rss
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites

Friday, July 30, 2010

TELKOM ADDS 6.7M CELLULAR SUBSCRIBERS AND GROWS TOTAL REVENUE IN FIRST HALF 2010

JAKARTA, July 30, 2010 - PT Telekomunikasi Indonesia Tbk ("TELKOM") has filed its un-audited Consolidated Financial Statements ("Consolidated Statements") for the six month period ended June 30, 2010 with BAPEPAM-LK, the Indonesian Capital Market Supervisory Agency. 

Complete copies of the un-audited balance sheets and income statements for the first half 2010 are attached to this press release. For complete versions of these documents, please visit http://www.telkom.co.id.

For the first half 2010, TELKOM recorded an increase in total revenue of Rp 1,631 billion or 5% compared with the same period in 2009. The increase is mainly attributable to a rise in Data, Internet and IT Services revenue of Rp 1,558 billion or 18%. Cellular revenue increased by Rp 439 billion or 3%, while Fixed Line revenue declined by Rp 760 billion or 10% compared to first half 2009.

Operating Expenses for the first half increased by Rp 1,849 billion or 9%. The increase is primarily due to a rise in Operating and Maintenance Expenses of Rp 1,394 billion, or 20%, and an increase in Depreciation and Amortization Expenses of Rp  737 billion or 11% as a result of the Node B (3G) expansion, as well as the roll out of additional domestic and international backbone to support the broadband business in the future, for both fixedline and mobile. Personnel Expenses and General and Administration Expenses declined by Rp 213 billion and Rp 119 billion, respectively.

The decrease in gain on foreign exchange of Rp 439 billion compared to the previous period led to an increase in Other Expenses-net of Rp 440 billion or 1,124% and resulted net income of Rp 6.0 trillion. Meanwhile, TELKOM saw an increase in EBITDA of Rp 529 billion, representing growth of 2.9%, as it rose from Rp 18,253 billion to Rp 18,782 billion.

We added 6.7 million new cellular customers during first half 2010, an increase of 16.2% to 88.3 million total subcribers. Meanwhile, our fixed broadband services reached 1.4 million subscribers, representing growth of73.6% compared to the same period last year.

A summary of the balance sheet, income statements and operational highlights follows:

H1/2009
H1/ 2010
% Increase (decrease)
(In Billion Rp.)
Total Assets
94,258.5
99,050.3
5.1
Total Liabilities
               51,652.2
                49,429.6
(4.3)
Minority Interest
8,495.5
9,747.5
14.7
Total Equity
34,110.8
39,873.3
16.9
Operating Revenue
32,612.0
34,243.1
5.0
Operating Expense
21,034.9
22,883.6
8.8
Operating Income
11,577.1
11,359.5
(1.9)
Net Income
6,043.8
6,003.3
(0.7)
EBITDA
18,253
18,782
2.9
EBITDA Margin (%)
56.0
54.8
(1.2)

The Financial Statements are prepared in according with Generally Accepted Accounting Standards in Indonesia



Unit
H1/2009
H1/2010
% Increase (decrease)
Line in Service:




- Wireline
Subs (000)
8,706
8,397
(3.5)
- Wireless
Subs (000)
13,491
15,896
17.8
Total Fixed Lines
Subs (000)
22,197
24,293
9.4
Customer Base Cellular:




- kartuHALO
Subs (000)
2,017
2,098
4.0
- simPATI
Subs (000)
53,613
60,201
12.3
- Kartu As
Subs (000)
20,384
26,017
27.6
Total Customer Base Cellular
Subs (000)
76,014
88,316
16.2
ADSL (Speedy)
Subs (000)
816
1,416
73.6
MOU Cellular
Billion minutes
68.1
58.5
(14.1)
ARPU Cellular/month
Rp. '000
47
43
(9)







The Consolidated Statements reflect certain changes imposed by the Financial Accounting Standards Board of the Indonesian Institute of Accountants, effective January 1, 2010. Whereas Interconnection revenue in the Statement of Income was previously presented on a netbasis, it is now shown on a gross basis. Interconnection expenses are included as operating expenses. Outgoing Interconnection revenue,which was previously classified as Interconnection revenue, is now presented as Fixed Line and Cellular revenue. The 2009 presentation has beenreclassified to conform to the current treatment.

 "We are pleased that we were able to increase total revenues in the first half of 2010 in spite of a challenging economic environment, especially on fixed line which we are defending," said TELKOM's President Director, Rinaldi Firmansyah. "Our EBITDA was up 2.9% compared to last year's result, while as a result of the appreciation of the Rupiah against other currencies,  net income decreased slightly. We also made significant progress in attracting additional customers through an aggressive marketing campaign and the continued buildout of Indonesia's most reliable cellular network. We remain optimistic about meeting our full-year 2010 target as we work to drive revenues and increase operating margins in the second half ."  


Riset BBNI oleh Indo Premier Sekuritas

Hasil riset soal PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) oleh Indo Premier Sekuritas.

BBNI Oleh Indo Premier Sekuritas                                                                                                                                   

Laba Bersih INCO Melonjak 312%

PT International Nickel Indonesia Tbk (INCO) mencatat laba bersih sebesar US$ 142,6 juta pada semester I-2010 naik 312,3% dari tahun sebelumnya pada periode yang sama US$ 34,581 juta. Peningkatan laba ini didorong oleh meningkatnya penjualan dan harga jual rata-rata nikel.

Dalam siaran persnya, Jumat (30/7), INCO mencatatkan total EBITDA pada semester I-2010 sebesar US$ 214,5 juta, meningkat 76% dari posisi Maret 2010.

Meningkatnya EBITDA dari triwulan ke triwulan terutama diakibatkan oleh naiknya harga realisasi rata-rata nikel dalam matte dan naiknya penjualan nikel dalam matte.

Dalan enam bulan pertama tahun 2010, INCO terus berfokus pada peningkatan efisiensi operasi dalam rangka mencapai pengurangan yang bersifat struktural atas biaya operasi. Hal tersebut mencakup perencanaan bisnis yang terintegrasi untuk mengidentifikasi berbagai peningkatan efisiensi di sejumlah bidang operasi.

Pendapatan dari hasil penjualan mencapai US$ 363,6 juta untuk periode tiga bulan yang
berakhir pada 30 Juni 2010, naik 42% jika dibandingkan dengan triwulan I-2010 sebesar
US$ 255,6 juta.

Pada akhir Juni 2010, total penjualan sebanyak 20.010 metrik ton dibanding dengan 3 bulan sebelumnya sebanyak 18.021 metrik ton. Perseroan mencatat harga realisasi rata-rata nikel dalam matte sebesar AS$18.172 per metrik ton pada semester I-2010.

Hasil Riset soal Jasa Marga oleh BNI Sekuritas

Hasil riset soal PT Jasa Marga Tbk (JSMR) oleh BNI Sekuritas.

Hasil Riset JSMR oleh BNI Sekuritas                                                                                                                                   

Memo Mega Capital, 30 Juli 2010

Memo Mega Capital untuk hari ini, 30 Juli 2010.

Mega Capital 30 Juli 2010                                                                                                                                   

Laba Bersih CPIN Capai Rp 941 Miliar

Produsen ayam terbesar di Indonesia, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) mampu meningkatkan laba bersih pada semester I 2010 sebesar 49,13%, dari Rp 631 miliar menjadi Rp 941 miliar.


Laba per saham tercatat turut meningkat dari Rp 192 menjadi Rp 287. Kenaikan laba bersih ini terjadi menyusul pertumbuhan penjualan bersih sebesar 3,42% dari Rp 6,72 triliun menjadi Rp 6,95 triliun.

Meski penjualan hanya naik tipis, perolehan laba kotor CPIN mampu naik 26,67% menjadi Rp 1,52 triliun dan laba usaha naik 37% menjadi Rp 1,18 triliun, berkat rendahnya beban usaha perseroan.


Charoen Pokphand Indonesia Rp triliun





Jun-09 Jun-10 %
Penjualan bersih 6,72 6,95 3,42
Laba kotor 1,2 1,52 26,67
Laba usaha 0,862 1,18 36,89
Laba bersih 0,631 0,941 49,13
EPS 192 287 49,48

Laba Bersih Gajah Tunggal Meroket 188%


Laba bersih produsen ban, PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) melonjak 188% dari Rp 144 miliar pada Juni 2009 menjadi Rp 415 miliar pada Juni 2010. Kenaikan laba bersih ini ditopang oleh penjualan bersih yang meningkat sebesar 27,25% dalam setahun terakhir menjadi Rp 4,81 triliun.

Kenaikan penjualan tersebut membuat laba kotor GJTL naik 65,39% menjadi Rp 994 miliar. Laba usaha juga meningkat seiring dengan turunnya beban usaha, dari Rp 243 miliar menjadi Rp 668 miliar atau melonjak 175%.

Dengan demikian, per Juni 2010, GJTL membukukan laba bersih per saham Rp 119 dari posisi Juni 2009 sebesar Rp 42.


Gajah Tunggal (Rp triliun)






Jun-09Jun-10%
Penjualan bersih3,784,8127,25
Laba kotor0,6010,99465,39
Laba usaha0,2430,668174,90
Laba bersih0,1440,415188,19
EPS42119183,33


































































Laba Bersih SMCB Naik 37,86%

Produsen semen ketiga terbesar, PT Holcim Indonesia Tbk mencetak kenaikan laba bersih sebesar 37,86% dari Rp 280 miliar pada Juni 2009 menjadi Rp 386 miliar pada Juni 2010. Kenaikan ini berkat pertumbuhan penjualan yang naik tipis 7,95% menjadi Rp 2,85 triliun.

Meski penjualan hanya naik tipis, SMCB mampu membukukan peningkatan laba kotor 13,41% menjadi Rp 1,04 triliun dan laba usaha turut naik 19,13% menjadi Rp 629 miliar berkat rendahnya kenaikan beban pokok penjualan dan beban usaha.



Jun-09 Jun-10 %
Penjualan 2,64 2,85 7,95
Laba kotor 0,917 1,04 13,41
Laba usaha 0,528 0,629 19,13
Laba bersih 0,280 0,386 37,86
EPS 37 50 35,14

DOID Cetak Laba Rp 206 Miliar

PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID) pada semester I-2010 berhasil mencetak laba bersih Rp 206 miliar dari tahun lalu rugi Rp 2 miliar. Ini berarti terjadi kenaikan sebesar 10.400% menyusul perubahan bidang usaha dari properti ke batubara.

Laba per saham menjadi Rp 30,36 per Juni 2010 dari posisi Juni 2009 yang tercatat minus Rp 0,26. Pendapatan bersih perusahaan melonjak 307,24% menjadi Rp 2,7 triliun. Namun laba kotornya turun 10,86% menjadi Rp 591 miliar.


Delta Dunia Makmur (Rp triliun)






Jun-09 Jun-10 %
Pendapatan bersih 0,663 2,7 307,24
Laba kotor 0,663 0,591 -10,86
Laba usaha -0,001 0,462 99,54
Laba bersih -0,002 0,206 10.400
EPS -0,26 30,36 11.776

Laba Bersih BYAN Meningkat 45%

Perusahaan penghasil batubara, PT Bayan Resources Tbk (BYAN) dalam setahun terakhir mampu mendongkrak pertumbuhan laba bersih sebesar 45,05% dari Rp 111 miliar pada Juni 2009 menjadi Rp 161 miliar pada Juni 2010. Kenaikan laba ini mendorong laba per saham turut naik dari Rp 33 menjadi Rp 48.

Pendapatan perusahaan dalam setahun terakhir hanya naik tipis 0,08% menjadi Rp 3,78 triliun. Ini membuat laba kotor juga hanya naik 9,82% menjadi Rp 682 miliar. Namun, laba usaha Bayan melonjak 64% menjadi Rp 356 miliar, karena penurunan beban usaha yang signifikan baik beban penjualan, beban umum, dan beban administrasi.













Bayan Resources (Rp triliun)








Jun-09 Jun-10 %

Pendapatan 3,785 3,788 0,08

Laba kotor 0,621 0,682 9,82

Laba usaha 0,217 0,356 64,06

Laba bersih 0,111 0,161 45,05

EPS 33 48 45,45

Laba Bersih TOWR Anjlok 111%

Laba bersih PT Sarana Tower Bersama Tbk (TOWR) anjlok 110,9% menjadi rugi Rp 38,67 miliar pada semester I-2010 dibandingkan posisi semester I-2009 yang mencetak laba bersih Rp 354,86 miliar. Kerugian ini akibat beban keuangan yang berasal dari biaya bunga pinjaman yang melonjak 132% dari Rp 239,77 miliar menjadi Rp 556,36 miliar dalam setahun terakhir.

Akibatnya, laba per saham perseroan turun dari Rp 362 menjadi minus Rp 38. Jika beban keuangan perusahaan tidak melonjak, sebetulnya TOWR berhasil mencetak laba kotor Rp 418,58 miliar atau naik 27,64% dari Juni 2009. Ini menyusul kenaikan pendapatan sebesar 31,81% menjadi Rp 664,64 miliar.



Sarana Tower Bersama (Rp miliar)






Jun-09 Jun-10 %
Pendapatan 504,24 664,64 31,81
Laba kotor 327,93 418,58 27,64
Laba operasi 281,95 349,84 24,08
Beban keuangan  -239,77 -556,36 132,04
Laba bersih 354,86 -38,67 -110,90
EPS 362 -38 -110,50

Mencari Saham dengan Potensi Cuan Gede

Pada musim laporan keuangan seperti sekarang ini, kita harus pandai memilih saham-saham dengan kinerja yang bagus. Ketepatan kita memilih saham yang bagus akan menentukan besar kecilnya keuntungan yang kita peroleh.

Berikut langkah yang bisa dilakukan:
1. Cek dan pelajari publikasi laporan keuangan seluruh emiten atau emiten tertentu yang Anda sukai. Semakin cepat Anda dapat infonya, semakin besar Anda bisa langsung membelinya sebelum harganya keburu naik.


  Untuk melihatnya bisa klik situs Bursa Efek Indonesia (klik disini) atau jika tidak ada laporan emiten yang Anda cari, klik disini halaman demi halaman.

2. Anda harus cek pertumbuhan laba bersih, laba usaha, pendapatan, dan laba per sahamnya dari emiten yang ingin Anda beli sahamnya. 

  Setelah itu, Anda harus cek harga saham emiten itu, apakah sudah naik tinggi atau belum. Anda bisa akses http://finance.yahoo.com (atau klik disini). Masukkan kode emitennya (dibawah tulisan Home, kiri atas layar Anda) diakhiri dengan simbol (.jk), seperti bmri.jk, indf.jk, dan lain-lain.

3. Jika Anda memiliki fasilitas online trading, cek apakah banyak investor asing yang membeli saham ini atau justru menjualnya. 

  Jika banyak yang memborong, pasti harga akan mengarah naik. Sebaliknya, jika berbagai pihak menjual pasti harga mengarah turun. 


Demikian, semoga berguna.

Rekomendasi HD Capital Jumat (30/7)

Untuk Jumat, 30 Juli 2010, HD Capital merekomendasikan BUY: (ADHI, ANTM, BBKP, BUMI).

• Bila terjadi koreksi pasca-IHSG mencetak new high rekomendasi akumulasi di beberapa counter selektif karena tren masih positif.

• IHSG close (29-07) 3.096.820 (+39.340/+1.29%) (Vol Rp 2,7 triliun)

• Support: 3.070-3.030-2.960, Resistance: 3.150-3.250

Stock picks:

1. Adhi Karya (ADHI): (BUY) (Target: Rp 710) (close 29/07 Rp 650)
• Secara valuasi PBV09 (1,59x) paling murah di sektor konstruksi versus: Wika (2,05x) dan  PTPP (3,35x), sehingga potensi untuk meneruskan uptrend yang kuat masih ada.

• Indikator daily stochastic sudah di atas 50-line, MACD-cross buy & DMI positif.

• Bila ada pullback, rekomen akumulasi

• Entry: (1) Rp 650, Entry (2) Rp 625, cut-loss point: Rp 575

2. Aneka Tambang (ANTM) (BUY): (Target: Rp 2.350) (Close 29/07 Rp 2.150)
• Sentimen positif dari peningkatan kinerja keuangan 2Q 2010 dapat menahan profit taking lebih lanjut sehingga rekomen akumulasi untuk teknikal rebound

• ANTM masih terdiskons 20% dari high 2.600 yang dicapai April lalu, sehingga potensi upside masih banyak.

• Entry (1) Rp 2.100, (2) Rp 2.025, Cut loss point: Rp 1.950

3. Bank Bukopin (BBKP) (BUY): (Target: Rp 710) (Close 29/07 Rp 650)
• Pasar optimistis terhadap kinerja 1H 2010 dimana akan terlihat re-valuasi loan asset yang dimiliki & pertumbuhan kredit di sektor mikro konsumen terus tumbuh.

• Secara valuasi PER/PBV09 masih jauh tertinggal dibandingkan BBTN, BBRI, BJBR, SDRA sehingga akan adjust ke atas dalam waktu dekat ini.

• Entry: (1) Rp 650, Entry: (2) 630, Cut loss point: Rp 610

4. BUMI Resources (BUMI): (BUY) (Target: Rp 1.720) (close 29/07 Rp 1.720)
• Risiko utang akan berkurang pasca-rights issue, penjualan anak usaha & IPO Bumi mineral sehingga investor mulai melihat valuasi termurah di sektornya menjadi katalis untuk akumulasi.

• Entry: (1) Rp 1.710, Exit (2) Rp 1.660, Cut-loss point: Rp 1.630

Dibuat oleh:
Yuganur Wijanarko
Senior Research HD Capital. (Yuganur@hdx.co.id)

Rekomendasi Beberapa Sekuritas, 30 Juli 2010


Berikut rekomendasi dari beberapa sekuritas, untuk perdagangan Jumat, 30 Juli 2010.
1. e-Trading Securities
Kamis (29/7), IHSG ditutup menguat 39 poin (1,29%) ke level 3.096,82 atau di atas level resistance 3.090 dengan ditopang kenaikan ASII, UNVR, MYOR, JPFA, dan INDF. Walaupun stochastic di area overbought tetapi masih membentuk golden cross, sehingga masih ada peluang penguatan indeks terbatas. 
Namun, kita juga perlu mewaspadai profit taking yang mungkin terjadi. Hari ini, IHSG akan mendapat sentimen data jobless claim AS dan bergerak di kisaran 3.052-3.130. Saham yang layak diperhatikan ADHI, BBCA, ANTM, dan ADRO.

2. Trimegah Securities
IHSG melanjutkan penguatan dan mencetak level tertinggi baru kemarin, dengan diiringi peningkatan volume perdagangan. Keluarnya result dari beberapa emiten memancing sentimen positif para pelaku pasar, sehingga mendorong penguatan indeks. Oleh karena itu, peluang IHSG mencapai target ascending triangle pada level 3.120 semakin terbuka. Hari ini, indeks bergerak pada kisaran  3.087-3.120. Saham pilihan ANTM dan BBCA.

3. Sinarmas Sekuritas
Terbentuknya pola three white soldier serta posisi overbought dalam bollinger band menjadi sinyal IHSG rentan melemah hari ini. Namun, pergerakannya diperkirakan mixed pada kisaran 3.052–3.122. Cermati saham PGAS, BMRI, dan SMGR.

4. Sucorinvest Central Gani
IHSG ditutup menguat ke posisi 3.096,82 kemarin seiring kenaikan indeks bursa global, kinerja emiten yang lebih baik dari konsensus, dan penguatan rupiah terhadap dolar AS. Broker asing juga tercatat net buy Rp 1,15 triliun. IHSG diperkirakan berfluktuasi dengan potensi profit taking cepat pada kisaran 3.063-3.127 hari ini. Buy ANTM, BBCA, INDF, dan SMCB.



Thursday, July 29, 2010

Riset soal BBNI oleh AAA Sekuritas

Hasil riset PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) oleh AAA Sekuritas.

BBNI by AAA Sekuritas                                                                                                                                   

Riset soal BBNI oleh Samuel Sekuritas

Hasil riset PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) oleh Samuel Sekuritas.

BBNI Oleh Samuel Sekuritas                                                                                                                                   

Riset soal TLKM oleh JP Morgan

Riset soal PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) oleh JP Morgan.

Telkom by JP Morgan                                                                                                                                   

Riset soal ISAT oleh JP Morgan

Riset mengenai Indosat (ISAT) oleh JP Morgan.

Riset Indosat by JP Morgan                                                                                                                                   

Riset soal EXCL oleh JP Morgan

Berikut ini riset mengenai PT Excelcomindo Pratama Tbk (EXCL) oleh JP Morgan.

XL by JP MORGAN                                                                                                                                   

Jasa Marga Diburu CIMB-GK Securities

Jasa Marga kembali diburu oleh CIMB-GK Securities dan menjadikan broker ini sebagai pemborong terbanyak JSMR. Broker ini membeli 12.092 lot saham JSMR di harga Rp 2.596 dan jual hanya 178 lot di harga Rp 2.594.

Urutan kedua adalah UBS Securities sebanyak 8.836 lot di harga Rp 2.588 tanpa menjual sama sekali. Deutsche Securities juga membeli 3.179 lot saham JSMR di harga Rp 2.575 tanpa menjual sama sekali.

Sedangkan JP Morgan menjadi broker yang paling banyak menjual saham ini. BK, menjual 5.000 lot di harga Rp 2.586. Dengan hanya menjual lima ribu lot saja, JP Morgan tercatat sebagai broker terjual terbanyak menandakan belum ada gelagat investor menjual secara gede-gedean.

Bahkan berdasarkan pengamatan, asing sama sekali belum menjual saham ini. Asing masih tercatat membeli terus saham ini.

Harga JSMR naik Rp 50 menjadi Rp 2.600.

Saham-Saham Terkait Lebaran Naik Semua Hari Ini

Luar Biasa. Itu ungkapan yang tepat ditujukan kepada saham-saham konsumsi hari ini, seperti PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT Japfa Comfeed Tbk (JPFA), dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN).

Ketiga saham ini naik luar biasa. Lihat saja JPFA yang naik 20,24% atau Rp 425 menjadi Rp 2.525. CPIN juga naik Rp 525 atau 11,35% menjadi Rp 5.150. Terakhir, INDF naik Rp 225 atau 5% menjadi Rp 4.725.

Lonjakan harga ini, selain karena ekspektasi laporan keuangan semester I-2010, yang luar biasa, juga terkait dengan konsumsi masyarakat Indonesia yang masih besar. 

Bahkan, saya pernah menulis pada tanggal 20 Juli 2010 dengan judul artikel "Cermati Saham Konsumsi". (Klik Disini). Bahkan, dua hari lalu, penulis juga menurunkan artikel berjudul "Amazing Movement for JPFA". (Klik Disini).

Sekarang ketiga emiten ini sudah naik tinggi. Oleh karena itu, bagi investor yang ingin mengoleksi saham-saham ini disarankan untuk terus mencermati. Siapa tahu bisa menangguk keuntungan pada kuartal tiga nanti.

Pada laporan keuangan kuartal III-2010, emiten diharuskan publikasi pada Oktober 2010. Nah, selama kuartal tiga terdapat momentum Lebaran. Biasanya, masyarakat banyak memborong ayam (menguntungkan JPFA dan CPIN). INDF juga diuntungkan karena masyarakat sering mengonsumsi Indomie saat Sahur, penjualan minyak goreng (untuk masak-masak) dan gula (bikin kue) juga akan meningkat, sehingga menguntungkan INDF.

Emiten lain yang bakal diuntungkan adalah BUDI yang memproduksi tepung ketan dan tepung beras dengan merek Rose Brand. BUDI juga memproduksi minyak goreng.

Jasa Marga (JSMR) juga akan diuntungkan pada kuartal tiga nanti karena kegiatan mudik masyarakat. Jalan-jalan tol seperti Cikampek, Cipularang, hingga Trans Jawa, akan diserbu oleh ratusan ribu mobil yang mau mudik ke kampungnya masing-masing.
Oleh karena itu, cermati saham-saham konsumsi ini. Jika harganya turun, koleksi kembali.

Khusus perdagangan Kamis ini, CPIN banyak diborong oleh Danareksa, sebanyak 8.774 lot di harga Rp 4.999 dan menjual 512 lot (Rp 5.020). Urutan kedua ditempati oleh Deutsche Securities sebanyak 2.124 lot (Rp 5.070) tanpa menjual sama sekali. Nusadana Capital Indonesia memborong 6.784 lot (Rp 5.014) dan jual 6.030 (Rp 4.951).

JPFA diborong oleh Danareksa sebanyak 14.206 lot (Rp 2.325) dan jual hanya 989 lot (Rp 2.361). Nusadana Capital memborong 26.949 lot (Rp 2.372) dan jual 16.673 lot (Rp 2.323).

E-trading Securities juga membeli 6.013 lot saham JPFA di harga Rp 2.377 dan jual 3.069 lot (Rp 2.364). CIMB-GK Securities beli 3.973 lot (Rp 2.433) dan jual 1.143 lot (Rp 2.357). Terakhir, Mega Capital beli 3.792 lot (Rp 2.317) dan jual 1.148 lot (Rp 2.314).

INDF dibeli paling banyak oleH JP Morgan sebanyak 3.957 lot (Rp 4.583) dengan hanya jual 74 lot (Rp 4.725). Nusadana Capital beli 4.079 lot (Rp 4.642) dan jual 466 lot (Rp 4.650). CLSA Indonesia beli 4.255 lot (Rp 4.499) dan jual 1.289 lot (Rp 4.290). Phillip Securities beli 3.130 lot (Rp 4.581) dan jual 278 lot (Rp 4.632). Terakhir, Deutsche Securities beli 2.733 lot INDF di harga Rp 4.612 dengan hanya menjual 74 lot (Rp 4.660).





Laba AUTO Melonjak 81%

PT Astra Otoparts Tbk (AUTO) mencatat lonjakan laba bersih sebesar 81,26% pada semester I-2010 menjadi Rp 568,57 miliar, dari Rp 313,67 miliar pada periode yang sama tahun lalu. 

Kenaikan laba bersih ini terjadi berkat oleh meningkatnya pendapatan perseroan pada semester I-2010 yang mencapai 25,72%. 

Pendapatan bersih salah satu anak usaha PT Astra Internasional Tbk ini tercatat Rp 3,05 triliun pada semester I-2010, naik 25,72% dari posisi yang sama tahun lalu sebesar Rp 2,42 triliun. Laba kotor perseroan pun akhirnya ikut terdongkrak 35,58%, dari Rp 405,57 miliar pada semester I-2009 menjadi Rp 549,89 miliar pada  semester I-2010.

Laba usaha juga naik 42,37%. Laba operasi selama semester I-2010 tercatat Rp 265,83 miliar, naik dibandingkan pada posisi tahun lalu yang hanya Rp 186,71 miliar.

Setelah terpangkas oleh hak minoritas atas pemegang saham, maka perolehan laba bersih AUTO menjadi Rp 568,57 miliar. Laba bersih mengalami kenaikan sebesar 81,26%, dibandingkan periode yang sama tahun lalu, Rp 313,67 miliar.

Laba per saham pun tercatat sebesar Rp 737 per lembar, atau naik dari posisi yang sama tahun lalu Rp 407 per lembar.

Modal perseroan sampai akhir Juni 2010 tercatat Rp 3,41 triliun atau meningkat dibandingkan tahun lalu, Rp 2,83 triliun. Aset perseroan pun mencapai Rp 4,97 triliun di semester I-2010. Posisi aset pada periode yang sama tahun 2009, tercatat Rp 4,19 triliun.

Indonesian Stock Valuation Premium to More Than Double, Credit Suisse Says

Indonesia’s valuation premium to global emerging markets may more than double from current levels even after gains that drove the nation’s benchmark index to a record high, Credit Suisse Group AG said. 

The Jakarta Composite Index has surged 27 percent in dollar terms this year as the central bank kept interest rates low and economic growth accelerated, making Indonesia the best performer among the 21 countries that make up the MSCI Emerging Markets Index. The gauge yesterday climbed 0.5 percent, closing at a record high for a second day. 

The gains mean Indonesia is now trading at an 18 percent premium to global emerging markets, based on a model comparing price to book value against return on equity, Credit Suisse analysts led by Sakthi Siva wrote in a report today. 

That compares with a record premium of 22 percent reached in August 2008 and previous highs of 38 percent and 36 percent, respectively, for India and China, according to the report. 

“While we tend not to favor overvalued markets, we are 2 percent overweight Indonesia,” said Siva, the top-ranked strategist in Institutional Investor’s 2010 Asian poll. 

“There appears to be potential for Indonesia to rerate to 30 percent to 40 percent premiums if we use India and MSCI China as a guide.” 

Indonesia’s return on equity reached a low of 18.2 percent amid the global financial crisis of 2008 and 2009, according to Siva. 

That compares “favorably” with the 10 percent average for global emerging markets and tops all four of the largest developing nations of Brazil, Russia, India and China, the brokerage said. 

Economic Growth
Indonesia’s economy may have expanded 5.8 percent in the first half of this year and may grow 6 percent in the second half, the Finance Ministry said in a statement presented during a parliament hearing in Jakarta on July 26. 

Southeast Asia’s largest economy expanded 5.7 percent in the first quarter this year from a year earlier, the fastest pace since 2008.
Domestic credit to the private sector in Indonesia is 26 percent of the nation’s gross domestic product, compared with 80 percent for developing nations worldwide, the analyst wrote. 

“While proponents of the structural growth story for Indonesia tend to focus on the large young population, rapidly rising per capita GDP and domestically-led growth, we are more attracted by Indonesia’s structurally high ROE and low credit penetration,” Siva said. Source: Bloomberg

Bukopin Cetak Laba Rp 226 Miliar

PT Bank Bukopin Tbk (BBKP) yang akan diakuisisi oleh Jamsostek pada semester I-2010 membukukan laba bersih Rp 226 miliar, naik 13% dari semester I-2009 sebesar Rp 200 miliar.

Kenaikan laba ini membuat laba per saham perseroan turut terdongkrak dari 35,13 menjadi 37,72. Kontribusi laba masih berasal dari pendapatan bunga bersih BBKP yang naik 23,89% menjadi Rp 835 miliar.

Kinerja Bank Bukopin (BBKP) dalam Rp triliun

Jun-09Jun-10%
Kredit28,0329,555,42
Aset37,2441,5811,65
Pendapatan bunga bersih0,6740,83523,89
Laba operasional0,2940,3033,06
Laba bersih0,2000,22613,00
Laba per saham                  35.1337.72



Hingga Juni 2010, kredit perseroan mencapai Rp 29,55 triliun, naik 5,42% dari tahun lalu. Sedangkan aset perusahaan pada periode yang sama mencapai Rp 41,58 triliun atau naik 11,65% dari posisi Juni 2009 sebesar Rp 37,24 triliun.
































Memo Mega Capital, 29 Juli 2010

Memo Mega Capital Kamis, 29 Juli 2010.

Mega Capital 29 Juli 2010                                                                                                                                   

Laba Inovisi Naik 90%

PT Inovisi Infracom Tbk  (INVS) pada semester I-2010 berhasil mencatatkan laba bersih (belum diaudit) sebesar Rp 13,1 miliar atau naik 90% dibanding realisasi semester I-2009 sebesar Rp 1,33 miliar. 

Kenaikan laba bersih tditopang oleh penjualan perseroan selama semester I yang mencapai Rp 62,14 miliar atau naik 66% dibandingkan periode yang sama 2009. 

Dalam siaran persnya, di Jakarta, Rabu (28/7), manajemen Inovisi menyatakan, kenaikan penjualan dan laba bersih perseroan mencerminkan investasi kelompok usaha Inovisi untuk ekspansi usaha di luar negeri  membuahkan hasil. Faktor positif tersebut membuahkan keuntungan bersih setelah pajak untuk enam bulan pertama 2010 sebesar  Rp 19,49 miliar, atau meningkat 408% dibandingkan Rp 3,83 miliar pada akhir semester pertama tahun lalu.

Inovisi telah berhasil melaksanakan penawaran umum saham terbatas terbatas I disertai penerbitan waran seri 1 pada Mei 2010. Jumlah dana yang diperoleh sebesar Rp 97,75 miliar telah digunakan untuk mengakuisisi 100% saham perusahaan  Code Wireless Pte Ltd. 

Grup perusahaan yang diakuisisi ini terdiri atas tiga perusahaan, yaitu Code Wireless Pte Ltd, Abamon Technology Sdn Bhd, dan Smart Checker Ltd.

Kemarin, saham INVS menguat 175  poin ke level Rp 2.975. Volume saham yang ditransaksikan 333 ribu senilai Rp 950,62 juta.





Rekomendasi HD Capital Kamis (29/7)

Berikut rekomendasi HD Capital untuk Kamis, 29 Juli 2010.
 
BUY: (TLKM, DOID, BKSL, PTBA)
  • Walaupun indeks dapat terkoreksi akibat turunnya regional, penguatan rupiah ke di bawah 9.000 menjelang optimisme pasar terhadap data inflasi & GDP Senin depan memberikan sentimen positif untuk terus melakukan akumulasi di IHSG.
  • IHSG close (28-07) 3.062.520(+20.850/+0.69%) (Vol Rp 3.0 triliun)
  • Support: 3.040-3.010-2.960, Resistance: 3.070-3.100
 
 
Stock picks:
 
1.    Telkom (TLKM): (BUY) (Target: Rp 8.400) (close 28/07 Rp 8.250)
  • Ekspektasi pasar terhadap peningkatan kerja Telkomsel di 2H-2010 pasca hasil Q2-2010 pengembangan bisnis broadband, serta spin-off beberapa menara telekomunikasi dapat mendorong investor terus akumulasi counter telco dengan valuasi PBV termurah di Asia sesudah BTEL.
  • Exit: (1) Rp 8.150, Exit (2) Rp 8.050, Cut-loss point: Rp 7.950
 
2.    Delta Dunia (DOID) (BUY): (Target: Rp 1.140) (Close 28/07 Rp 1.050)
  • Kinerja membaik: peningkatan produksi batubara pasca pembelian alat baru dari Komatsu dan Caterpillar di Q2 2010 naik 2,5% versus Q1
  • Walaupun kelihatannya jenuh beli, namun naiknya indikator ADX mendekati level 20 menunjukan bahwa mulai ada perubahan kondisi tren dari sideways ke trending positif sehingga rekomen akumulasi.
  • Entry (1) Rp 1.030, (2) Rp 995, Cut loss point: Rp 960
 
3.   Bukit Sentul (BKSL) (BUY): (Target: Rp 124) (Close 28/07 Rp 114)
  • Sektor properti paling diuntungkan dari re-valuasi harga aset di Indonesia akibat penguatan rupiah sehingga akumulasi BKSL yang terdiskon 40% dari high April lalu, & 70% dari harga saham kompetitor Alam Sutera (ASRI).
  • Potensi penguatan harga batubara & rupiah membuka peluang untuk re-rating valuasi reserve batubara yang dimiliki.
  • Entry: (1) Rp 113, Entry: (2) 110, Cut loss point: Rp 108 
   
4.   Bukit Asam (PTBA): (BUY) (Target: Rp 17.500) (close 28/07 Rp 17.000)
  • Terus rekomen akumulasi dengan target price baru karena pasar mulai pricing in revaluasi harga cadangan batubara bila harga minyak memang bisa menembus US$80/barel.
  • Pasar optimis harga dan output ekspor batubara akan meningkat di 2H 2010.
  • Entry: (1) Rp 16.900, Exit (2) Rp 16.700, Cut-loss point: Rp 16.300 
 
Dibuat oleh Yuganur Wijanarko
Senior Research HD Capital. (Yuganur@hdx.co.id)