rss
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites

Tuesday, October 5, 2010

JP Morgan Borong 76.760 Lot Saham Alam Sutera

JP Morgan Securities Indonesia memborong 76.760 lot saham Alam Sutera Realty (ASRI). Aksi ini seluruhnya dilakukan oleh investor asing. Harga beli Rp 210 dan Rp 215 dengan porsi paling banyak di harga Rp 210.


Aksi borong paling banyak sebetulnya dilakukan oleh BNI Securities yang membeli saham ASRI sebanyak 106.239 lot. Namun, BNI Securities menjual 39.571 lot sehingga membukukan net selling 66.668 lot, lebih rendah net buying JP Morgan.


Selain melalui JP Morgan, investor asing juga masuk melalui CIMB-GK Securities Indonesia dengan memborong 64.600 lot di harga Rp 211 (di dalamnya juga ada investor lokal CIMB). Dan Credit Suisse Securities Indonesia yang memborong 21.010 lot, sepenuhnya dilakukan investor asing.

Akibatnya, harga saham ASRI naik 7,32% atau Rp 15 menjadi Rp 220, mendekati level tertingginya dalam setahun terakhir, yakni Rp 225.


1
BK
J.P MORGAN SECURITIES INDONESIA
219
76,760
211.38
-
-
-
76,760
76,760
2
NI
BNI SECURITIES
408
106,239
214.54
158
39,571
208.33
66,668
145,810
3
YU
CIMB-GK SECURITIES INDONESIA
463
64,600
211.70
13
3,404
213.13
61,196
68,004
4
CS
CREDIT SUISSE SECURITIES INDONESIA
127
21,010
210.43
-
-
-
21,010
21,010
5
EP
BHAKTI SECURITIES
64
14,055
210.36
15
1,220
211.43
12,835
15,275
81
RB
NIKKO SECURITIES INDONESIA
-
-
-
14
12,000
212.08
-12,000
12,000
82
YP
ETRADING SECURITIES
156
14,998
210.30
298
29,453
212.35
-14,455
44,451
83
KI
CIPTADANA SECURITIES
38
8,646
206.23
94
44,982
211.21
-36,336
53,628
84
OD
DANAREKSA SEKURITAS
47
6,787
211.45
131
53,131
212.78
-46,344
59,918

CLSA Indonesia Borong 126.299 Lot Saham Ciputra Development

Broker CLSA Indonesia memborong 126.299 lot saham Ciputra Development (CTRA). Meski sudah masuk sejak pagi hari, nasabah lokal CLSA Indonesia tidak terlalu ngotot membeli saham CTRA di harga yang tinggi. Mereka hanya membeli di harga Rp 375-380. Namun begitu BI rate diumumkan bertahan di 6,5% sekitar pukul 14:25, CLSA Indonesia langsung memborong saham CTRA di harga Rp 385 hingga berlanjut sampai harga Rp 465.

Akibat aksi ini, harga saham CTRA melonjak 24% atau Rp 90 menjadi Rp 465. Investor asing juga masuk melalui broker UOB Kay Hian Securities dengan membeli 40.083 lot dan melalui JP Morgan Securities Indonesia sebanyak 11.600 lot.


1
KZ
CLSA INDONESIA
693
126,299
421.99
1
2,754
349.00
123,545
129,053
2
AI
UOB KAY HIAN SECURITIES
262
40,083
410.55
38
5,586
407.10
34,497
45,669
3
BK
J.P MORGAN SECURITIES INDONESIA
67
11,600
387.24
-
-
-
11,600
11,600
4
DR
NUSADANA CAPITAL INDONESIA
96
23,930
434.40
43
12,605
421.80
11,325
36,535
5
HD
HORTUS DANAVEST TBK.
46
11,917
411.35
11
4,075
415.37
7,842
15,992
81
PD
INDO PREMIER SECURITIES
117
4,341
408.65
223
17,617
399.04
-13,276
21,958
82
AG
DONGSUH KOLIBINDO SECURITIES
7
422
427.30
21
19,127
425.49
-18,705
19,549
83
ZP
KIM ENG SEKURITAS
14
875
436.06
97
20,795
406.35
-19,920
21,670
84
CC
MANDIRI SEKURITAS
47
2,486
417.67
111
31,145
435.58
-28,659
33,631
  Lihat berita juga:
CIMB-GK Securities Borong 40 Ribu Lot Saham Ciputra Development

BI Rate Tidak Naik, Saham Properti Melonjak

* CTRA paling banyak dibeli oleh CLSA Indonesia (naik 24%)
* ELTY paling banyak dibeli oleh CLSA Indonesia (naik 7,84%)
* LPKR paling banyak dibeli oleh Danareksa (naik 8,33%)
* ASRI paling banyak dibeli oleh JP Morgan (naik 7,32%)



Pengumuman Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan BI rate tetap di 6,5% pada pukul 14:25 langsung direspons oleh para investor dengan memborong saham-saham properti. Akibatnya, beberapa emiten properti naik cukup tinggi, bahkan ada di antaranya yang auto reject.

Kenaikan tertinggi dialami oleh saham Ciputra Development (CTRA) yang melonjak 24% (auto reject) atau naik Rp 90 menjadi Rp 465. Kenaikan ini dimotori oleh CLSA Indonesia yang menjadi broker pemborong terbanyak saham CTRA.

CLSA Indonesia juga menjadi broker pemborong saham Bakrie Development (ELTY) sehingga saham ini naik 7,84% atau Rp 12 menjadi Rp 165. Sedangkan Lippo Karawaci naik Rp 50 atau 8,33% menjadi Rp 650 dengan broker Danareksa Sekuritas pemborong terbanyak. Terakhir, saham Alam Sutera Reality (ASRI) naik 7,32% atau Rp 15 menjadi Rp 220 dengan JP Morgan membeli paling banyak. 


Menariknya, CLSA Indonesia masuk memborong saham CTRA mulai menit 14:35 sama persis begitu BI rate diumumkan bertahan di 6,5%. Hal yang sama juga dilakukan CLSA Indonesia dengan memborong saham ELTY mulai pukul 14:25. Padahal, sebelum pukul 14:25, harga saham CTRA dan ELTY belum naik drastis.

Citi recommends bonds, sees more Indonesia upside

Citigroup's private bank is advising clients to hold more bonds as the outlook for financial markets remain uncertain except for areas such as Indonesia, its head of investment for Asia said on Tuesday.

"Since it is a trading environment... you'll want to have a core portion of your portfolio that is heavy weighted on fixed income so that while markets find a direction, you at least earn an amount of carry along the way," Citi Private Bank's Debashish Dutta Gupta said at the Reuters Global Private Banking Summit.

For conservative investors, Dutta Gupta is recommending they invest about 50 percent of their assets in fixed income, 15-20 percent in equities, 10-15 percent in alternative investments such as hedge funds, and the balance in cash to take advantage of opportunities such as new share or debt issues.

Investors around the world, in particular wealthy clients of private banks, have become increasingly cautious about the global economy and are holding gold to protect themselves against the large amounts of currency being put into the system by Western central banks.
Citi, which manages about $165 billion in its wealth management business in Asia, recommends private banking clients hold bonds of developed countries with longer maturities to take advantage of the higher yields, given that central banks are unlikely to raise interest rates anytime soon.

In the case of emerging market bonds, which allow investors to enjoy higher yields as well as pickup from currency appreciation, bonds should be of shorter duration to minimize the risk of rising interest rates.

BULLISH ON INDONESIA
Turning to Indonesia, Dutta Gupta described the country as a long-term play and said it was not too late for investors to jump onto the bandwagon.

Indonesian stocks have risen over 40 percent so far this year, while the rupiah is up about 5.3 percent against the dollar.
"Throw your mind back to where Brazil was 10 years back when it was just coming out of the hyper-inflationary stage. In the first few years, the markets went up 20-30 percent every year so it was possible to buy the market 100 percent from the low and still make a significant amount of money."

"We like Indonesia very much... Indonesia is a completely different place today than what it was coming out of the Asian crisis," Dutta Gupta said. "We are looking at a very strong growth path."

Dutta Gupta's other recommendations included high-yield U.S. bonds, because corporate debt levels had fallen over the past decade and the risks of default were low, and Asian stocks with high-dividend yields such as Malaysia's BAT (BATO.KL) and Thailand's Electricity Generating PCL EGCO.BK.

He added, however, that it was too late to invest in gold and investors keen on the metal should wait for corrections.

"At these levels, its a little rich in my opinion to chase gold... Fundamentally, the gold bulls have a case and I am on their side, but I debate the entry point." Source: Reuters

Credit Suisse dan RZB Serap 7,06% Saham Baru BUMI US$ 360 Juta

Credit Suisse dan Raiffeisen Zentralbank Osterreich AG (RZB) resmi menyerap seluruh 7,06% saham baru tanpa HMETD PT Bumi Resources Tbk (BUMI) senilai US$ 360 juta. Tidak ada investor asal China yang menyerap saham baru ini seperti dikabarkan sejumlah media sebelumnya.

"Credit Suisse dan RZB adalah 2 pihak yang menyerap saham baru tanpa HMETD senilai US$ 360 juta," ujar Direktur BUMI Dileep Srivastava di Jakarta, Selasa (5/10).

Pernyataan Dileep ini sekaligus membantah rumor yang beredar sebelumnya kalau investor China bernama Shougang International dan JP Morgan Chase Bank telah menyerap saham baru ini.

Menurut Dileep, total saham baru tanpa HMETD yang diterbitkan sebanyak 1.369.400.000 saham atau setara dengan 7,06% dari total saham BUMI.

"Credit Suisse menyerap 608.622.222 saham dan RZB menyerap 760.777.778 saham," ujar Dileep.

Eksekusi pembelian saham baru non HMETD ini dilakukan pada harga yang telah disepakati sebelumnya Rp 2.366 per saham. Total nilainya US$ 360 juta.

"Pencatatan saham baru di Bursa Efek Indonesia (BEI) akan dilakukan pada 5 Oktober 2010 (hari ini)," ujar Dileep.

Saham baru ini juga memiliki lock period selama 1 tahun alias tidak bisa diperjualbelikan selama 1 tahun ke depan.

Penerbitan saham baru ini merupakan bagian dari konversi utang perseroan kepada kreditur yang jatuh tempo tahun ini sebesar US$ 442,78 juta. Dari utang yang jatuh tempo tersebut, dua diantarannya adalah utang jatuh tempo kepada Credit Suisse sebesar US$ 291,37 juta dan JP Morgan sebesar US$ 145,92 juta. Totalnya sebesar US$ 437,29 juta.

Sedangkan utang kepada Raiffeisen sebesar US$ 80,14 juta dan Country Forest (CIC) sebesar US$ 1,9 miliar tidak jatuh tempo tahun ini. Source: Detikfinance

INCO, Emiten Royal Pembagi Dividen

Pada 8 Oktober nanti, pemegang saham PT International Nickel Indonesia Tbk (INCO) akan mendapat kembali dividen sebesar US$ 0,02/saham. Pembayaran akan dilakukan pada 22 Oktober 2010. Demikian pengumuman manajemen INCO pada 16 September 2010.

Dengan pembagian dividen interim ini, maka sepanjang tahun ini saja, pemegang saham INCO sudah mendapat pembayaran dividen dua kali. Dividen pertama dibagikan INCO pada 13 April 2010 (cum dividen 24 Maret 2010) sebesar USD 0,0141/saham. Kemudian pada 22 Oktober nanti (cum dividen 8 Oktober 2010) sebesar US$ 0,02/saham.

Ketika membayar dividen pertama pada April lalu, perseroan mengeluarkan dana US$ 110 juta sebagai dividen final, setelah pada 29 Desember 2009 membagi dividen interim US$ 106 juta. Sedangkan untuk dividen interim tahun buku 2010, perseroan mengeluarkan dana US$ 200 juta.

  Lalu, apakah ada pengaruh pembayaran dividen tersebut dengan pergerakan saham INCO baik sebelum maupun setelah kejadian.
Jenis Dividen              Tanggal cum                  Nilai/saham         Total
Luar Biasa laba 2008   29 Desember 2009          US$ 0,0141        US$ 106 juta
Final 2009                   14 April 2010                 US$ 0,01107       US$ 110 juta
Interim 2010               8 Oktober 2010              US$ 0,02             US$ 200 juta

Lalu, apakah ada pengaruh signifikan rencana pembagian dividen terhadap pergerakan saham INCO. Mari kita lihat.

Ketika diumumkan pada 16 September 2010 bahwa INCO akan membagikan dividen interim 2010 sebesar US$ 0,02/saham atau senilai total US$ 200 juta, harga saham INCO masih bertengger di harga Rp 4.525. Sedangka saat ini sudah tembus Rp 5.000. Ini berarti sudah naik 10,49% dan masih berpotensi naik lagi karena batas akhir hak mendapatkan dividen adalah 8 Oktober 2010 (cum dividen).

Lalu, seberapa besar kenaikannya? Kita lihat pergerakan saham INCO ketika membagi dividen final tahun buku 2009 pada Maret 2010. Ketika diumumkan pada 5 Maret 2010, harga saham INCO berada di posisi Rp 3.975 lalu memasuki masa cum dividen pada 14 April 2010, harganya sudah mencapai Rp 4.950/saham atau terjadi kenaikan 24,5%.


Padahal, dividen yang dibagikan pada Maret 2010 nilainya lebih kecil, yakni US$ 0,01107 atau US$ 110 juta dibandingkan dividen interim 2010 yang akan dibagikan Oktober ini senilai US$ 0,02 atau US$ 200 juta. Harga saham INCO sendiri dalam setahun terakhir bergerak 3.200-5.200.


Selain keuntungan dari pergerakan saham yang naik menjelang pembagian dividen, pemegang saham INCO juga mendapat keuntungan dari dividen itu sendiri. Jika dikonversi ke dalam rupiah dengan kurs Rp 9.000, dividen US$ 0,02 setara dengan Rp 180 atau dividen yield 3,6% dari harga saham INCO saat ini.

Rekomendasi HD Capital, 5 Oktober 2010

Untuk Selasa, 5 Oktober 2010, HD Capital merekomendasikan opsi BUY terhadap tiga saham pilihannya, yakni United Tractors (UNTR), Perusahaan Gas Negara (PGAS), Semen Gresik (SMGR). Sedangkan saham Bumi Resources (BUMI) direkomendasikan Sell.
BUY: (UNTR, PGAS, SMGR) SELL ( BUMI)

  • Kenaikan IHSG ke all time high mendekati level 3.600 rawan profit taking, namun bila terjadi koreksi di-rekomen akumulasi untuk teknikal rebound. 

  • IHSG close (04-10) 3.579.159(+33.294/+0.91%) (Val.Rp.4.2T)

  • Support: 3.500-3.450-3.375, Resistance: 3.575 -3.600-3.640
 
Stock picks:
 
1.    United Tractors (UNTR): (BUY) (Target: Rp 23.000) (close 01/10 Rp 21.150)

  • Pembuktian dari optimisme penjualan alat berat dan spare part Komatsu untuk 2010F dan kontribusi dari unit pertambangan batubara akan mulai terlihat pada laporan keuangan kuartal ketiga (Q3) yang akan dikeluarkan nantinya.

  • Entry: (1) Rp 20.575, Entry (2) Rp 20.050, cut-loss point: Rp 19.500-
  
2.    Perusahaan Gas Negara (PGAS) (BUY): (Target: Rp 4.100) (Close 01/10 Rp 3.850)

  • Kebocoran pipa gas yang sudah diperbaiki, dan kinerja keuangan kuartal ketiga juga di prediksi memberikan efek sentimen positif sehingga masih rekomen akumulasi dalam keadaan yang jenuh jual ini (oversold) untuk technical rally.

  • Entry (1) Rp 3.850, (2) Rp 3.775, Cut loss point: Rp 3.700
  
3.   BUMI Resources (BUMI) (SELL): (Koreksi: Rp 2.000) (Close 04/10 Rp 2.200)

  • Harga teoritis terdilusi pasca ex-rights issue di Rp 1.900 dapat membuat investor mulai melakukan profit taking di BUMI.

  • Pasca rights issue ke CIC, rasio profitabilitas akan berkurang dan valuasi PER menjadi sedikit mahal karena ada penambahan ekuitas, sehingga bila masih ada kenaikan rekomen sell on strength.

  • Exit: (1) Rp 2.250, Exit: (2) 2.350, Reverse posisi: Rp 2.400
  
4.   Semen Gresik (SMGR) (BUY) (Target: Rp 10.450) (close 04/10 Rp 10.100)

  • Permintaan semen yang meningkat dari luar Jawa, pembangunan pabrik baru untuk mendukung expansi, serta valuasi PER 2010 (18x) yang lebih rendah dari SMCB (24x) & INTP (21x), serta ROE 2010 31%, lebih besar dari SMCB (21%) dan INTP (28%) membuat SMGR menarik untuk akumulasi bila terjadi pullback koreksi versus kedua pemain lainnya dalam sektor semen.

  • Entry: (1) Rp 10.000, Entry (2) Rp 9.800, Cut-loss point: Rp 9.650
Dibuat oleh: 
Yuganur Wijanarko
Senior Research HD Capital. (Yuganur@hdx.co.id)

Rekomendasi Beberapa Sekuritas, 5 Oktober 2010


Untuk Selasa, 5 Oktober 2010, empat sekuritas ternama memberikan ulasan mengenai kondisi bursa yang akan terjadi, berikut saham-saham pilihan yang patut dicermati sepanjang perdagangan. Berikut ulasan detailnya.

1. E-Trading Securities
Setelah IHSG menembus level tertinggi pada Senin (4/10), baik intraday maupun penutupan dengan volume yang relatif lebih tinggi dibandingkan  sehari sebelumnya, kami perkirakan indeks cenderung menguat pada kisaran level support 3.514 dan resistance 3.620 hari ini. Saham yang perlu diperhatikan, antara lain UNTR dan BBRI.

2. Trimegah Securities
Rally IHSG kembali berlanjut didukung penguatan beberapa saham unggulan kemarin. Indeks berpeluang menguji level 223,6% fibonacci projection sebagai level resistensi pada kisaran 3.595-3.600. Namun dengan stochastic di area overbought, indeks juga mulai rawan tekanan jual. IHSG hari ini bergerak di kisaran 3.546-3.593. Saham pilihan INCO dan UNVR.

3. Sucorinvest Central Gani
IHSG ditutup menguat 22,38 poin menjadi 3.569,50 Senin lalu, ditopang kenaikan saham barang konsumsi, infrastruktur, properti, dan perdagangan, di tengah penguatan indeks bursa regional. Broker asing net buying Rp 533 miliar. IHSG mixed dengan peluang sama menguat dan profit taking di kisaran 3.547-3.594 hari ini. Buy ASII, BBRI, INTP, UNTR, UNVR, dan WIKA.

4. Sinarmas Sekuritas
Potensi IHSG untuk mencatatkan level tertinggi terbaru pada perdagangan hari ini masih sangat terbuka. Pasalnya, capital inflow dana asing diduga berlanjut. Rentang gerak IHSG ada dalam kisaran 3.541-3.600. Perhatikan saham PTBA, JSMR, dan AGRO.