rss
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites

Thursday, July 29, 2010

Rekomendasi Beberapa Sekuritas, 29 Juli 2010

Berikut rekomendasi beberapa sekuritas untuk hari ini, Kamis 29 Juli 2010.

1. Trimegah Securities
Terbentuknya candle pada Rabu (28/7) yang memiliki harga pembukaan IHSG yang tak berbeda jauh dengan harga penutupan sehari sebelumnya (27/7), membuat para pelaku pasar masih optimistis dengan penguatan IHSG akan berlanjut. Pergerakan indeks hari ini ada di kisaran 3.050-3077. Saham pilihan JSMR dan SMCB.

2. e-Trading Securities
IHSG ditutup menguat 15 poin (0,51%) setelah sempat menguat hingga 30 poin lebih dan mengenai level resistance 3.064 kemarin, dengan ditopang saham sektor antara lain semen, infrastruktur, dan telekomunikasi. 
    Broker asing net buy Rp 250 miliar. Sementara itu, RSI dan stochastic masih overbought, sehingga ada ancaman profit taking. Hari ini, IHSG akan mendapat sentimen dari data durable good AS dan bergerak pada kisaran 3.015–3.090. Saham yang dapat diperhatikan ADHI, TLKM, dan AKRA.

3. Erdikha Sekuritas
IHSG ditutup menguat 15,80 poin menjadi 3.057,48 kemarin, dengan ditopang penguatan saham sektor properti, infrastruktur, dan ragam industri. Secara teknikal,  indeks diperkirakan mixed dengan kecenderungan positif terbatas hari ini pada kisaran 3.012-3.080. Pergerakan saham properti masih layak diperhatikan.

4. Sinarmas Sekuritas
Jika terjadi golden cross pada indikator stochastic, itu sebagai isyarat bahwa rally kenaikan indeks kembali akan berlanjut hari ini. Sebaliknya, apabila gagal membentuk pola golden cross, IHSG akan tertahan. Indeks akan bergerak antara 3.034-3.080. Saham pilihan SMGR, SMCB, dan INDF.


Wednesday, July 28, 2010

Jamsostek Selesaikan Due Diligent Bukopin Pekan Depan

PT Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) segera menuntaskan uji tuntas (due diligent) akuisisi 20% saham PT Bank Bukopin Tbk (BBKP) pekan depan.

Demikian penjelasan Direktur Utama Jamsostek Hotbonar Sinaga, di Jakarta, Rabu (28/7). Dalam aksi korporasi itu, Jamsostek berencana menjadi pembeli siaga (standby buyer) dari penerbitan saham baru (rights issue) Bukopin.

"Bukopin kemarin sudah melakukan presentasi. Mereka menggambarkan rencana bisnis perusahaan secara umum saja, supaya kami mengetahui visi dan misi dari perusahaan," ujar Hotbonar.

Dia menambahkan, saat ini perusahaan masih menunggu hasil due diligence yang dilakukan PT Mandiri Sekuritas. Namun, Jamsostek masih tetap mengalokasikan anggaran sebesar Rp 500 miliar untuk bisa memiliki saham Bukopin.

Rencana ke Depan 
Setelah menguasai Bukopin, Jamsostek berencana memberikan kartu diskons kepada peserta Jamsostek untuk membeli kebutuhan bahan pokok seperti gula, beras, dan minyak goreng. Potongan harga diberikan jika rencana perusahaan menjadi pemegang saham PT Bank Bukopin Tbk terealisasi.

Potongan harga sebesar 25% dapat diperoleh jika peserta asuransi Jamsostek membeli ketiga bahan pokok tersebut di sejumlah outlet atau koperasi yang menjadi mitra Swamitra.

"Kami akan meminta Bukopin menyesuaikan operasionalnya ke depan agar sesuai dengan strategi bisnis Jamsostek," kata Hotbonar Sinaga, di kantor Kementerian BUMN.

Menurut Hotbonar, rencana potongan harga bisa dijalankan karena selama ini saham Bukopin dimiliki oleh Koperasi Pegawai Bulog Seluruh Indonesia. Bulog merupakan perusahaan pemerintah yang bertugas mengelola kebutuhan masyarakat seperti beras dan minyak goreng.

Saat ini, saham Bukopin dimiliki oleh Koperasi Pegawai Bulog Seluruh Indonesia sebesar 42,71%, Koperasi Perkayuan Apkindo (6,7%), pemerintah (17,23%), Yabistra Bulog (12,19%), dan publik 20,99%.

Potongan harga beras, minyak goreng, dan gula bisa dilakukan karena pemotongan jalur distribusi ketiga bahan pokok. "Jadi, nanti barang kebutuhan pokok itu langsung didistribusikan ke Swamitra," katanya.

Hotbonar menegaskan, rencana Jamsostek memiliki saham Bukopin tidak sepenuhnya untuk tujuan mencari dividen. Aksi korporasi itu ditempuh sebagai upaya Jamsostek memberikan tambahan manfaat dan kesejahteraan kepada peserta asuransinya.

Laba Bersih AALI Semester I-2010 Turun 17%

Laba bersih PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) sepanjang semester I-2010 turun sebesar 17,32% dari Rp 769,849 miliar pada semester I-2009 menjadi Rp 636,451 miliar. Kenaikan harga pokok penjualan sebesar Rp 132,6 miliar menjadi penyebab turunnya laba.

Dalam laporan keuangan publikasinya disebutkan bahwa penjualan bersih AALI juga ikut turun tipis 0,56% menjadi Rp 3,52 triliun hingga akhir Juni 2010. Pada periode yang sama tahun lalu, perseroan membukukan penjualan bersih Rp 3,54 triliun.

Harga pokok penjualan perseroan naik tipis menjadi Rp 2,29 triliun dari Rp 2,16 triliun pada semester I-2009. Hal ini menyebabkan laba kotor menjadi Rp 1,23 triliun atau turun 11,03% dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 1,38 triliun.

Beban usaha AALI yang sebesar Rp 272,36 miliar, menjadikan laba usaha mencapai Rp 953,94 miliar. Laba usaha pun ikut turun 17,05% dari periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp 1,15 triliun.

Usai terpangkas beban lain-lain Rp 35,13 miliar, perseroan membukukan laba sebelum pajak Rp 918,79 miliar atau menurun dari semester I-2009 yang mencapai Rp 1,16 triliun.

Laba sebelum hak minoritas turun 17,11% menjadi Rp 636,45 miliar pada semester I-2010. Laba bersih pun menjadi Rp 636,45 miliar, atau turun 17,32%. Laba bersih per saham pun menjadi Rp 404,16 per lembar, turun dari semester I-2009 yang mencapai Rp 488,87 per lembar.

Laba Bersih PTPP Meroket 122%

PT Pembangunan Perumahan Tbk (PTPP) mencatat laba bersih sebesar Rp 25,22 miliar hingga semester I-2010 atau meroket 121,61% dibanding posisi tahun lalu yang hanya Rp 11,38 miliar. Kenaikan laba ini didorong naiknya pendapatan akibat keuntungan atas beberapa proyek perseroan.

Demikian disampaikan Direktur Utama PTPP Musyanif, dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Rabu (28/7).

Pendapatan perseroan hingga akhir Juni 2010 mencapai Rp 2,1 triliun. Ini termasuk proyek yang carry over pada 2009. Kontribusi pendapatan terbesar PTPP masih disumbang dari sektor gedung sebesar 70%, sisanya pembangunan jalan tol, pelabuhan, jembatan, dan lain-lain.

Laba kotor BUMN karya ini mencapai Rp 142,14 miliar. Marjin laba ini naik dari 9% pada semester I-2009 menjadi 10,5% setahun kemudian. Laba usaha perseroan naik menjadi Rp 89,03 miliar, dengan marjin meningkat mencapai 6,6% hingga semester-I-2010.

Usai terpangkas beban pajak dan hak minoritas, laba bersih PTPP mencapai Rp 25,22 miliar, naik 121,61% dibanding posisi tahun lalu yang sebesar Rp 11,38 miliar.

Target order book sepanjang tahun ini adalah Rp 16,2 triliun. "Sebanyak Rp 13,6 triliun merupakan kontrak baru dan Rp 2,59 triliun merupakan carry over 2009," jelasnya.

Perseroan juga bersiap berinvestasi di bidang infrastruktur, terutama pembangkit listrik serta dermaga.

Riset PTBA oleh JP Morgan

Hasil riset tentang PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) oleh JP Morgan, terbit 28 Juli 2010.

Riset PTBA oleh JP Morgan                                                                                                                                   

Hasil Riset Soal Bank Mandiri oleh JP Morgan

 Hasil riset mengenai PT Bank Mandiri Tbk yang dilakukan JP Morgan dan dipublikasikan hari ini, 28 Juli 2010.
 
Riset PT Bank Mandiri Tbk oleh JP Morgan                                                                                                                                   

Memo Kim Eng Sekuritas 28 Juli 2010

Memo Kim Eng Sekuritas 28 Juli 2010.

Memo Kim Eng 28 Juli 2010                                                                                                                                   

Riset PTBA oleh Danareksa

Riset tentang PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk oleh Danareksa Research, terbit hari ini, 28 Juli 2010.

PTBA oleh Danareksa                                                                                                                                   

Deutsche Securities Berbalik Arah Beli SMCB

Broker Deutsche Securities pada perdagangan sesi dua hari ini berbalik arah memburu saham PT Holcim Indonesia Tbk (SMCB), setelah pada pagi harinya melepas saham ini.

Langkah ini membuat Deutsche Securities membukukan net buying 1.762 lot, setelah membeli 9.012 lot (Rp 2.367) dan menjual 7.250 lot (Rp 2.338).

Broker yang paling banyak mengoleksi SMCB adalah Kim Eng Sekuritas sebanyak 6.855 lot  di harga rp 2.354 dengan hanya menjual 1.230 lot (Rp 2.373). Bahana Securities memborong 3.080 di harga Rp 2.369 tanpa menjual sama sekali.

Langkah yang sama juga dilakukan oleh Credit Suisse tanpa menjual SMCB sama sekali namun membeli sebanyak 2.893 lot di harga Rp 2.335. Lautandhan Securindo juga membeli 3.078 lot di harga Rp 2.358 dengan hanya menjual 208 lot (Rp 2.381).

SMCB ditutup naik Rp 75 ke harga Rp 2.375 setelah pada sesi pagi cukup lama bertahan di harga Rp 2.325.
 

Demand Buying Still Happen for BJBR

Saham PT Bank Jabar Banten Tbk (BJBR) masih menarik perhatian sejumlah broker besar untuk membeli. CLSA Indonesia tercatat sebagai broker yang paling banyak memborong, yakni 15.150 lot di harga rata-rata Rp 1.245 tanpa menjual sama sekali.

Langkah CLSA juga diikuti oleh UBS Securities dengan memborong 40.016 (Rp 1.241) dan menjual 32.746 lot (Rp 1.242), sehingga membukukan net buying 7.270 lot.

Hortus Danavest memborong 6.657 lot di harga Rp 1.249 tanpa menjual sama sekali. Henan Putihrai membeli 7.710 di harga rata-rata Rp 1.230 dan menjual 1.149 lot di harga Rp 1.239.

CIMB-GK Securities kini membeli 9.322 lot di harga Rp 1.245 dan menjual 2.863 lot di harga Rp 1.232. JP Morgan Securities Indonesia juga membeli 4.939 lot di harga Rp 1.243 dengan hanya menjual 939 lot (Rp 1.217).

Akibat munculnya kembali animo beli terhadap BJBR, harga saham ini naik Rp 30 ke Rp 1.250. Sehari sebelumnya, saham ini dibuka di harga Rp 1.200 kemudian menyentuh Rp 1.270 namun ditutup di harga Rp 1.220.

Suprasurya Danawan Still Buying PTPP

Broker PT Suprasurya Danawan Sekuritas dengan kode perdagangan WW masih memborong 17.272 lot saham PTPP hari ini. Broker ini membeli di harga rata-rata Rp 789 dan hanya menjual 2.000 lot di harga Rp 780.

Broker lainnya, yakni Prime Capital Securities membeli 13.948 lot di harga Rp 792 dengan menjual 6.948 lot di harga Rp 788. Terakhir, PT Aldiracita Corpotama membeli 5.300 lot di harga Rp 795 tanpa menjual sama sekali.

Saham PTPP naik Rp 10 ke Rp 790. 

Jasa Marga Still Actractive for Foreigners

Saham PT Jasa Marga Tbk masih menarik animo asing untuk membeli. Sepanjang perdagangan Rabu, 28 Juli 2010, tidak ada aktivitas asing menjual saham ini. Dominasi penjualan lebih banyak dilakukan oleh lokal. (Lihat ulasan sebelumnya, klik di sini).

Hingga pukul 16.00 WIB, tercatat ada empat broker yang paling aktif memperdagangkan Jasa Marga. Di peringkat pertama, CIMB-GK Securities sebanyak 30.839 lot di harga Rp 2.496 (rata-rata) dan menjual 5.834 lot (Rp 2.472).

Deutsche Securities juga membeli 25.207 lot di harga Rp 2.495 dengan hanya menjual 641 lot di harga Rp 2.575. Credit Suisse Securities juga memborong 23.944 lot di harga Rp 2.487 tanpa menjual sama sekali.

Terakhir, CLSA Indonesia membukukan pembelian 9.000 lot di harga Rp 2.427 dengan hanya menjual 1.900 lot di harga Rp 2.536. harga JSMR naik Rp 250 atau 10,87% ke Rp 2.550.

Asing Buru Saham Jasa Marga

Pada perdagangan Rabu, 28 Juli 2010, hingga sesi I, asing terus memburu saham Jasa Marga (JSMR) tanpa menjual sama sekali. Investor lokal justru menjadi pemain yang menjual saham ini.

Investor asing memburu saham ini melalui empat broker yakni Deutsche Securities Indonesia, CIMB-GK Securities Indonesia, Credit Suisse Securities Indonesia, dan CLSA Indonesia.

Deutsche memborong 12.758 lot saham JSMR dengan harga rata-rata Rp 2.444 tanpa menjual saham sekali. Di urutan kedua ditempati CIMB-GK Securities yang memborong 16.826 lot di harga Rp 2.456 dengan hanya menjual 4.220 (Rp 2.451). Credit Suisse ikut memboorong 10.840 lot di harga Rp 2.425 tanpa menjual sama sekali. Langkah yang sama juga dilakukan oleh CLSA Indonesia sebanyak 9.000 lot di harga Rp 2.427 tanpa menjual sama sekali.





Harga saham JSMR hingga jam 12.00 ini ditutup naik Rp 225 atau naik 9,78% menjadi Rp 2.525 meski sempat menyentuh Rp 2.550.

Tin Gains to Highest Level Since Lehman Failure in 2008 as Stockpiles Drop

Tin, the best performing industrial metal this year, climbed to the highest level since the collapse of Lehman Brothers Holdings Inc. in September 2008 as shrinking inventories signaled steady demand. 

The metal for three-month delivery advanced as much as 2.1 percent to $19,800 a metric ton on the London Metal Exchange, and traded at $19,500 at 1 p.m. in Shanghai. That’s the highest intraday price since Sept. 3, 2008, before Lehman’s failure triggered a credit-market seizure and global recession. 

LME inventories of the metal used in packaging, solder and cans have shrunk 43 percent this year to 15,370 tons, the lowest level since June 2009. A rally in equity markets, declines in the dollar and optimism that the economic recovery remains intact helped an index of London-traded metals to post the biggest weekly gain since February last week. 

“The contractions in stockpiles underline improving demand against supply,” Ran Jun, an analyst at researcher Beijing Antaike Information Development Co., said today. Demand for tin products and electronics has recovered a lot from western countries this year, Ran said. 

Exports of tin from Indonesia, the world’s largest producer, dropped 16 percent this year through May compared with the same period last year, Barclays Capital said on July 13. 

Outbound shipments fell 25.7 percent in June from a year ago, according to Indonesia’s trade ministry. 

Supply Deficit
“Tin may reach a supply deficit this year because production from Indonesia, which supplies around 30 percent of world demand, isn’t as much as last year,” Metty Fauziah Wardhani, a mining analyst at PT Danareksa Sekuritas, said in an interview today. 

“From the demand side there is an increase because production of electronics, which account for about 60 percent of demand, is rising,” he said. 

Tin’s rally has boosted the shares of producers. Yunnan Tin Co., China’s largest producer, has jumped 22 percent this month while the benchmark CSI 300 Index has risen 9.3 percent. 

PT Timah, Indonesia’s largest producer, touched a high of 2,475 rupiah today and yesterday, the highest price since May 5. 

“Timah’s performance will be helped because of the improvement in tin price,” said Wardhani. “Timah’s share price may climb to 3,000 rupiah by year end.” 

Tin futures in London have gained 15 percent this year, while nickel, the second-best performer, has advanced 12 percent, according to Bloomberg data. The three-month copper contract has lost 3.8 percent. Source: Bloomberg

Laba Per Saham AKRA Rp 38,3

PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) membukukan kenaikan laba bersih 27,47% pada semester I-2010 dibandingkan dengan posisi semester I-2009.

Dalam publikasi laporan keuangannya, laba bersih AKR mencapai Rp 140,79 miliar atau Rp 38,30 per saham pada semester I-2010 dibandingkan dengan posisi yang sama tahun lalu Rp 110,45 miliar atau Rp 35,34 per saham.

Kenaikan laba bersih AKR disumbang oleh laba selisih kurs Rp 36,06 miliar dan penghasilan lain-lain bersih senilai Rp 9,64 miliar. Pada 6 bulan pertama tahun lalu, AKR masih membukukan rugi selisih kurs Rp 8,67 miliar.

Meski begitu, laba usaha AKR menurun 22,06% dari Rp 263,82 miliar pada semester I-2009 menjadi Rp 205,61 miliar pada semester I-2010.

Dalam setahun terakhir, pendapatan emiten itu naik 32,49% dari Rp 3,94 triliun menjadi Rp 5,22 triliun. 

Laba SOBI Turun 46%

PT Sorini Agro Asia Corporindo Tbk (SOBI) mencatatkan penurunan laba bersih selama semester I-2010 sebesar 46% menjadi Rp 45,1 miliar, jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp 83,5 miliar.

Meski demikian, perseroan mencatatkan kenaikan penjualan dalam setahun terakhir sebesar 15,7% dari Rp 740,5 miliar menjadi Rp 856,7 miliar. Usaha perusahaan juga terus bertumbuh dengan total volume penjualan naik 23,4%.

"Fokus kami di pasar Indonesia telah terbukti sebagai strategi yang akurat dengan semester I-2010 penjualan domestik mencapai Rp 484 miliar atau naik 41,6% secara y-o-y," ujar President Director SOBI Haryanto Adikoesoemo, dalam keterangan tertulisnya kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), di Jakarta, Rabu (28/7).

Angka penjualan domestik tumbuh 41,6% (yoy) menjadi Rp 484 miliar berbanding Rp 342 miliar. Hal ini dikarenakan penetrasi yang lebih tinggi dari produk Starch dan Starch Sweetener di pasar domestik sejalan dengan permintaan yang kuat dari segmen consumer product.

Penjualan Sorini yang menggunakan nilai tukar USD mengalami kenaikan signifikan, sedangkan penjualan ekspor dalam mata uang rupiah menunjukkan nilai yang lebih rendah pada semester I-2010 dibandingkan periode yang sama tahun lalu, meski sebenarnya naik 12,7% dalam USD.

Angka penjualan dalam nilai rupiah memperlihatkan kenaikan hanya 15,7%, rendah jika dibandingkan dengan kenaikan sebesar 39,4% dengan penjualan dalam USD. Hal ini juga telah mempengaruhi marjin keuntungan semester I-2010.

Nilai tukar rupiah terus menguat terhadap mata uang asing termasuk USD pada kuartal I-2010. Rata-rata nilai tukar rupiah terhadap USD pada 30 Juni 2010 adalah sebesar Rp 9.189, sedangkan pada 30 Juni 2009 nilai tukarnya mencapai Rp 11.075, penguatan sebesar 17%.

Laba Resource Alam Indonesia Melonjak 169%


PT Resource Alam Indonesia Tbk mencetak lonjakan laba bersih 168,97% pada semester I-2010 karena pertumbuhan penjualan bersih.

Dalam publikasi laporan keuangannya disebutkan emiten itu membukukan laba bersih Rp 69,59 miliar atau Rp 70 per saham pada semester I-2010 dibandingkan dengan laba bersih pada periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 25,96 miliar atau Rp 26 per saham.

Laba usaha Resource Alam dalam setahun terakhir juga melejit 169,11% dari Rp 36,77 miliar menjadi Rp 98,95 miliar.

Penjualan bersih perusahaan mampu tumbuh 85,26% dari Rp 223,23 miliar menjadi Rp 413,55 miliar.

Harga BBTN Terlalu Mahal???


PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) mencatatkan kinerja cemerlang di semester I 2010. Per Juni 2010, laba bersih BBTN mencapai Rp 390,61 miliar. Angka ini melonjak 97,11% dibandingkan dengan perolehan laba bersih di periode yang sama 2009, yang sebesar Rp 198,16 miliar.

Kinerja cemerlang itu berkat ekspansi kredit BTN yang tumbuh 29,61% menjadi Rp 46,41 triliun. Meski gencar menyalurkan kredit, BBTN mampu menjaga kualitas kreditnya. "NPL (tingkat kredit macet) nett BTN per 30 Juni 2010, 3,4%," ujar Iqbal Latanro, Direktur Utama BBTN.

BBTN juga mencatat margin bunga bersih atau nett interest margin (NIM) sebesar 5,81%. Dibanding tahun lalu yang sebesar 4,04%, margin ini lebih tinggi.

BBTN juga berhasil menekan biaya menjadi 59,09% dari pendapatannya. Angka ini turun jauh dibandingkan semester I tahun lalu yang mencapai 70,4%. "Ini artinya kami berhasil melakukan efisiensi biaya operasional," kata Iqbal.

Di sisi pemasukan, bank yang fokus menggarap kredit pemilikan rumah (KPR) ini berhasil mengantongi dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp 39,99 triliun. Itu berarti tumbuh 16,69% jika dibandingkan DPK per Juni 2009, yang sebesar Rp 34,28 triliun.

Bank pelat merah yang baru saja mencatatkan sahamnya di BEI ini menargetkan pertumbuhan kredit 30% di 2010. Para analis yakin, target ini akan gampang tercapai.

Pendapat Analis
 
Analis Kim Eng Securities Rahmi Marina tak meragukan kinerja BBTN hingga akhir tahun ini. Salah satu alasannya, BBTN mematok bunga KPR 2%-3% di atas rata-rata pasar KPR saat ini. "Hal ini membuat NIM BBTN tetap di atas 5% hingga akhir tahun," ucapnya.

Ia juga melihat, BBTN masih akan fokus menyalurkan sekitar 90% kreditnya ke sektor perumahan. "BBTN masih dalam tahap belajar untuk menyalurkan kredit pada segmen non-KPR," jelas Rahmi.

Namun, Rahmi mengingatkan, biasanya peningkatan kredit akan diikuti potensi kenaikan kredit macet. "NPL BBTN bisa mencapai 4,05% hingga 4,98%," ramalnya. Toh, ia memprediksi, laba bersih BBTN tahun ini bisa mencapai Rp 866 miliar.

Tak berbeda jauh, Analis Bahana Securities Teguh P. Hartanto memperkirakan, laba bersih BBTN bisa mencapai Rp 812 miliar. Namun ia menilai kinerja semester I BBTN, yang baru dilansir, tidak terlalu mempengaruhi pergerakan harga sahamnya. "Secara teknikal belum terlihat upside potential, harganya sudah terlalu mahal," jelas Teguh, kemarin (27/7).

Sementara itu, Isnaputra Iskandar, Analis OSK Nusadana Securities Indonesia, memperkirakan, pendapatan BBTN tahun ini bakal mencapai Rp 2,81 triliun. Adapun laba bersihnya, ia taksir mencapai Rp 683 miliar.

Meskipun seluruh analis meyakini kinerja BBTN di semester II bakal meningkat, mereka menilai harga saham BBTN sudah kelewat mahal. Jadi, Isnaputra merekomendasikan jual. "Target harga Rp 1.000," katanya.

Rahmi dan Teguh juga menilai sama. Rahmi memberi target harga Rp 1.260 per saham, dan Teguh mematok target harga Rp 1.900 per saham. Ia mengakui harga BBTN saat ini sudah di atas targetnya. "Akan saya revisi, tetapi untuk sementara masih saya rekomendasikan hold," sarannya.

Kemarin, harga saham BBTN berakhir di posisi Rp 1.940 per saham. Sumber: Kontan

Rekomendasi Mega Capital, 28 Juli 2010

Rekomendasi Mega Capital hari ini, 28 Juli 2010.

Mega Capital 28 Juli 2010                                                                                                                                   

Rekomendasi HD Capital Rabu 28 Juli 2010

 
HD Capital hari ini merekomendasikan untuk menjual Jasa Marga dan membeli saham INCO, ADRO, dan PTBA.

Rekomendasi ambil take profit di counter yang sudah mencapai new high & pasca-rally keluarnya kinerja semester I-2010. Namun beberapa sektor yang masih terdiskon 15% dari high April lalu seperti batubara & mining menarik untuk di akumulasi.
  • IHSG close (27-07) 3.041.783(+15.896/+0.51%) (Vol Rp 3,8 triliun)
  • Support: 3.025-2.960-2.880, Resistance: 3.070-3.100
 
Stock picks:
 
1.    Jasa Marga (JSMR): (SELL) (Target koreksi: Rp 2.150) (close 27/07 Rp 2.300)
  • Rekomen sell on strength karena rally ke new high yang didorong kinerja laba 1H 2010 (naik 63% versus periode sama tahun sebelumnya -in-line dengan expektasi) sudah mulai tercermin dalam harga.
  • Exit: (1) Rp 2.375, Exit (2) Rp.2.425, Reverse posisi: Rp 2.475

2.    International Nickel (INCO) (BUY): (Target: Rp 4.400) (Close 27/07 Rp 4.100)
  •   Sektor mining masih menyimpan potensi untuk adjustement ke IHSG yang mencetak new high di atas 3.000.
  • IHSG sudah mencapai new high, namun INCO masih terdiskon 20% dari high Rp 5.500 di bulan April lalu.
  • Sentimen positif dari proyeksi kenaikan permintaan nikel untuk 2010 (3%) dan 2011 (4%) yang dapat meningkatkan proyeksi kinerja laba kedepan dapa memicu investor untuk akumulasi pasca-profit taking kemarin untuk melanjutkan short-term up-trend menutup price gap di Rp.4.350-4.400
  • Secara teknikal mulai terlihat perubahan ke tren positif pasca pencetakan new high di Rp 4.250 sehingga bila terjadi pullback rekomen akumulasi.
  • Entry (1) Rp 4.100, (2) Rp 3.950 Cut loss point: Rp 3.800
 
3.   Adaro Energy (ADRO) (BUY): (Target: Rp 2.175) (Close 27/07 Rp 2.050)
  • Salah satu dari counter saham dengan market cap besar (Rp 65 triliun) yang masih terdiskon 15% dari high dua bulan lalu (April) membuatnya menarik untuk investor asing.
  • Potensi penguatan harga batubara & rupiah membuka peluang untuk re-rating valuasi reserve batubara yang dimiliki.
  • Entry: (1) Rp 2.050, Entry: (2) 2.000, Cut loss point: Rp 1.960
 
4.   Bukit Asam (PTBA): (BUY) (Target: Rp 17.300) (close 27/07 Rp 16.800)
  • Melanjutkan rekomendasi kemarin, kelihatannya sentimen negatif dari buruknya kinerja 1H 2010 & delay di proyek rel kereta sudah sepenuhnya terdiskon dalam koreksi sehingga potensi rebound ke resistance down-trend-line di Rp 17.300 dapat terjadi.
  • Secara teknikal penutupan di atas Rp 16.700 menandakan oversold condition rally sedang terjadi pasca stochastic buy dari oversold area.
  • Entry: (1) Rp 16.700, Exit (2) Rp 16.300, Cut-loss point: Rp 15.900
 
Analis ini dibuat oleh Yuganur Wijanarko
Senior Research HD Capital. (Yuganur@hdx.co.id)

Rekomendasi Beberapa Sekuritas, 28 Juli 2010

Berikut ini rekomendasi beberapa sekuritas untuk perdagangan hari ini, Rabu 28 Juli 2010.

1.e-Trading Securities
IHSG ditutup menguat 17 poin (0,59%) dan gagal membentuk new high pada Selasa (27/7). Asing net buy Rp 317 miliar, terbanyak pada saham otomotif.

Jika kita lihat, RSI dan stochastic menunjukkan IHSG cukup rawan profit taking karena ada di level overbought. Indeks akan mendapat sentimen dari berita consumer confidence AS dan bergerak dalam kisaran 3.015–3.090. Saham yang layak diperhatikan PTBA, INDF, dan DOID

2. Trimegah Securities
Di tengah sentimen yang kondusif dari regional, IHSG kembali menguat walaupun masih ada tekanan kemarin. Dengan pembentukan konvergensi positif antara IHSG dengan volume, hal ini menjadi indikasi masih ada peluang IHSG menguat dalam jangka menengah. Hari ini, indeks diperkirakan  bergerak di kisaran 3.023-3.062. Saham pilihan BBRI dan SMGR.

3. Sucorinvest Central Gani
Selasa kemarin, IHSG sempat menguat 38 poin dan akhirnya ditutup plus 18 poin ke posisi 3.042. Penguatannya ditopang oleh kenaikan saham sektor barang konsumsi, dan infrastruktur, di tengah penurunan  indeks bursa regional. IHSG diperkirakan mixed dengan potensi profit taking pada kisaran 3.014-3.051 hari ini. Buy JSMR dan UNVR, serta hold BNGA dan TLKM.
             
4. Sinarmas Sekuritas
Antisipasi atas kinerja keuangan emiten semester I-2010 akan menjadi katalis bagi IHSG. Pemodal akan selective buying terhadap saham yang diperkirakan memiliki fundamental yang solid. Investor bisa memilih saham secara sektoral, yakni perbankan, konsumer, semen, dan infrastruktur.

Tuesday, July 27, 2010

Indonesia Equity Strategy by JP Morgan

Hari ini JP Morgan mengeluarkan riset yang menyatakan bursa saham Indonesia sudah overheating. Apakah Anda setuju? Baca detailnya dan beri komentar Anda.

Indonesia Equity Strategy by JP Morgan                                                                                                                                   

Riset Industri Multi Finance Oleh AAA Sekuritas

Berikut hasil riset industri multifinance nasional yang dilakukan oleh AAA Sekuritas.

Riset Industri Multi Finance by AAA Sekuritas                                                                                                                                   

Amazing Movement for JPFA

Amazing moment ditunjukkan emiten PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), produsen ayam. Saham ini terus menguat setelah 3 bulan lamanya bertengger di harga Rp 1.500-an. 

Kemarin, saham ini naik Rp 175 menjadi Rp 2.075 untuk pertama kalinya sekaligus mencetak harga tertinggi. Broker Ciptadana Securities memborong 6.147 lot di harga rata-rata Rp 1.976 dengan hanya menjual 841 lot (Rp 2.012).

Nusadana Capital masih tetap membeli sebanyak 3.776 di harga Rp 1.992. Broker ini sudah masuk di JPFA sejak harga Rp 1.700-1800. Penjualan dilakukan sebanyak 786 lot di harga Rp 2.012.

Kim Eng dan Mega Capital juga membeli 2.574 lot dan 2.480 lot di harga Rp 1.936 dan Rp 2.021. Penjualan hanya 299 lot untuk Kim Eng Sekuritas dan 592 lot untuk  Mega Capital. 

Satu-satunya broker penjual terbanyak adalah BNP Paribas Peregrine sebanyak 10.000 lot di harga Rp 1.982. Broker ini selalu konsisten menjual saham JPFA, karena sudah mengumpulkannya ketika JPFA masih di harga Rp 700-an sebelum emiten ini merger dengan PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN).

Merrill Lynch Kembali Akumulasi PGAS

Merrill Lynch Indonesia kembali memborong saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS). Sepanjang Selasa (27/7), Merrill Lynch dengan kode ML memborong 14.960 lot di harga rata-rata Rp 4.082 dengan hanya menjual 284 lot.


Broker lainnya yang memburu saham PGAS adalah CIMB-GK Securities Indonesia sebanyak 8.419 lot di harga Rp 4.080 dengan hanya menjual 210 lot.

Credit Suisse Indonesia memborong 5.056 lot di harga Rp 4.094 tanpa menjual sama sekali. 

Dua broker yang aktif melepas saham ini adalah CLSA Indonesia sebanyak 9.485 lot di harga Rp 4.099 namun membeli sebanyak 2.430 lot di harga Rp 4.065. Deutsche Securities juga menjual 12.071 lot di harga Rp 4.083 namun membeli 1.448 lot di harga Rp 4.092.

Harga saham PGAS sendiri ditutup pada harga Rp 4.100, turun Rp 25. Harga saham ini sempat menyentuh Rp 4.050.

Silent Operation Still Happen for INDF

Silent operation masih terjadi di saham INDF. Ini menyusul adanya ekspektasi kuat bahwa kinerja emiten ini sangat luar biasa. Broker UBS Securities memborong 12.309 lot di harga Rp 4.511 dengan hanya menjual 636 lot (Rp 4.512). 

Credit Suisse Securities Indonesia juga memborong 3.379 lot (Rp 4.519) tanpa menjual sama sekali. Langkah yang sama juga dilakukan oleh Hortus Danavest dengan membeli 3.000 lot di harga rata-rata Rp 4.500. Saham ini sempat menguat ke Rp 4.550 sebelum ditutup di harga Rp 4.500, naik Rp 50 dibandingkan harga kemarin.

Tidak ada penjualan besar-besaran di saham ini. Tampaknya fase akumulasi masih berjalan secara diam-diam.

CIMB-GK Buru Saham Jasa Marga

Kinerja luar biasa yang dibukukan Jasa Marga menarik sejumlah broker untuk memburu saham ini. Tercatat CIMB-GK Securities membeli 24.755 lot (Rp 2.260) dengan melepas 9.167 lot (Rp 2.240).

Sementara itu, JP Morgan memborong 12.400 lot di harga rata-rata Rp 2.299 tanpa menjual sama sekali. Broker Indo Premier Securities membeli 6.859 lot di harga Rp 2.271 dengan hanya menjual sedikit, yakni 570 lot (Rp 2.273).

Credit Suisse Securities juga membeli 5.240 lot (Rp 2.287) dengan hanya menjual 570 lot (Rp 2.273).

Broker yang paling banyak menjual saham JSMR adalah Mega Capital sebanyak 12.664 lot di harga rata-rata Rp 2.295. Broker ini juga membeli 4.747 lot di harga Rp 2.271.

Mandiri Securitas menjual 18.058 lot di harga Rp 2.279 dengan hanya membeli 2.085 (Rp 2.269). Harga saham Jasa Marga ditutup naik Rp 125 menjadi Rp 2.300.

Deutsche Securities Keep Buying SMCB

Deutsche Securities Indonesia memborong 9.530 lot saham SMCB atau PT Holcim Indonesia Tbk, produsen semen ketiga di Indonesia. Broker ini memborong 9.530 lot saham SMCB tanpa menjual sama sekali. Harga pembelian rata-rata adalah Rp 2.250.

Saham ini sempat melemah dari Rp 2.275 menjadi Rp 2.250 namun kemudian ditutup menguat ke Rp 2.300. Mandiri Sekuritas berada di urutan kedua broker pemborong terbanyak saham SMCB, yakni 4.064 lot di harga rata-rata Rp 2.262 dengan hanya menjual 50 lot (Rp 2.250).

CIMB-GK Securities kini menjadi menjual 6.758 lot saham SMCB di harga rata-rata Rp 2.255 bersama dengan JP Morgan Securities yang melepas 9.142 lot di harga Rp 2.258.

Broker Suprasurya Terus Koleksi PTPP

Broker Suprasurya Danawan Sekuritas terus mengoleksi saham PTPP dengan setia. Broker ini, berdasarkan pemantauan saya, sudah memborong saham PTPP baik ketika harganya turun maupun naik, mulai dari harga Rp 650. Bahkan ketika harga PTPP sudah di atas Rp 740 pun, Suprasurya terus memburunya. Entah motifnya apa..

Pada perdagangan Selasa, 27 Juli 2010, Suprasurya kembali memborong 17.865 lot saham PTPP dengan hanya menjual 20 lot. Rata-rata harga pembelian adalah Rp 782 dan penjualan Rp 790.

Broker lainnya yang aktif membeli PTPP adalah Kapita Sekurindo sebanyak 5.502 lot dengan harga rata-rata Rp 787 dengan hanya melepas 25 lot di harga Rp 790. UBS Securities juga memborong 4.000 lot di harga Rp 785 tanpa menjual sama sekali saham ini.

Saham PTPP ditutup naik Rp 10 ke Rp 780 setelah sempat menyentuh Rp 800.

Analisis Teknikal INDF

PT Indofood Sukses Makmur Tbk                                                                                                                                   

Rekomendasi Trimegah, 27 Juli 2010

Rekomendasi Trimegah                                                                                                                                   

Rekomendasi Mega Capital 27 Juli 2010

Mega Capital 27 Juli 2010                                                                                                                                   

Bentoel Cetak Lonjakan Laba Bersih 386%

PT Bentoel Internasional Investama Tbk (RMBA) yang memproduksi rokok mampu mencetak lonjakan laba hingga 386,39% pada semester I-2010 berkat pertumbuhan penjualan bersih.

Perusahaan rokok eks-Rajawali Grup ini meraih laba bersih Rp 112,6 miliar
Perusahaan rokok eks-Grup Rajawali ini memperoleh laba bersih Rp 112,60 miliar atau Rp 15,55 per saham pada semester I-2010 dibandingkan Juni-2009 sebesar Rp 23,15 miliar atau Rp 3,44 per saham.

Dalam setahun terakhir, laba usaha Bentoel juga tumbuh 63,81% dari Rp 179,27 miliar menjadi Rp 293,67 miliar.

Bentoel juga mampu mencetak penjualan bersih Rp4,37 triliun dibandingkan dengan posisi yang sama tahun lalu sebesar Rp 2,86 triliun.

Laba Bersih Latinusa Melonjak 481%

Lonjakan laba bersih berkat kenaikan penjualan dan penurunan rugi kurs
Laba bersih produsen lembaran timah untuk pelapis kaleng PT Pelat Timah Nusantara Tbk (Latinusa) per Juni-2010 melonjak 480,67% menjadi Rp 55,28 miliar.

Lonjakan laba bersih itu ditopang oleh pertumbuhan penjualan bersih dan penurunan kerugian kurs.

Dalam setahun terakhir, Latinusa membukukan laba bersih sebesar Rp 55,28 miliar atau Rp 22 per saham dibandingkan Rp 9,52 miliar atau Rp 9 per saham.

Rugi kurs emiten itu menurun drastis dari Rp 7,39 miliar pada Juni 2009 menjadi Rp 1,31 miliar pada Juni 2010.

Latinusa juga mampu menumbuhkan laba usaha sebesar 167,67% dari Rp 28,02 miliar menjadi Rp 75 miliar. Penjualan bersih Latinusa naik 21,29% dari Rp 596,03 miliar menjadi Rp 722,93 miliar .

Laba Bersih Per Saham Phapros Rp 134

Laba per saham per Juni 2010 mencapai Rp 134/saham
Produsen obat PT Phapros Tbk dalam setahun terakhir mampu membukukan kenaikan laba bersih sebesar 19%, ditopang oleh pertumbuhan penjualan bersih.

Dalam laporan keuangan yang dipublikasikan hari ini disebutkan Phapros mencetak laba bersih Rp 11,21 miliar atau Rp 134 per saham pada akhir Juni-2010 dibandingkan Juni 2009 sebesar Rp 9,42 miliar atau Rp 112 per saham.

Laba usaha emiten farmasi ini naik 56,92% dari Rp 8,82 miliar menjadi Rp 13,84 miliar. Penjualan bersih Phapros juga meningkat 20,60% dari Rp 111,34 miliar menjadi Rp 134,28 miliar.

 

Laba Bersih Sampoerna Agro Tumbuh 37,82%


Perusahaan kelapa sawit milik Sampoerna Grup, PT Sampoerna Agro Tbk berhasil mencetak pertumbuhan laba bersih sebesar 37,82% dari Rp 95,04 miliar atau Rp 51 per saham per Juni-2009 menjadi Rp 130,98 miliar atau Rp 69 per saham pada Juni 2010.

Rugi selisih kurs Sampoerna Agro juga menurun dari Rp 7,38 miliar per Juni 2009 menjadi Rp 353 juta tahun ini.

Pada periode sama, laba usaha Sampoerna Agro juga meningkat 29,87% dari Rp 148,25 miliar menjadi Rp 192,53 miliar.
 
Emiten ini mampu membukukan kenaikan penjualan bersih sebesar 33,17% dalam setahun terakhir. Dalam laporan keuangan yang dipublikasikan hari ini disebutkan emiten CPO itu membukukan penjualan Rp 745,65 miliar pada semester I-2010 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 559,91 miliar.



Riset Berau Coal Energy oleh Reliance Securities

Berikut ini riset PT Berau Coal Energy Tbk yang dilakukan oleh Reliance Securities.

IPO Berau Coal Energy by Reliance                                                                                                                                   

Rekomendasi HD Capital, Selasa 27 Juli 2010

Berikut rekomendasi HD Capital:

BUY: (PTBA, AGRO, TINS,) SELL (PTPP)
  • Bila terjadi koreksi di IHSG akibat keadaan jenuh beli rekomen akumulasi untuk teknikal rebound karena index masih dalam fase kondolidasi dari kondisi non-trending ke trending (positif).
  • IHSG close (26-07) 3.026.320(-15.383/-0.50%) (Val.Rp.2.7T)
  • Support: 3.005-2.980-2.940, Resistance: 3.050-3.100
 
Stock picks:
 
1. Bukit Asam (PTBA): (BUY) (Target: Rp 16.700) (close 26/07 Rp 16.500)
  • Sentimen negatif dari mundurnya jadwal proyek rel kereta api, hasil kinerja keuangan 1H 2010 yang di bawah expektasi pasar (net profit 6-bln turun 43% vs tahun sebelumnya) kelihatannya sudah cukup tercermin dalam koreksi harga selama 2-minggu terakhir ini.
  • Secara teknikal mulai menjadi cukup jenuh beli untuk melakukan akumulasi & harga sebenarnya untuk reserve batubara (kedua terbesar) belum di price-in.
  • Entry: (1) Rp 16.200, Entry (2) Rp 15.700, Cut loss point: Rp 15.450
  
2. Bank Agroniaga (AGRO) (BUY):(Target: Rp 195) (Close 26/07 Rp 182)
  • "Shock" pasar dengan adanya informasi harga  akuisisi oleh BBRI di Rp 110/saham membawa AGRO terkoreksi cukup dalam, namun secara teknikal terlihat ada support kuat di garis tren Rp 165 sehingga rekomen akumulasi bila terjadi penekanan lebih lanjut rekomen akumulasi untuk teknikal rebound.
  • Entry (1) Rp 170, (2) Rp 165, Cut loss point: Rp 160
 
3.Tambang Timah (TINS)(BUY): (Target: Rp 2.475) (close 26/07 Rp 2.400)
  • Bila terjadi profit taking akibat keraguan akan  suksesnya proyek penambangan timah offshore rekomen akumulasi karena harga timah diperkirakan kembali ke normal tahun ini akibat bangkitnya kembali industry elektronik dan computer
  • Entry: (1) Rp 2.350, Entry: (2) 2.275, Cut loss point: Rp 2.200
 
4. PP Persero (PTPP): (SELL) (Target-koreksi: Rp 725-715) (close 26/07 Rp 770)
  • Beberapa katalis positif seperti keberhasilan meraih kontrak baru & hasil kinerja keuangan 1H 2010 sudah cukup tercermin dalam rally harga ke all time high yang mulai jenuh beli (overbought) sehingga rekomen sell on strength.
  • Valuasi PBV09 (3x) termahal di sektornya (versus ADHI dengan PBV09-1x)
  • Exit: (1) Rp 780, Exit (2) Rp 800, Reverse posisi: Rp 820

Dibuat oleh Yuganur Wijanarko
Senior Research HD Capital (Yuganur@hdx.co.id)

Rekomendasi Sekuritas, Selasa 27 Juli 2010

Berikut ini rekomendasi beberapa sekuritas untuk perdagangan Selasa, 27 Juli 2010.

1. Trimegah Securities
Aksi profit taking pada sebagian besar saham unggulan memberikan tekanan terhadap IHSG dengan volatilitas cukup tinggi pada Senin (26/7). Namun koreksi tersebut masih wajar, mengingat rally yang telah cukup tinggi  dialami IHSG. Pelaku pasar patut mewaspadai pergerakan stochastic yang turun karena menjadi indikasi tekanan berlanjut. Hari ini, indeks diperkirakan di kisaran 3.008-3.042. Saham pilihan ADRO dan UNVR.

2. e-Trading Securities 
IHSG akhirnya ditutup melemah 18,3 point (0,60%) Senin kemarin, setelah sempat menguat hampir 30 poin. Jika kita lihat, chartspinning di kisaran level resistance, reversal dari rally yang terjadi sejak 6 Juli lalu. IHSG diperkirakan melanjutkan koreksi ke kisaran support 2.970/2.915 hari ini jika bursa AS dan Eropa mengalami koreksi tadi malam. indeks telah membentuk pola sehingga ada sinyal

3. Reliance Securities
IHSG pada perdagangan hari ini diperkirakan masih mengalami pelemahan karena sentimen megatif dari global. Titik resistance support 3.004. Saham pilihan PGAS, SMGR, BMRI, dan BBRI. Ada di level 3.045.