rss
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites

Monday, July 19, 2010

Saham Pekan Ini

Tuk perdagangan sepekan ini (19-23 Juli 2010), investor bisa mencermati empat saham yang berpotensi besar naik. Keempat saham itu adalah Bank Jabar (bjbr.jk atau bjbr), Holcim (smcb.jk), Jasa Marga (jsmr.jk), dan Perusahaan Gas Negara (pgas.jk).

Ada baiknya jika ingin membeli ketika terjadi koreksi besar di Bursa Efek Indonesia. Cermatin pergerakannya, apakah investor asing membeli atau justru menjual keempat saham ini. Jika banyak investor asing membeli, kenapa Anda tidak mempertimbangkan untuk mengikuti langkah mereka.

Sebagai pertimbangan, bisa dilihat grafik pergerakan keempat saham tersebut di bawah ini.

Jasa Marga Coba Tembus Rp 2.200





Holcim Coba Tembus Rp 2.400


PGAS Coba Tembus Rp 4.125
Bank Jabar (BJBR) Coba Tembus Rp 900

Friday, July 16, 2010

TINS mendobrak

Lagi-lagi analisis saya benar. Jika Anda memperhatikan tulisan saya soal TINS sebelumnya (Lihat artikel dengan judul "Cermati TINS"), Anda pasti akan tersenyum-senyum.

Pada penutupan perdagangan Jumat sore (16 Juli 2010), saham TINS ditutup pada harga Rp 2.300/saham. Saham ini akan terus menguat pekan depan, minimal menuju level tertingginya di Rp 2.825 sebagai antisipasi laporan keuangan kinerja kuartal II-2010.

Jadi, Anda jangan ketinggalan. Beli sebelum laporan keuangannya muncul. 

PGAS Kembali Tembus Rp 4.100

Sesuai prediksi saya, saham PGAS terlihat menunjukkan tanda-tanda penguatannya. Akhirnya, terbukti juga setelah tadi sore ditutup tembus Rp 4.100.
   Dengan demikian, PGAS kembali tembus harga Rp 4.100, setelah sehari sebelum masa cum dividen (8 Juli 2010) menyentuh Rp 4.125. Saya melihat pergerakan PGAS meski sudah tembus Rp 4.100 belum jenuh beli.
   Pasalnya, dalam rentang sebulan (16 Juni-16 Juli 2010), harga PGAS bergerak hanya di kisaran Rp 3.875-4.100 atau hanya naik Rp 225 (tidak sampai  5%). Padahal asing terus mengakumulasi saham ini dan biasanya akan membawa harga saham ini hingga ke titik yang mampu memberikan keuntungan 25-30%.
  Jadi, peluang beli tuk Senin pekan depan, 19 Juli 2010, tetap ada. Apalagi melihat potensi kinerja PGAS yang masih sangat bagus hingga kuartal II-2010 yang sebentar lagi diumumkan.

Koleksi Segera PGAS


 Investor bisa segera mengoleksi saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) karena sudah terlihat momentum kenaikannya.

   Target minimal dalam sebulan ke depan bisa mencapai Rp 4.400 yang merupakan level tertinggi pada 25 Maret 2010. Kenaikan harga ketika itu terjadi guna mengantisipasi laporan keuangan kuartal I-2010 yang keluar akhir Maret.
   Ketika itu, PGAS berhasil membukukan pendapatan usaha Rp 4,49 triliun, naik 0,4% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Sementara laba bersih mencapai Rp 1,77 triliun, naik 45% dibandingkan dengan tahun lalu sebesar Rp 1,22 triliun.

Dukungan Fundamental Kuat    

   PGAS juga membukukan laba usaha sebesar Rp 2,11 triliun dan EBITDA sebesar Rp 2,47 triliun pada periode yang sama. Pencapaian ini merupakan hasil dari penjualan gas bumi sebesar 841 MMSCFD yang meningkat 17% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu dan 98% dari total volume tersebut mengalir untuk mendukung sektor industri dan tenaga listrik di dalam negeri.
    Selain itu, kinerja keuangan triwulan I-2010 turut didukung kegiatan usaha perseroan bidang transmisi gas bumi dengan volume sebesar 758 MMSCFD.
    Pada triwulan pertama tahun 2010 ini, PGN menyalurkan gas bumi rata-rata sebesar 841 juta kaki kubik standar per hari, seluruhnya untuk pelanggan di dalam negeri," sebut Direktur Utama PGN Hendi Prio Santoso.
    Ia menyebutkan, kinerja keuangan PGAS turut dipengaruhi oleh tren penguatan mata uang rupiah terhadap mata uang lainnya. "Mengingat terdapat komponen pendapatan dan biaya dalam mata uang dollar AS, sedangkan utang jangka panjang perseroan seluruhnya dalam mata uang asing dollar AS dan yen Jepang," ujarnya.

Thursday, July 15, 2010

Cermati TINS

Para investor bisa mencermati pergerakan saham Timah dengan kode perdagangan Tins mulai perdagangan Jumat (16/7) pagi.

 Berdasarkan pemantauan yang saya lakukan, saham ini pada penutupan perdagangan Kamis sore naik Rp 50. Rata-rata transaksi banyak terjadi di harga Rp 2.175 (sebanyak 16.022 lot) dan Rp 2.200 (15.272 lot). 

Broker CLSA Indonesia memborong 16.830 lot pada harga rata-rata Rp 2.174 tanpa menjual saham sekali. Broker lainnya yang memborong tanpa menjual sama sekali adalah Deutsche Securities Indonesia sebanyak 1.185 lot (Rp 2.175). Broker kedua pembeli terbanyak adalah Nusadana Capital Indonesia sebanyak 4.465 lot pada harga Rp 2.201.

Saham TINS sempat mencapai rekor tertingginya pada harga Rp 2.825 pada 15 April 2010 karena sentimen kinerja kuartal I-2010 yang sangat bagus.

Menurut analisa teknikal yang dilakukan Sucden Financial Ltd, kinerja komoditas timah akan menjadi yang terbaik di London Metal Exchange, dengan potensi kenaikan hingga 21% menjadi US$ 21.708 per metric ton dalam beberapa bulan ke depan.

Level resisten harga komoditas timah adalah US$ 18.388/ton dan target selanjutnya adalah US$ 19.300--level tertinggi pada April 2010. Dengan harga US$ 19.464 berarti 62%  di bawah harga tertingginya yang pernah tercapai pada 2008 sebelum anjlok sangat dalam.


"Sekali tembus harga sekitar US$ 18.400, timah dapat tembus rekor terbarunya," jelas Sullivan. "Kami memantaunya sangat dekat dari sisi kami, pekan ini dan pekan depan," tambahnya.


Sementara itu, untuk pengiriman tiga bulan mendatang, timah diperdagangkan pada harga US$ 18.000 atau telah naik 6,2% sepanjang tahun ini. Sedangkan pasokan di London Metal Exchange telah anjlok 40% tahun ini, penurunan terbesar dibandingkan enam komoditas logam lainnya. Cadangan menjadi 16.160 ton atau level terendah sejak 16 Juni 2009.

Untuk berita lengkapnya bisa dilihat di:

http://www.bloomberg.com/news/2010-07-15/tin-may-rise-21-on-fibonacci-retracement-sucden-says-technical-analysis.html

SMCB Naik Rp 50

Pada penutupan perdagangan Kamis sore pukul 16.00, harga saham SMCB berhasil naik Rp 50, setelah pagi harinya sempat tembus Rp 2.400, meski dengan volume tipis, yakni hanya 254 lot.

Setelah pada pagi hari sempat naik ke Rp 2.400, harga saham SMCB pada sesi siang sempat turun dan akhirnya ditutup pada harga Rp 2.350 karena indeks regional tidak mendukung penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Kebanyakan transaksi terjadi pada harga Rp 2.375 sebanyak 14.072 lot, disusul pada harga Rp 2.325 sebanyak 19.829. Sedangkan harga Rp 2.350 hanya 7.843 lot.

Broker CIMB-GK Securities masih memborong sebanyak 19.314 lot pada harga rata-rata Rp 2.337/saham. Disusul Bahana Securities 3.764 lot (Rp 2.364) dan CLSA Indonesia 3.345 lot (Rp 2.343).


Melihat harga rata-rata pembelian tersebut, peluang untuk masuk membeli saham SMCB masih ada pada Jumat pagi (16/7).



Wednesday, July 14, 2010

Rekomendasi Beli SMCB

Hari ini, Holcim dengan kode perdagangan SMCB bisa dibeli di harga Rp 2.300. Saya yakin saham ini akan naik minimal memecahkan rekor tertingginya dalam setahun terakhir di posisi Rp 2.525.    Beberapa broker besar CIMB-GK Securities memborong di harga rata-rata Rp 2.299 sebanyak 17.282 lot. Diikuti CLSA Indonesia, Kim Eng Sekuritas, dan Credit Suisse Securities Indonesia. 
Dari industri ini diberitakan bahwa konsumsi semen hingga semester I-2010 naik 12% dibandingkan periode sama tahun lalu. Total konsumsi semen mencapai 19.596.524 ton versus 17.570.862 ton. Demikian data dari Asosiasi Semen Indonesia. Khusus periode April-Juni 2010, konsumsi semen mencapai 9.858.119 ton. 
Semen Gresik selaku produsen semen terbesar memproyeksikan produksi sebanyak 20,6 juta ton tahun depan. Holcim saat ini merupakan produsen semen ketiga terbesar setelah Indocement Perkasa.  
Selain kenaikan konsumsi, kinerja sektor semen termasuk SMCB akan terbantu dengan penguatan rupiah terhadap dolar AS.  
Melihat besarnya prospek saham ini, saya hari ini juga memutuskan untuk membeli saham SMCB di harga Rp 2.300.
Kita tunggu saja, seberapa tinggi saham SMCB bisa naik.

Monday, March 8, 2010

Teknik Berinvestasi Saham

Jika Anda sudah memiliki rekening di sebuah perusahaan sekuritas, Anda bisa langsung berinvestasi. Ada beberapa perusahaan sekuritas yang menyediakan fasilitas perdagangan saham secara online, sehingga Anda tinggal mengklik tombol ‘beli’ atau ‘jual’ dan leluasa mengamati pergerakan saham, tanpa menelepon broker, asalkan komputer Anda terhubung dengan internet.

Berikut beberapa tips yang bisa Anda lakukan sebelum memutuskan membeli saham tertentu:

1. Belilah saham dari perusahaan ternama seperti perusahaan-perusahaan bluechips/LQ-45 atau minimal perusahaan di papan pengembangan. Biasanya saham-saham yang masuk kelompok ini dengan mudah kinerjanya pulih jika ekonomi membaik. Perbaikan kinerja otomatis berpengaruh terhadap kenaikan harga saham.

2. Pelajari fundamental dari perusahaan yang sahamnya ingin Anda beli. Anda bisa mempelajarinya dengan mengunduh (download) laporan keuangan terakhirnya melalui situs www.idx.co.id.

3. Beberapa aspek laporan keuangan yang bisa Anda pelajari adalah bagaimana tren laba bersih, pendapatan, laba per saham, dan nominal saham bersangkutan. Jika Anda ingin membeli saham bank, cermatin juga beberapa indikator keuangannya, seperti rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL).

4. Tidak ada salahnya juga Anda bertanya kepada broker Anda terlebih dahulu untuk memperkuat penilaian Anda setelah mencermati laporan keuangan.

5. Setelah mempelajari laporan keuangan, Anda harus menentukan apakah harga di pasar saat ini sudah terlalu tinggi (mahal) atau tidak. Anda bisa melihat statistiknya dengan mengklik www.finance.yahoo.com. Masukkan kode saham pilihan Anda dengan akhiran jk (jakarta) di pojok kiri atas layar Anda. Misalnya ASII.jk. Maka Anda bisa melihat profil saham tersebut termasuk history pergerakan sahamnya.


Demikianlah lima tips dari saya. Semoga berguna dan selamat berinvestasi. Jika ada pertanyaan, silahkan kontak saya. Terima kasih.

Sunday, March 7, 2010

Satuan Perdagangan Saham


Satuan perdagangan saham dikenal dengan lot yang setara dengan 500 unit. Anda bisa membeli minimal 1 lot saham. Tapi ingat, jika Anda membeli 1 lot saham, Anda harus menghitung apakah fee atas transaksi tersebut setara dengan keuntungan yang bakal diperoleh.
Misalkan, Anda membeli  1 lot saham perusahaan A yang harganya hanya Rp 50/saham. Maka biaya yang Anda keluarkan sebesar Rp 25 ribu. Sedangkan biaya (fee) yang dipungut oleh perusahaan sekuritas termasuk pajak bisa mencapai Rp 15 ribu. Jelas biaya yang Anda harus tanggung sangat besar dan tidak seimbang dengan potensi keuntungan yang akan Anda peroleh nantinya.
Sebaliknya, jika Anda membeli saham perusahaan A yang harganya  Rp 35 ribu sebanyak 1 lot, harga yang harus Anda bayarkan adalah Rp 17,5 juta. Fee atas transaksi tersebut kemungkinan hanya  Rp 35 ribu plus pajak. Biasanya, saham yang harga satuannya di atas Rp 10 ribu, kelipatan harga kenaikannya adalah Rp 100. Jadi, kalau saham tersebut harganya naik Rp 500, maka keuntungan yang sudah Anda peroleh kalau Anda menjualnya kembali adalah Rp 250 ribu, di luar potongan biaya transaksi jual dan pajak.

Cara Memulai Investasi Saham

Untuk memulai berinvestasi di saham, Anda harus mempunyai rekening di satu perusahaan sekuritas. Anda bebas memilih perusahaan sekuritas sesuai kebutuhan Anda. Proses ini sama seperti kita membuka tabungan di bank, yang pilihan banknya dapat Anda tentukan sendiri.

Setiap perusahaan sekuritas menawarkan fee (biaya) atas transaksi beli maupun jual saham yang berbeda-beda. Kisarannya antara 0,2% hingga 0,4% baik untuk transaksi beli maupun jual. Namun syarat umum untuk membuka rekening di perusahaan sekuritas adalah setoran dana dalam nominal tertentu. Tapi jangan takut, itu hanya syarat karena uang yang Anda setorkan bisa digunakan untuk berbelanja saham.

Proses ini sama seperti kita membuka tabungan. Ada bank yang mensyaratkan setoran awalnya Rp 500 ribu atau Rp 100 ribu. Nah jika kita menyetor uang Rp 500 ribu, kita tetap bisa pergunakan dana itu untuk diambil sewaktu-waktu.

Ada perusahaan sekuritas yang mensyaratkan setoran dana dalam nominal tertentu. Biasanya antara Rp 10 juta hingga Rp 30 juta ke atas. Jika syarat setorannya tinggi, biasanya perusahaan sekuritas itu dilengkapi dengan riset dari timnya yang canggih sebagai fasilitas utama yang ditawarkan kepada nasabahnya.

Untuk informasi mengenai daftar perusahaan sekuritas beserta nomor kontaknya, silahkan Anda klik situs http://www.idx.co.id/MainMenu/Brokers/BrokerageProfile/tabid/72/lang/en-US/language/en-US/Default.aspx   Situs ini adalah situs resmi Bursa Efek Indonesia.

Saturday, March 6, 2010

Sumber keuntungan saham

Investasi saham bisa sangat menguntungkan jika kita mengetahui seluk-beluknya. Selain potensi keuntungan yang besar, terkandung risiko besar pula. Harga saham bisa naik dan turun dalam hitungan detik.

Namun jika kita membeli saham perusahaan-perusahaan dengan kinerja (fundamental) yang bagus, niscaya risiko besar itu bisa kita eliminasi. Lalu, apa saja keuntungan yang bisa diberikan dari investasi di saham. Berikut penjelasannya.

Ada tiga sumber keuntungannya:

1. Capital Gain (Kenaikan Harga)

Yaitu keuntungan dari selisih harga beli dan harga jual saham yang kita beli. Contohnya, ketika kita membeli saham perusahaan A dengan harga Rp 2.000 per saham dan kemudian kita jual dengan harga Rp 2.500, maka keuntungan kita Rp 500/saham. Selisih inilah yang disebut Capital Gain dan menjadi sumber keuntungan dari investasi di saham.

2. Dividen
Saham yang kita beli juga bisa memberikan keuntungan berupa dividen. Biasanya perusahaan yang telah menjual sahamnya ke publik (go public), wajib memberikan dividen yang diambil dari sebagian laba bersihnya selama setahun penuh.

Biasanya tidak seluruh keuntungan atau laba bersih perusahaan dibagikan kepada pemegang saham. Besarnya dividen yang Anda terima ditentukan oleh seluruh pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang digelar perusahaan tersebut.

Namun tidak semua perusahaan dapat membagikan dividen, misalkan dalam keadaan rugi. Untuk mendapatkan hak dividen, Anda juga harus memperhatikan masa berlakunya yang dikenal dengan masa cum.


Risiko Investasi Saham

1. Capital Loss
Capital Loss merupakan kebalikan dari capital gain yaitu suatu kondisi dimana Anda menjual saham yang Anda miliki dibawah harga belinya. Misalnya saham PT.ABC Anda beli dengan harga Rp.2.000 persaham, kemudian harga saham tersebut terus turun hingga mencapai Rp.1.400 persaham.

Karena takut harga saham tersebut akan terus turun, maka Anda kemudian menjual pada harga tersebut sehingga Anda mengalami kerugian sebesar Rp.600 per saham. Itulah capital loss yang menimpa Anda.

2. Resiko Likuidasi

Perusahaan yang sahamnya dimiliki, dinyatakan bangkut oleh pengadilan atau perusahaan tersebut dibubarkan. Dalam hal ini hak klaim dari pemegang saham mendapatkan prioritas terakhir setelah seluruh kewajiban perusahaan dapat dilunasi (dari hasil penjualan kekayaan perusahaan). Jika masih terdapat sisa dari hasil penjualan kekayaan perusahaan tersebut, maka sisa tersebut dibagi secara proporsional kepada seluruh pemengang saham.

Namun jika tidak terdapat sisa kekayaan perusahaan, maka pemegang saham tidak akan memperoleh apa-apa. Ini merupakan resiko yang terberat dari seorang pemegang saham. Untuk itu seorang pemegang saham dituntut untuk secara terus menerus mengikuti perkembangan dari perusahaan yang sahamnya dimiliki.