rss
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites

Monday, September 27, 2010

CLSA dan Macquarie Borong Saham Adaro Energy

CLSA Indonesia menyapu bersih saham Adaro Energy (ADRO) dengan memborong 50.277 lot di harga Rp 2.074, tanpa menjual sama sekali saham ini. Aksi serupa juga dilakukan oleh investor asing melalui Macquarie Securities Indonesia yang membeli 24.200 lot (Rp 2.055).

Bahana Securities turut membeli 48.507 lot di harga Rp 2.051 dan berada di posisi kedua broker pemborong terbanyak saham ADRO.

Investor asing tampak masuk juga melalui broker UBS Securities Indonesia yang membeli 16.359 lot di harga Rp 2.055.

Sedangkan aksi jual dilakukan oleh broker Lautandhana Securindo sebanyak 51.401 lot di harga Rp 2.060. Broker asing tampak menjual saham ini melalui broker Merrill Lynch Indonesia sebanyak 24.165 lot (Rp 2.055) dan BNP Paribas Peregrine 17 ribu lot (Rp 2.052).

Analis Senior HD Capital Yuganur Wijanarko melihat, harga saham ADRO masih berpotensi naik 15% hingga akhir tahun dibandingkan BUMI yang peringkatnya masih negative outlook oleh Moodys karena besarnya utang yang dimilikinya.

Harga saham ADRO naik Rp 50 menjadi Rp 2.075.


1
KZ
CLSA INDONESIA
565
50,277
2,074.91
-
-
-
50,277
50,277
2
DX
BAHANA SECURITIES
482
48,507
2,051.99
17
1,350
2,054.17
47,157
49,857
3
RX
MACQUARIE SECURITIES INDONESIA
129
24,200
2,055.17
-
-
-
24,200
24,200
4
LG
TRIMEGAH SECURITIES TBK.
151
17,052
2,051.44
66
2,398
2,061.39
14,654
19,450
5
AK
UBS SECURITIES INDONESIA
95
16,359
2,055.55
28
6,009
2,049.93
10,350
22,368
6
YU
CIMB-GK SECURITIES INDONESIA
92
10,592
2,060.64
15
1,721
2,058.37
8,871
12,313
94
YP
ETRADING SECURITIES
110
1,533
2,053.21
425
7,990
2,057.02
-6,457
9,523
95
BW
BNP PARIBAS PEREGRINE
2
134
2,075.00
62
17,000
2,052.94
-16,866
17,134
96
ML
MERRILL LYNCH INDONESIA
27
452
2,050.61
45
24,165
2,055.17
-23,713
24,617
97
YJ
LAUTANDHANA SECURINDO
1
50
2,050.00
109
51,401
2,060.11
-51,351
51,451

Broker Sinarmas Mulai Lepas Saham Bumi Resources

Investor asing melalui broker Deutsche Securities Indonesia memborong 96.647 lot saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) di harga rata-rata Rp 2.278 dan hanya menjual 2.950 lot saja. Broker Danatama yang Jumat pekan lalu masuk di menit-menit terakhir perdagangan, sehingga terlihat seolah-olah menjaga agar BUMI tidak turun, kini melakukannya kembali.

Broker ini masuk dua tahap, yakni pada pukul 13:58 dan pukul 15:54-15:59 di harga Rp 2.275.


Sedangkan broker penjual terbanyak saham BUMI adalah UBS Securities, yang melepas 31.000 ribu. Broker Sinarmas yang sejak di harga Rp 1.300-1.600 memborong saham BUMI, mulai melepas saham milik Grup Bakrie tersebut. Hari ini, Sinarmas melepas 24.429 lot. Aksi jual ini dilakukan oleh investor lokal Sinarmas, dan belum ada tanda-tanda investor asing Sinarmas melepas besar-besaran saham BUMI.


Investor asing juga tampak melepas saham BUMI melalui DBS Vickers Securities Indonesia sebanyak 21.475 lot di harga Rp 2.279. Akibat tekanan jual ini, harga saham BUMI hanya sanggup naik Rp 25 menjadi Rp 2.275.



1
DB
DEUTSCHE SECURITIES INDONESIA
609
96,647
2,278.62
6
2,950
2,273.14
93,697
99,597
2
KS
KRESNA GRAHA SEKURINDO TBK.
304
58,151
2,291.64
52
4,174
2,282.15
53,977
62,325
3
AD
KAPITA SEKURINDO
267
32,002
2,293.36
3
1,235
2,325.00
30,767
33,237
4
ZP
KIM ENG SEKURITAS
183
38,348
2,298.10
145
20,109
2,286.86
18,239
58,457
5
KK
PHILLIP SECURITIES INDONESIA
112
12,916
2,276.60
101
2,940
2,275.51
9,976
15,856
6
II
DANATAMA MAKMUR
136
11,000
2,275.00
7
1,281
2,311.14
9,719
12,281
104
AI
UOB KAY HIAN SECURITIES
57
7,213
2,297.32
153
23,183
2,272.07
-15,970
30,396
105
FS
AMCAPITAL INDONESIA
88
5,705
2,275.12
230
24,636
2,269.66
-18,931
30,341
106
DP
DBS VICKERS SECURITIES INDONESIA
-
-
-
92
21,475
2,279.06
-21,475
21,475
107
DH
SINARMAS SEKURITAS
48
1,887
2,276.91
131
24,429
2,304.98
-22,542
26,316
108
AK
UBS SECURITIES INDONESIA
-
-
-
50
31,000
2,281.45
-31,000
31,000
Broker Danatama (kode II) masuk dua tahap pukul 13:58 dan 15:54-15:59



Lihat berita:
Danatama Angkat Saham Bumi Resources


Harga IPO Tower Bersama Rp 1.675 - 2.100

PT Tower Bersama Infrastructure, perusahaan menara telekomunikasi menawarkan harga saham perdana (Initial Public Offering) pada level Rp 1.675-2.100. Dana yang dibidik sebesar Rp 1,264 - 1,585 triliun.

Demikian hasil due diligence meeting dan public expose perseroan di Hotel Ritz Carlton, Pacific Place, SCBD Jakarta, Senin (27/9).

Perseroan berencana bakal melepas 755 juta saham ke publik, atau setara dengan 15,86% dari total saham yang dicatatkan. Ditargetkan pelaksanaan listing perdana akan dilaksanakan pada 26 Oktober 2010.

Tower Bersama telah menunjuk Indopremier Securities dan UBS Securities sebagai penjamin emisi. Perseroan juga menyiapkan opsi green shoe (penjatahan lebih) sebesar 113,25 juta saham (2,38%). Opsi ini dilakukan agar harga saham stabil dalam waktu 30 hari setelah listing perdana.

Sementara itu, perseroan juga akan melakukan penawaran terbatas (private placement) sebanyak 339.750.000 saham (7,14%) oleh pemegang saham perseroan, yaitu PT Provident Capital Indonesia (PCI) dan PT Wahana Anugerah Sejahtera (WAS).

Total saham yang akan dilepas (IPO, private placement dan greenshoe) sebanyak 1.208.000.000 saham (25,38%). Total dana yang akan diperoleh, mengacu pada harga tersebut berkisar antara Rp 2,023 - 2,536 triliun.

Hasil perolehan dana IPO, sebanyak 70% akan digunakan untuk belanja modal dalam rangka membangun sites telekomunikasi menara yang telah ada. Sisanya, sebagai dana akuisisi dalam rangka perluasan dan penambahan portofolio menara telekomunikasi peseroan.

Tower Bersama berdiri sejak berdiri tahun 2004 dengan memiliki dan mengoperasikan 2.600 site BTS dengan lebih dari 4.000 tenant.

Target efektif IPO ini akan diperoleh pada 14 Oktober 2010, dengan masa penawaran pada 18-20 Oktober 2010. Sedangkan untuk tanggal penjatahan di 22 Oktober 2010, dan distribusi saham secara elektronik 25 Oktober 2010. Source: Detikfinance

Saat ini pemegang saham TBI terdiri atas:


* Provident Capital 1.164.350.000 saham (29,07%).
* Wahana Anugerah Sejahtera 1.164.350.000 saham (29,07%).
* Saratoga Infrastruktur 1.176.888.889 saham (29,38%).
* Edwin Soeryadjaya 166.666.667 saham (4,16%).
* Winato Kartono 166.666.667 saham (4,16%).
* Sandiaga Salahudin Uno 83.333.333 saham (2,08%).
* Hardi Wijaya Liong 83.333.333 saham (2,08%).


Usai rangkaian aksi IPO, beserta private placement dan greenshoe, pemegang saham TBI akan menjadi:


* Provident Capital 1.164.350.000 saham (19,70%).
* Wahana Anugerah Sejahtera 1.164.350.000 saham (19,70%).
* Saratoga Infrastruktur 1.176.888.889 saham (24,72%).
* Edwin Soeryadjaya 166.666.667 saham (3,50%).
* Winato Kartono 166.666.667 saham (3,50%).
* Sandiaga Salahudin Uno 83.333.333 saham (1,75%).
* Hardi Wijaya Liong 83.333.333 saham (1,75%).
* Masyarakat 1.208.000.000 saham (25,38%).

Rekomendasi HD Capital, 27 September 2010

Hari ini, Senin 27 September 2010, HD Capital merekomendasikan opsi Buy terhadap tiga saham pilihan, yakni Indofood Sukses Makmur (INDF), Bank BJB (BJBR), dan Bank Bukopin (BBKP). Sedangkan satu saham, yakni PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) direkomendasikan Sell.
* IHSG akan terimbas sentimen positif dari Dow namun dianjurkan untuk take profit di beberapa saham yang telah naik cukup banyak dan beralih ke beberapa pilihan di bawah ini yang belum mengikuti rally.

* Pasar masih optimistis akan data inflasi bulan September yang lebih rendah dan potensi BI rate tetap pada meeting awal Oktober sehingga bila ada pullback koreksi minor rekomen akumulasi.

*IHSG close (24-09) 3.397.670(+60.41/+1.81%) (Val.Rp.4.9T)

*Support: 3.380-3.340-3.310, Resistance: 3.450-3.500-3.550

Stock picks:

1. Indofood (INDF): (BUY) (Target: Rp 6.000) (close 24/09 Rp 5.450)

* Sentimen positif dari IPO CPB prima (mie instan), penguatan rupiah yang dapat memperbaiki marjin, serta data inflasi rendah dapat dijadikan alasan untuk akumulasi di INDF bila terjadi pullback koreksi minor ke Rp.5.250-5.000.

* Ketakutan pasar bahwa Indofood akan kehilangan revenue dari unit mie instan kurang beralasan karena kontribusi dari unit CPB prima tidak terlalu besar untuk merubah margin bottom line.

* Entry: (1) Rp 5.250, Entry (2) Rp 5.100, cut-loss point: Rp 4.950

2. PT Bukit Asam (PTBA) (SELL): (Koreksi: Rp 18.500) (Close 24/09 Rp 19.900)

* Sentimen positif dari proyek rel kereta api & earnings upgrade sudah cukup tercermin dalam kenaikan harga, rekomen take profit dalam keadaan pasar yang mulai jenuh beli dan menunggu pullback selanjutnya untuk masuk kembali.

* Exit (1) Rp 21.500, (2) Rp 22.500, Reverse posisi: Rp 23.500

3. Bank Jawa Barat (BJBR) (BUY) (Target: Rp 1.700) (Close 24/08 Rp 1.510)

* Rasio profitabilitas ROE & NPM tinggi (di atas 25%), kredit tersalurkan hingga 80% dan memiliki portofolio pinjaman (kredit) terbesar kedua setelah BBRI merupakan alasan untuk pemain UKM mikro mencetak new high baru.

* Entry: (1) Rp 1.475, Entry: (2) 1.400, Cut loss point: Rp 1.325

4. Bank Bukopin (BBKP): (BUY) (Target: Rp 780) (close 25/09 Rp 730)

*Walaupun ada sentimen negatif dari kemungkinan akuisisi oleh BBRI & Jamsostek di harga diskon, namun valuasi PER/PBV merupakan termurah di sektor pemain UKM mikro perbankan sehingga bila ada koreksi tidak akan signifikan untuk merubah overall tren.

* Entry: (1) Rp 720, Entry (2) Rp 700, Cut-loss point: Rp 680

Dibuat oleh:
Yuganur Wijanarko
Senior Research HD Capital. (Yuganur@hdx.co.id)

Rekomendasi Beberapa Sekuritas, 27 September 2010


Untuk perdagangan awal pekan ini, Senin 27 September 2010,  tiga sekuritas ternama memberikan ulasan soal kondisi bursa yang akan terjadi, termasuk saham-saham pilihan yang patut dicermatin oleh para investor.

1. Trimegah Securities
Rebound yang terjadi pada sebagian besar saham unggulan menjadi katalis bagi penguatan IHSG pada Jumat (24/9), didukung kenaikan terutama oleh saham sektor pertambangan, konsumsi, dan sektor keuangan, masing-masing di atas 2%. Namun, investor patut mewaspadai adanya tingkat  volatilitas pasar yang masih cukup tinggi. Pergerakan indeks hari ini akan berada di kisaran 3.353-3.421. Saham pilihan BBRI dan UNVR.

2. Kresna Securities
Rebound sektor perbankan membuat IHSG kembali menguat kemarin. Meskipun berpotensi menguat, sentimen regional yang masih cenderung sideways dapat memicu aksi profit taking. Hari ini, IHSG diperkirakan menguji level baru dan bergerak di kisaran 3.360-3.450. Saham pilihan  BMRI dan PGAS.

3. Sinarmas Sekuritas
Aksi asing berburu saham dan net buying Rp 475 miliar di Bursa Efek Indonesia berhasil mengangkat IHSG ke teritori positif. Namun, investor perlu mewaspadai kemungkinan ambil untung pemodal hari ini, mengingat sebagian besar saham sudah jenuh beli. Indeks tengah menguji resitance level 3.418. Saham pilihan BMRI, BBNI, dan BBRI.





Sunday, September 26, 2010

Palm Oil May Drop 7.4% as Output, Reserves Climb, Godrej's Mistry Predicts

Palm oil may tumble as much as 7.4 percent by the end of October as Malaysian production rebounds and Indonesian growers speed up shipments because of an export tax, according to Godrej International Ltd. 

Futures may decline by 150 ringgit ($48) to 200 ringgit a metric ton, Dorab Mistry, a director at Godrej, told an edible oils conference in Mumbai today. The company is one of India’s biggest buyers of cooking oil. 

Palm oil has jumped 19 percent from an eight-month low on July 7 on optimism consumption will increase in Asia because of festivals and excess rainfall may disrupt harvests in Malaysia and Indonesia, the top producers. Malaysian inventories climbed 23 percent to 1.72 million tons in August from July, the country’s palm oil board said Sept. 15. 

“Malaysian month-end stockpiles will rise and prices will need to go lower,” he said. Prices may remain “sideways with a lower bias for the next four to six weeks.” Mistry has traded vegetable oils for more than three decades. 

The December-delivery contract gained 2.1 percent last week to 2,701 ringgit a metric ton ($873) on the Malaysia Derivatives Exchange, advancing for a fourth straight week. 

Futures may trade between 3,000 ringgit and 3,200 ringgit by January as India and China, the biggest consumers, begin to rebuild inventory, said Mistry, who correctly forecast in March that palm oil would rise in the second half. He said prices may trade between 3,000 ringgit and 3,200 ringgit after June. 

“We have seen in history that every El Nino-inspired bull market has been followed by a very cruel bear market,” Mistry said, referring to the dryness caused by El Nino and higher- than-normal rainfall brought on by La Nina. “El Nino has been followed almost immediately by a La Nina” this year, impeding a recovery in global oilseed and oil output, he said.
Harvests 

Production in Malaysia will drop 2 percent to 17.2 million tons this year and output in Indonesia may expand 500,000 tons, Mistry said. Malaysia may produce 17.8 million tons, Plantation Industries and Commodities Minister Bernard Dompok said at the conference Sept. 24. Indonesia said Aug. 12 that production may fall to 19 million and 20 million tons, from 21 million in 2009. 

Global vegetable-oil demand will increase by 4.5 million tons in the year beginning Oct. 1, exceeding the 3.8 million tons increase in supply, Mistry said. 

India’s vegetable oil imports may increase to 9.3 million to 9.5 million tons in the year beginning Nov. 1 from 9 million tons this year, he said. Purchases will include 7.2 million tons of palm oil, 1.5 million tons of soybean oil and 400,000 tons of sunflower oils, Mistry said. 

“Production of oilseeds will recover somewhat but as I’ve said previously, Indian production is now largely irrelevant and will constitute a smaller and smaller proportion of consumption with each passing year,” he said. “China has gone this way and India is simply following a well-trodden path.” 

Expensive
Soybean oil prices will trade “sideways” to “slightly” lower for the next four to six weeks and the vegetable oil may become more expensive than palm oil, he said. Argentine soybean oil prices may reach $1,050 a ton free-on-board by January. 

Soybean oil’s premium over palm oil widened to $116.32 a ton on Sept. 24, the most since July 13, Bloomberg data show. 

Sunflower oil prices will exceed $1,200 a ton free on board as dry weather in Russia and Ukraine damage oilseed crops, while canola oil may climb closer to $1,200 a ton in the first quarter of next year, he said.Source: Bloomberg

Reliance Builds Indonesia Rail Lines to Move Coal to Ports, Standard Says

Reliance Power Ltd., is speeding up the construction of railway lines from coal mines to ports in Indonesia’s South Sumatra region, the Business Standard reported, citing an unidentified official at the Indian company. 

Coal from the mines, which are owned by a Reliance subsidiary, is meant for the company’s proposed power plant in Krishnapatnam town, southern India.Source: Bloomberg

Merger Tri Polyta dan Chandra Asri Ciptakan Aset US$ 1,48 Miliar

Pengusaha papan atas Prajogo Pangestu sedang melakukan penggabungan usaha (merger) dua perusahaan miliknya, PT Tri Polyta Indonesia Tbk (TPIA) dengan PT Chandra Asri. Perusahaan baru akan menyandang nama baru yakni PT Chandra Asri Petrochemical Tbk.

"Penggabungan ini menggunakan mekanisme share swap," ungkap salah seorang sumber, di Jakarta, Minggu (26/9).

Menurut sumber tersebut, proses merger tengah berlangsung dan diharapkan segera rampung dalam waktu dekat. Rencananya, perseroan akan menggelar RUPS untuk meminta persetujuan pemegang saham pada 27 Oktober 2010.

Saat ini, nilai aset TPIA sebesar US$ 280 juta, sedangkan Chandra Asri sebesar US$ 1,2 miliar. Penggabungan ini akan menghasilkan perusahaan dengan aset US$ 1,48 miliar atau sekitar Rp 14 triliun yang merupakan aksi korporasi pasar modal terbesar tahun ini.

"Perusahaan hasil merger dengan nama baru Chandra Asri Petrochemical ini efektif berlaku 1 Januari 2011," jelasnya.

TPIA dan Chandra Asri merupakan anak usaha PT Barito Pacific Tbk (BRPT). BRPT menguasai 77,93% saham TPIA, sedangkan BRPT menguasai 70% di Chandra Asri. Merger ini akan menciptakan efisiensi usaha di kedua perusahaan. Chandra Asri merupakan pemasok bahan baku TPIA. Source: Detikfinance

Tri Polyta to buy Chandra Asri in $1.2 bln share deal


Tri Polyta Share Up Rp 200 to Rp 3.250
PT Tri Polyta Indonesia (TPIA), the country's largest manufacturer of polypropylene resins, said on Saturday it will acquire petrochemical firm PT Chandra Asri in a share-swap deal worth about $1.2 billion.

The combined companies, both of which are controlled by Indonesian tycoon Prajogo Pangestu through holding company PT Barito Pacific (BRPT), will create Indonesia's biggest listed petrochemical firm.

"We expect the deal to be completed by January 1 2011," said Suryandi, a director at Tri Polyta.




Barito share up Rp 30 to Rp 1,240 on Friday
Barito Pacific owns 77.9 percent of Tri Polyta as well as 70 percent of Chandra Asri. Barito will own a 71.6 percent stake of the combined firm after the deal.

Suryandi said Tri Polyta will issue 2.93 billion new shares to Chandra Asri's shareholders in exchange of the firm's $1.2 billion assets.

He declined to give an indicative price for the new shares. A source close to the deal, who declined to be identified, said the company may offer the shares at 3,579 rupiah, a 10 percent premium to the firm's closing price on Friday and valuing the deal at 10.5 trillion rupiah ($1.17 billion).

The company has appointed Deutsche Bank (DBKGn) and Singapore's DBS Group (DBSM) as advisors for the deal. ($1=8953 Rupiah). Source: Reuters

Bos BUMI Jadi Ketua Umum Kadin Hingga 2015

Presiden Komisaris PT Bumi Resources Tbk (BUMI) Suryo B Sulisto terpilih menjadi Ketua Umum Kadin periode 2010-2015 mengalahkan 4 pesaingnya dalam pertarungan selama 2 hari dalam Munas VI Kadin.

Suryo masuk putaran II voting pemilu Kadin bersama Wisnu Wardhana yang meraih suara terbesar kedua dalam voting putaran pertama yang dilaksanakan di JCC, Jakarta, Sabtu (25/9).

Dalam putaran kedua, dari 129 suara, Suryo memperoleh 89 suara sementara Wisnu Wardhana meraih 40 suara.

Saat ini Suryo masih duduk sebagai Presiden Komisaris BUMI. Pria kelahiran 11 Februari 1947 ini merupakan tokoh kawakan di BUMI karena telah menjadi Presiden Komisaris sejak 2001. 

50 Tahun Dekat dengan Ical
Sebelumnya, pada awal Juli lalu, Suryo B Sulistio menegaskan, pencalonan dirinya menjadi Ketua Umum Kadin tidak ada kaitannya dengan kepentingan politik tahun 2014.

Ia menegaskan kedekatannya dengan Aburizal Bakrie (Ketum Golkar) sudah terbangun sejak 50 tahun lalu sebagai sebuah fakta.

"Kedekatan saya dengan Pak Ical teman sejak kecil, sejak taman kanak-kanak, sudah 50 tahun kenal, orang tua kita juga kenal baik," kata Suryo dalam acara bincang-bincang dengan wartawan, di Hotel Sultan, Jakarta, ketika itu.

Menurut Suryo, Kadin sebagai sebuah organisasi wadah pengusaha harus independen, kadin bukanlah partai politik. "Kalau menyangkut 2014, belum pernah tuh Pak Ical mengatakan mau maju 2014, ini jujur," tegasnya.

Suryo juga mengatakan, dengan usianya 68 tahun saat ini, niatan maju jadi Ketum Kadin murni untuk mengabdi. Bahkan kata dia, tak terbesit olehnya untuk menjadi seorang menteri jika menang dalam pemilihan Ketum Kadin.

"Ah nggaklah, saya sudah 68 tahun mau ngapain lagi," katanya.

Saat ini kata dia, dirinya sudah tak aktif dalam bisnis, semua bisnisnya ia sudah serahkan kepada anak-anaknya. "Kalau saya terpilih sebagai Ketum Kadin, 100% waktu saya untuk Kadin," katanya.

Ia menambahkan sebagai wadah organisasi pengusaha, Kadin harus menjadi mitra yang efektif terhadap pemerintah. Hal ini penting, agar pemerintah sebagai pembuat kebijakan bisa menghasilkan regulasi yang efektif.

"Jadi bisa bermanfaat bagi pembuat kebijakan, jika kebijakan itu keluar bisa business friendly," jelasnya.

Ia mengakui untuk bisa mencapai hal itu perlu usaha yang keras bagi Ketum Kadin mendatang, termasuk melakukan lobi-lobi yang tajam kepada pemerintah.

"Tidak mudah memang kita untuk mempengaruhi pemerintah, ini pun sudah dilakukan Kadin sekarang, meski hasilnya kurang sesuai harapan. Yang perlu ditingkatkan lobi kita," katanya. Source: Detikfinance

Saturday, September 25, 2010

Siklus Ekonomi dan Pilihan Alokasi Saham

Perkembangan harga saham suatu emiten maupun bursa saham, apakah naik atau turun, sangat ditentukan oleh berbagai faktor, baik ekonomi domestik maupun global. Oleh karena itu, selain memperhatikan dan mencermati tren ekonomi domestik, seperti suku bunga, inflasi, situasi politik, maupun perkembangan ekonomi global, seperti harga minyak, suku bunga The Fed, tren mata uang negara utama seperti dolar AS, Euro, Yen, dan Yuan, kita juga bisa mencermati apa yang dinamakan siklus ekonomi.
Banyak ekonom percaya bahwa ekonomi memiliki suatu siklus tertentu seperti roda yang berputar. Yah, mirip dengan roda kehidupan manusia. Ada saatnya makan dan kerja pada pagi hingga sore hari sehingga ekonomi bergerak dinamis dan ada saatnya manusia tidur di kala malam, sehingga ekonomi berhenti sejenak.

Demikian pula ekonomi, ada saatnya resesi, ada saatnya pulih dari krisis/resesi. Setiap siklus ekonomi tentu saja mempengaruhi perkembangan emiten di bursa saham.

Siklus ekonomi/bisnis adalah suatu fenomena yang telah diketahui dengan sangat baik, dari siklus bisnis dan pereknomian dapat dianalisa interrelasi dan perilaku antara pasar-pasar keuangan pada situasi perekonomian yang berbeda-beda. Secara umum, kondisi resesi perlahan-lahan akan diikuti dengan ekspansi ekonomi seiring dengan upaya-upaya pemerintah untuk bankit dari kondisi resesi dan mempertahankan ke arah pertumbuhan ekonominya, demikian selanjutnya ekspansi ekonomi dikuti dengan kondisi resesi. Siklus bisnis tersebut berdampak berbeda-beda terhadap pasar keuangan, sehingga untuk kemudahan analisa antar-pasar dapat dibagi paling tidak ada enam titik balik atau stage perkembangan pasar disesuaikan dengan siklus bisnis/ekonomi yang terjadi.

Stage I: Awal Resesi

Stage pertama adalah Awal Resesi, pada umumnya stage ini ditandai dengan mulai melemahnya aktivitas ekonomi suatu negara atau global, kecenderungan tekanan inflasi tinggi harus diantisipasi dengan menaikkan tingkat suku bunga. Pada saat kondisi ini, kecenderungan pasar yang Bullish adalah Pasar Uang (terutama instrumen kas), dan Pasar Obligasi, sedangkan pasar yang cenderung Bearish adalah Pasar Saham dan Pasar Komoditas. 

Alokasi aset lebih difokuskan pada alokasi instrument kas secara substantial dengan jangka waktu yang pendek-pendek. Stage ini juga merupakan waktu yang cukup tepat untuk mulai membeli/mengakumulasi obligasi-obligasi kualitas tinggi, terutama yang memiliki rating “Investment Grade” dan mengurangi/menjual obligasi-obligasi dengan kualitas rendah, yang pada stage ini menjadi berisiko tinggi. Secara umum untuk alokasi saham mulai dikurangi, dan masih berinvestasi pada saham sektoral yang depensif, dan saham sektoral yang sensitif terhadap suku bunga seperti saham perbankan (untuk antisipasi penurunan suku bunga).

Stage II: Resesi

Sebagaimana dialami oleh Amerika Serikat dan negara-negara lain di dunia saat ini sedang memasuki Stage Resesi. Pada stage Resesi ditandai dengan penurunan tajam suku bunga untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, tekanan inflasi mulai mereda atau mulai hilang, pasar saham sudah mencapai titik terendahnya dan sedang memasuki periode peningkatan yang cukup substantial (bull phase). Karena kondisi rendahnya tingkat suku bunga dan mulai bullish-nya pasar saham maka untuk strategi aset alokasi dinamis, merupakan waktu yang tepat untuk merotasi portfolio investasi dari instrumen-instrumen kas ke pasar saham. 

Sementara itu untuk obligasi, pada stage ini masih melanjutkan periode kenaikan (bull phase) meskipun potensi keuntungan dengan memegang obligasi cenderung menurun secara progresif. Pada saat kondisi ini mungkin tepat juga untuk sedikit menambah eksposur obligasi yang lebih berisiko seperti corporate bond dalam portofolio. Secara umum Bullish: Obligasi dan Saham; Bearish: Komoditas.

Stage III: Akhir dari Resesi, awal Pertumbuhan

Stage awal Pertumbuhan adalah stage yang sedang kita tunggu-tunggu saat ini!. Pada stage ini kecenderungan pasar yang Bullish adalah Obligasi, Saham, dan Komoditas. Untuk alokasi aset, mengurangi instrumen kas dan dapat dikurangi hingga batas minimum dalam portofolio karena turunnya suku bunga jangka pendek, Hampir semua pasar modal maupun pasar komoditas mengalami kenaikan, harga-harga komoditas mulai bergerak naik. Obligasi mulai memasuki fase akhir dan harga Obligasi berkualitas rendah juga masih relatif menarik, dan merupakan waktu yang tepat untuk mulai mengurangi porsi obligasi dalam portofolio. 

Pada stage ini yang sangat bagus adalah Pasar Saham dengan overweight pada saham sektor energi dan pertambangan, bahkan saham dengan beta tinggi sekalipun merupakan investasi yang bagus. Komoditas menjadi sangat menarik, karena naiknya produksi seiring meningkatnya pertumbuhan ekonomi akan mendorong meningkatnya permintaan terhadap bahan-bahan mentah (raw material). Di samping itu investasi pada emas, dan perak akan memungkinkan investor untuk memagari potensi tekanan inflasi yang timbul diakibatkan karena efek pertumbuhan tinggi.

Stage IV: Pertumbuhan

Pada stage ini kecenderungan pasar yang Bullish adalah Saham, Komoditas, dan pasar yang Bearish adalah Obligasi. Suku bunga sudah mencapai level terendahnya dan harga-harga obligasi dan pasar uang mencapai puncaknya. Obligasi mulai memasuki fase penurunan, karena investor mulai melakukan aksi ambil untung dan mengurangi porsi dalam portofolionya .

Adapun saham-saham yang sensitif terhadap suku bunga mengalami kenaikan puncaknya pada saat awal stage ini. Seperti saham perbankan, saham automotif, semen, dan Properti. Pada kondisi ini akan lebih baik investasi saham di rotasi ke saham-saham yang memiliki fundamental bagus seperti saham-saham yang memiliki valuasi atraktif.

Stage V: Akhir dari Pertumbuhan

Pada stage ini biasanya Bullish untuk Komoditas, dan Bearish untuk Obligasi dan Saham. Perekonomian mencapai titik puncaknya yang mulai mendorong naiknya tingkat suku bunga dan meningkatnya tekanan inflasi. Untuk aset alokasi sebaiknya mulai menjual Obligasi dan Saham dan seluruh proceed dari penjualan obligasi dan saham tersebut digunakan untuk membeli instrument-instrumen fixed income jangka pendek. Investasi pada obligasi menjadi kurang menarik dan harus dikurangi, dan obligasi yang dimiliki harus yang memiliki kualitas tinggi untuk meminimisasi potensi default. 

Pada stage ini sebaiknya kita mulai identifikasi langkah-langkah untuk mengurangi alokasi pada saham. Namun demikian tidak semua saham berada di level puncaknya, karena beberapa saham yang memiliki earnings bagus dan saham-saham yang sensitif terhadap inflasi masih berada di bawah titik puncaknya. Komodoitas menjadi satu-satunya pasar yang masih dalam bull fase yang sangat memungkinankan untuk memproteksi inflasi, terutama komoditas baha baku, logam (emas), perak, nikel, batubara dll

Stage VI: Penurunan Pertumbuhan dan awal Resesi

Stage penurunan pertumbuhan dan awal dari resesi biasanya ditandai oleh Bearish-nya Obligasi Saham dan Komoditas. Pada stage ini semua pasar mengalami penurunan dan cash is the king!. Investasi yang likuid dan berjangka pendek menjadi sangat menarik karena suku bunga mencapai titik tertinggi sementara semua pasar yang lainnya sedang turun. Pasar obligasi sudah mulai mendekati titik terendahnya sehingga investor sudah dapat mengakumulasi Obligasi untuk antisipasi jika terjadi bull market. 

Pembelian Obligasi sebaiknya yang memiliki tenor jangka lebih pendek untuk melindungi portofolio dari capital depreciation karena antisipasi terhadap tingginya suku bunga.

Ditulis oleh Fendi Susiyanto
Analis pasar modal dan perbankan


Bank Negara Indonesia Rated New "Buy" at DBS Vickers

PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) was rated new "Buy" at DBS Vickers by equity analyst Sue Lim. 



The 12 month target price is IDR 4.500 per share.