2010
Berikut ini rekomendasi beberapa sekuritas untuk perdagangan hari ini, Rabu 28 Juli 2010.
1.e-Trading Securities
IHSG ditutup menguat 17 poin (0,59%) dan gagal membentuk new high pada Selasa (27/7). Asing net buy Rp 317 miliar, terbanyak pada saham otomotif.
Jika kita lihat, RSI dan stochastic menunjukkan IHSG cukup rawan profit taking karena ada di level overbought. Indeks akan mendapat sentimen dari berita consumer confidence AS dan bergerak dalam kisaran 3.015–3.090. Saham yang layak diperhatikan PTBA, INDF, dan DOID
2. Trimegah Securities
Di tengah sentimen yang kondusif dari regional, IHSG kembali menguat walaupun masih ada tekanan kemarin. Dengan pembentukan konvergensi positif antara IHSG dengan volume, hal ini menjadi indikasi masih ada peluang IHSG menguat dalam jangka menengah. Hari ini, indeks diperkirakan bergerak di kisaran 3.023-3.062. Saham pilihan BBRI dan SMGR.
3. Sucorinvest Central Gani
Selasa kemarin, IHSG sempat menguat 38 poin dan akhirnya ditutup plus 18 poin ke posisi 3.042. Penguatannya ditopang oleh kenaikan saham sektor barang konsumsi, dan infrastruktur, di tengah penurunan indeks bursa regional. IHSG diperkirakan mixed dengan potensi profit taking pada kisaran 3.014-3.051 hari ini. Buy JSMR dan UNVR, serta hold BNGA dan TLKM.
4. Sinarmas Sekuritas
Antisipasi atas kinerja keuangan emiten semester I-2010 akan menjadi katalis bagi IHSG. Pemodal akan selective buying terhadap saham yang diperkirakan memiliki fundamental yang solid. Investor bisa memilih saham secara sektoral, yakni perbankan, konsumer, semen, dan infrastruktur.
Subscribe to:
Posts (Atom)











